Forest Cuisine Blogger Gathering: Hasil Hutan Jadi Hidangan Lezat!

Indonesia masuk dalam urutan tiga teratas hutan tropis terluas di dunia. Ini jelas hal yang sangat membanggakan karena itu berarti ketersediaan pangan negeri kita melimpah. Namun, hutan kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. While you’re reading this, hutan seluas tiga kali lapangan bola dibabat habis akibat izin tata kelola hutan masih dipegang oleh pihak dengan kepentingannya sendiri. Bila hutan kita terancam, itu berarti sumber makanan kita juga ikut terancam.

Forest Cuisine Blogger Gathering merupakan acara yang mengkampanyekan penyelamatkan hutan sebagai sumber pangan. Acara berlangsung di Almond Zucchini Cooking Studio pada 29 Februari 2020 lalu. Senang sekali bisa ikut diundang mengikuti event ini bersama teman-teman blogger lainnya.

Gathering 30 Finalis Forest Cuisine Blog Competition

Gathering yang diadakan oleh WALHI dan Blogger Perempuan ini membahas lebih jauh tentang fungsi hutan sebagai sumber pangan sekaligus upaya penyelamatan hutan dari deforestasi. Tak hanya ngobrol seru tentang hutan, blogger juga berkesempatan untuk praktik memasak langsung dengan bahan-bahan makanan yang berasal dari hutan. So excited!

Para Narasumber. Dari kiri: Sri Hartati, Khalisa Khalid, Tresna Usman, dan Windy Iwandi

Forest Cuisine Blogger Gathering ini menggandeng perwakilan Eksekutif Nasional WALHI Khalisah Khalid, WALHI Champion Tresna Usman dan Sri Hartati, Food Blogger Windy Iwandi, dan Chef William Gozali.

Kampaye Rimba Terakhir oleh WALHI

WALHI adalah organisasi non-profit yang aktif dan sudah lama mengkampanyekan penyelamatan hutan dan kedaulatan pangan Indonesia. Tinjauan dan langkah WALHI selamatkan hutan bahkan sudah masuk ke ranah politik, hukum dan ekonomi. Memang harus sejauh itu mengingat izin tata kelola hutan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah.

Save Our Forest

WALHI membuka sharing session dengan memutar video pendek bertajuk Kita Masih di Planet Bumi. Video yang menghempas kesadaran kalau gaya hidup yang aku lakukan masih merusak bumi. Juga kenyataan bahwa kondisi bumi makin kritis itu bukan isu lama. Sampah plastik dimana-mana, laut dan sungai terancam limbah platik dan polusi industri, emisi gas buangan industri dan polusi udara semakin tinggi, perubahan cuaca yang drastis, kebakaran hutan di banyak tempat, sampai pemanasan global jelas-jelas sedang terjadi sekarang. Salah satu upaya yang dilakukan WALHI untuk menjaga bumi adalah dengan mendorong aksi penyelamatan dan perlindungan hutan.

Mba Alin tentang hutan rusak maka pengetahuan lokal juga rusak

Perwakilan Eksekutif Nasional WALHI Khalisah Khalid atau yang akrab disapa Mba Alin menegaskan bahwa salah tata kelola hutan berdampak besar pada dominasi bencana ekologis. Pada 2019 saja jumlah bencana yang terjadi lebih tinggi dari 2018 dan kebanyakan adalah bencana hidrometeorologi. Contoh mudahnya adalah banjir akibat berkurangnya area serapan secara signifikan karena begitu banyak proyek dan investasi masih mengganggu kawasan hutan. Bila lokasi tempat tinggal kita yang jauh dari hutan saja merasakan langsung krisis dari deforestasi hutan, kebayang kan krisis macam apa yang dialami masyarakat sekitar hutan?

