Game Wahana Surfing: What I’ve Been Through and CoC Ibu Profesional

Pertama tahu bahwa CoC Ibu Profesional akan dibahas lagi, langsung keinget ebook dengan halaman yang sebenernya terhitung puluhan tapi berisi paragraf-paragraf panjang rumit bak undang-undang negara. It turns out fun surprisingly, thanks to mba Kasihani dan mba Ratna from Ibu Profesional Yogyakarta who make every single stuff about CoC sounds interesting. Terutama di bagian yang kata beliau berdua banyak pro dan kontra di awal CoC muncul.

I’m not going to write long about the pros and cons. But I must admit after I read an old blog post, the quarrel about CoC got pretty hot hoho. Jadi pada penasaran kan sekarang sebenarnya CoC Ibu Profesional itu kaya gimana.

CoC Ibu Profesional

CoC punya kepanjangan Code of Conduct. Di bawah aku share CoC Ibu Profesional yang aku catat sendiri biar gampang ingat di kepala. Intinya ada adab-adab menuntut ilmu, berusaha bisa aktif bersungguh-sungguh waktu kelas live dan mengerjakan tugas, dan punya manner yang baik saat berbagi ilmu apa aja yang kita dapat di media sosial.

Gimana abis baca CoC-nya? Biasa aja kan yaa. Jelas banget CoC dibuat untuk menjaga para students yang notabene para makhluk venus ini agar fokus belajar aja, nggak mudah terbawa perasaan.

Kenapa jadi bawa-bawa baper?

Well kalau kita mengabaikan salah satu CoC, misalkan salah satu adab menuntut ilmu yaitu memperbesar kapasitas dan melegawakan hati, ilmu dari fasil tidak akan berkah bermanfaat. Atau misalkan niat kita melenceng, bukan buat belajar tapi ada modus lain. Yasudah modus lain itu yang kita dapat. Ilmunya good bye, the end. Sayang banget.

Padahal kita pengennya dengan ilmu itulah suami dan anak-anak akan merasakan ademnya peran kita sebagai ibu di rumah.

Jadi pelanggaran CoC ini ibarat konsekuensi langsung. Ibu Profesional will not punish us if we show no respect. Tapi konsekuensinya yang langsung terasa di kita.

The Ups and Downs

Bicara konsekuensi, bukan berarti aku putih tanpa dosa ya selama berkomunitas dengan Ibu Profesional sejauh ini. We all have different condition and circumstances.

Jaman-jaman Matrikulasi, about 2 years ago, fokus belajar dan mengerjakan NHW mudah banget buat dilakukan. Challenging dan seru malah. Pakai ikut masuk perangkat kelas dan nyalonin jadi ketua (tapi kalah cepet jadi nggak kepilih wkwk). Pokoknya emang udah niat banget totalitas nyiapain diri jadi ibu terbaik deh. Sampai-sampai Fasilitator sering membagikan NHW aku di grup (walaupun belum pernah terbit di buletin juga hehe). Bahkan dulu hampir ikutan student exchange juga, nama programnya apa aku lupa. But I could not afford karenaa culture shock sama postpartum life.

Lama banget buat aku pulih fisik dan psikis pasca lahiran. Yang berarti vakum juga berhore-hore ria di grup. Walaupun alhamdulillah aku lulus juga Matrikulasi, yet I could not attend the graduation day as well.

FOMO

Kondisi vakum yang super lama (berbulan-bulan) ini bikin aku jadi fomo, fear of missing out. Aku mulai berusaha menyempatkan kasih stiker di grup Bumi Sauyunan (grup lulusan matrikulasi) dan keeping up with the chat di sela-sela hirup pikuk merawat bayi ala ibu baru.