Pengetahuan lokal hutan membuat perempuan berdaya sebagai penjaga pangan keluarga

Khalisa Khalid, Eksekutif Nasional WALHI

Menurut Mba Alin, hutan itu sekolahnya perempuan. “Kalau hutan rusak, pengetahuan perempuan akan hilang. Budaya hilang. Identitas dan nilai-nilai hidup hilang. Masyarakat adat tidak akan ada lagi.” Perempuan sekitar hutan punya yang namanya pengetahuan lokal terkait menjaga ketersedian pangan keluarga, naluri dan wawasan bertani di lahan sendiri, wawasan apotek hidup, sampai pemanfaatan pangan hutan untuk pemberdayaan ekonomi komunitas.

Pangan Hutan Terancam

Sumber pangan dari hutan sangat beranekaragam karena hutan sifatnya multikultural. “Bukan hutan namanya kalau praktik kebun pohon monokultur,” pungkas mba Alin. Ragam makanan hutan dinilai mba Alin mempunyai kandungan nurisi yang sangat bagus untuk mencegah maraknya stunting atau kasus gizi buruk.

Sayangnya keberadaan hutan sebagai sumber pangan sudah terancam. Banyak masyarakat tidak teredukasi untuk bangga mengkonsumsi hasil hutan mereka. Mba Alin menyampaikan bahwa iklan di televisi telah merubah mindset warga lokal bahwa produk instan lebih baik daripada makanan dari hutan. “Mereka menyuguhkan mie instan alih-alih makanan khas daerah untuk menghormati tamu.” Jikapun ada masyarakat adat yang bangga menjadi petani, mereka kesulitan untuk dapat mengelola lahannya sendiri. Hutan adat tempat untuk menanam ragam sumber pangan diklaim milik korporasi. Sehingga, masyarakat lokal menjadi buruh petani di kawasan yang harusnya adalah hutan mereka sendiri.

Suasana Mengharu Biru Saat Mba Windy Mengapresiasi WALHI Champion Atas Perjuangan Menyelamatkan Hutan dari Ancaman Tiada Henti

Petani tidak bisa mengolah hutan mereka akibat tekanan perusahaan dan tidak dilindungi pemerintah

Khalisa Khalid, Eksekutif Nasional WALHI

Koordinator Bidang Politik WALHI ini melanjutkan ketidakadilan yang terjadi seakan tanpa henti membuat WALHI mencetuskan WKR atau Wilayah Kelola Rakyat. WKR adalah pemanfaatan nilai kearifan lokal masyarakat dalam mempertahankan hutan. Model penyelamatan hutan ini sebisa mungkin memperkuat posisi masyarakat sekitar hutan dalam tata kelola konsumsi hutan. Hasil yang diharapkan adalah masyarakat adat sendiri yang menjaga dan mengelola hutan utamanya sebagai sumber pangan.

Kita bisa ikut jadi bagian dari WALHI untuk selamatkan hutan sebagai sumber pangan dengan berdonasi di sini. Donasi yang kita berikan menunjukkan dukungan penuh atas perjuangan masyarakat sekitar hutan untuk mendapatkan pengakuan atas Wilayah Kelola Rakyat. Dengan masyarakat lokal memegang tata kelola, hutan bisa terselamatkan tak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga fungsi keberlanjutan lainnya.

Kaum Urban Bisa Ikut Selamatkan Hutan

Mba Alin juga berbagi tips bagaimana agar kaum urban bisa ikut menyelamatkan hutan, yaitu dengan bijak konsumsi dan konsumsi langsung dari produsen. “Mulai dari sekarang untuk bijak konsumsi. Bedakan antara ingin dan butuh. Kurangi produk sawit seperti minyak, dan penggunaan kertas. Kita kadang suka konsumtif dengan yang tidak kita butuhkan karena kemakan iklan. Yang kedua adalah konsumsi langsung dari produsen, yaitu petani dan komunitas tani. Harga produk komunitas memang agak mahal karena belum didukung pemerintah. Jadi kalau kita beli itu ngebantu ekonomi komunitas.”