Aku pun berusaha makin totalitas biar ‘nggak ketinggalan’ waktu udah join di rumbel. Salah satunya rumbel Boga. Kalau kata ambu Finny, leader IP Bogor waktu itu, ini rumbel yang paling ON dan ramai. Emang terasa banget traffic-nya padat terus. Nggak masalah aku berusaha bela-belain untuk ikut semua challenge bahkan ikutan Latbar Offline sekalipun aku belum ahli menenangkan anak bayi ataupun multitaskin merawat bayiku sambil ikutan fokus praktik baking.

Puncaknya adalah pengurus Rumbog menghubungiku untuk join di Dapur Rumbog. Kata beliau buat jadi PJ Facebook aja. Aku mengiyakan sambil berharap aku dimampukan, karena jujur aja ngeri jadi pengurus kalau melihat aktifitas hectic member rumbel Boga. Mungkin sebelum melahirkan job macem gini mah easy peasy lemon squeezy. Tapi sekarang wow wow wow, I never relly expect that postpartum life itu ‘sebegininya’. Mungkin beda ya di orang lain. But for me it does take a bunch of time to know exactly how to survive in early days of motherhood life. Demi biar nggak fomo, aku nekat mengiyakan amanah itu.

Ternyata, ku tak sanggup. Aku overwhelming bahkan ketika kepengurusan baru ini belum solid. Aku nyambil juga sih ambil kelas online lain yang sistemnya mirip IP juga, banyak tugas dan jadi koorming pula di sana. Aku mulai meledak stress karena aku merasa nggak fokus merawat bayi dan rumah tapi kerjaan di IP dan kelas lain juga nggak tuntas. Aku merasa balik ke nol lagi setelah semua yang aku pelajari di IP.

Kalau inget komentar Ron di tahun pertama Hogwarts tentang Hermione, “She needs to sort out her priorities”. Kayanya aku juga gitu.

Priorities Sorted

So, aku pamit ke kepengurusan Rumbel Boga dan semua kelas online yang aku ikuti. Aku sadarin banget niat aku ‘buat nggak ketinggalan’ ini yang bikin kacau semuanya. Ini bukan niat yang sama waktu dulu banget mulai ikut IP. Ketika awal join rumbel, kusadari semua niat biar nggak fomo ini adalah demi personal glorry.

Iya, personal glorry. Pengen diakuin, pengen eksis, pengen dapet judgment hebat. Pengen ‘keliatan’ luarbiasa.

But I feel empty inside. Yaiya wong jalanin hari kaya zombie kejar deadline. Pengennya anak suami cepet tidur biar nugas, but it goes worst and cross the line. Karena niat yang salah.

Balik lagi, si CoC ini kaya nampar. I break the CoC, and it gives me the consequences. Konsekunsi salah niat yang nggak mau aku jalanin lagi.

Jadi mumpung sekarang masih Pra Bunsay, yang namanya niat bersih harus diupgrade terus. Karena kita nggak pernah tahu kapan niat ini bergeser dari jihad belajar jadi ke personal glorry yang receh.

Selesai Surfing

Gitu cerita aku surfing kena ombak-ombak maha dahsyat dari awal ikut Ibu Profesional sampai sekarang. Berusaha menjaga papan luncur tetap stabil dengan CoC tadi (semoga nyambung ya analoginya wkwk).

Itu cerita surfing aku. Cerita juga dong pengalaman surfing kamu di Ibu Profesional. Would be pleasure to have your stories down below 🙂

6 thoughts on “Game Wahana Surfing: What I’ve Been Through and CoC Ibu Profesional”

    1. Wah halo mba Afifah, seneng deh ternyata sekelas lagi kita, semoga bisa survive bareng ya hhe. Makakasih udah main ke sini 🙂

  1. Abis baca postingan eceu yang ini serasa ditampar-tampar, ceu…
    Harus bebenah niat dan hati lagi di Kelas Bunda Sayang…
    Semoga kita terus semangat belajar di Institut Ibu Profesional ya ceuu, dan ilmu-ilmunya semakin berkah 🙂

    Salam kenal juga ceu Ranti 😀

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!