Duh. Aku merasa tertohok sekali mengingat gaya hidupku yang gila-gilaan pakai produk sawit dan kertas. Auto sedih karena bisa jadi demand dari konsumen-konsumen kaya aku ini bikin pihak korporasi bebas menekan pemerintah sesuka hati untuk dapat izin kelola hutan. Hiks.

Produk-produk Komunitas dengan Kemasan Ramah Lingkungan

Untungnya aku masih bisa ikut bantu sedikit-sedikit dengan membeli produk-produk bebas konflik di Stand Pangan dari Hutan. WALHI membantu para petani lokal dalam pengemasan produk supaya tidak cepat rusak dan dapat dikonsumsi banyak orang. Ada banyak banget produk yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Seperti tepung serbaguna, lada hitam, garam dengan daun jeruk, kopi, madu hutan, teh bunga rosela, gluten-free noodle, sirup buah pala, minyak atsiri cengkeh, dan banyak lagi olahan pangan hutan lainnya. Membeli produk yang jelas lebih bergizi dan langsung dari petani dan komunitas tani lokal sungguhan menentramkan hati.

Perempuan dan Hutan

Sesi selanjutnya adalah sharing dengan WALHI Champion. WALHI Champion adalah orang-orang yang sukses memberikan kontribusi nyata melestarikan hutan di daerah asalnya. Ada Mba Tresna yang menjaga hutan di Sulawesi Tenggara dan Bu Tati yang mengolah pangan hutan di Sumatera Barat.

Mba Tresna tentang Perjuangan Mempertahankan dan Melestarikan Hutan Adat

Mba Tresna berdomisili di Depok tetapi sudah 4 tahun terakhir ini berjuang agar pemerintah memberikan izin kepada masyarakat sekitar hutan di Kabupaten Kolaka Kelurahan Sakuli Sulawesi Tenggara untuk mengelola hutannya sendiri. Mba Tresna mengaku sedih, melihat kemauan pemuda dan masyarakat yang bangga menjadi petani demi menunjang masa depan tetapi terhalang akses untuk kelola hutan. Sebelum ada aturan perizinan, sudah ada hutan adat tempat masyarakat menanam apapun untuk dimakan. Mba Tresna menuturkan bahwa komunitasnya sudah hampir mendapatkan izin kelola hutan tetapi ternyata kemudian bertentangan dengan kebijakan pemerintah.

What a story. Konflik masyarakat sekitar hutan dengan pemerintah sendiri sungguh menyayat hati. Huhu. Perjuangan yang enggak main-main karena ibarat sandwich, terjebak di antara tekanan perusahaan dan pemerintah.

Menurut Mba Tresna yang juga survivor cancer berkat pangan dan interaksi hutan, belum adanya izin kelola hutan tidak membuat dirinya menyerah mencari jalan lain untuk melestarikan hutan di daerah asal kelahirannya itu. “Saya mengelola sampah plastik dengan komunitas perempuan. Yang terbanyak adalah teh gelas. Betapa anak-anak sudah dibodohi iklan untuk konsumsi yang tidak sehat sekaligus mencemari hutan. Kami juga ada gerakan menanam pohon yang punya kearifan lokal, salah satunya sagu yang bisa menggantikan beras. Dulu itu ada cemilan masa kecil dari sagu namanya Cako-cako. Jadi sagunya digoreng pakai gula. Rasanya renyah dan enak”.

Ibu Tati, Respresentasi Pemberdayaan Perempuan oleh WALHI

Semangat menjaga kelestarian hutan juga terpancar dari WALHI Champion berikutnya yaitu Ibu Tati. Ibu Tati aktif di Program Pengelolaan Hutan untuk Kesejahteraan Perempuan bersama WALHI Sumatera Barat dan Women Research Institute. Berpakaian khas Minangkabau, Ibu Tati menarik perhatian semua orang. Apalagi ketika beliau tidak kuasa menahan tangis mengatakan masih ada kesempatan buat kita jaga hutan agar tidak rusak dan diganggu. Fiuh, aku yang sentimentil ini sepanjang acara jadi terenyuh, nggak bisa berhenti berkaca-kaca.

Ibu Tati mengembangkan produk olahan dari buah pala dari hutan menjadi sirup dan minuman segar. Wow yang biasa kita kenal sebagai bumbu dapur ternyata bisa jadi minuman juga ya. Produk komunitas Ibu Tati ini sudah dipasarkan di seluruh Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat dan menjadi minuman khas di Hotel Bumi Minang Kota Padang. Ibu Tati mengaku WALHI turut andil cukup banyak dalam edukasi pengolahan pala dan ekonomi kreatif. “Saya bangga punya income sendiri,” demikian ujar Ibu Tati ketika ditanya perasaannya bisa mengembangkan bisnis sirup pala hutan. Olahan sirup dipilih karena mempunyai daya tahan yang paling lama yaitu 6 bulan dibandingkan olahan pala lainnya seperti selai yang hanya 1 bulan dan minuman segar yang hanya 1 minggu.

Windy Iwandi, Penyuka Hutan dari Kota

Food Blogger sekaligus orang di balik akun Instagram @foodirectory, Windy Iwandi juga menunjukkan antusiasnya pada makanan dari hutan. “Aku suka banget sama hutan. Ada hutan yang namanya Tanjung Puting di Kalimantan. Sedikit banget orang lokal yang tertarik ke sini. Kebanyakan malah turis Eropa. Padahal kalau kita jalan sebentar di hutan tiba-tiba aja ada durian jatuh yang kita bisa langsung makan. Ada juga Belimbing Merah, warnanya pink gitu. Aku juga suka nanya guide aku tiap ada buah yang jatuh ini bisa dimakan apa nggak, ternyata bisa. Semua makanan dari hutan bisa dimakan deh.”

Memasak Forest Cuisine

Keseruan makin berlanjut saat MC mengajak blogger untuk masuk ke pantry mengolah pangan dari hutan bersama Chef William Gozali. Sampai di pantry, blogger dipersilahkan untuk memilih apron masing-masing. Aku pilih yang warna hijau karena WALHI banget, hutan gitu hehe.

Selesai memakai apron, baru aku dapat mengamati pantry dengan seksama. Wow banget, decakku terkagum-kagum dalam hati. Rasanya seperti ada di dapurnya Gordon Ramsay gitu. Peralatan memasak yang ada adalah yang biasa dipakai oleh chef. Mulai dari bentuk pisau yang tebal dan berat sampai panci stainless steel idamanku ada di sini. Tetapi tentu saja yang paling menarik adalah kehadiran Chef Wilgoz di meja demo yang stand by bersiap memulai cooking class.

Meja Preparation
Cooking Station

MC membagi kami menjadi 6 kelompok. Aku bergabung dengan kelompokku di Team 1. Chef Wilgoz kemudian meminta tiap kelompok untuk berbagi tugas, ada yang memotong di meja prep dan ada yang memasak.

Chef William Gozali

Chef Wilgoz dengan santai dan friendly mulai menjelaskan hidangan hutan alias Forest Cuisine yang akan dibuat, yaitu Fettucine Mushroom Ragout. Menurut Chef, konsep hidangan kali ini sama kaya bolognese. Basic bolognese adalah daging dan mirepoix (campuran bawang putih, bawang bombay, tomat, dan seledri) yang bercampur dengan saus tomat. Wah, hidangan pasta itu favoritku banget. Sampai ada resep pasta andalan yaitu Homemade Lasagna yang jadi kesukaan orang satu rumah hehe.

Ragout adalah istilah cuisine untuk saus daging dalam bahasa Perancis

Karena tema utama adalah pangan dari hutan juga tagline Chef Wilgoz yaitu Less Meat More Veggies, Chef Wilgoz membeberkan rahasia modifikasi bolognese di Fettucine Mushroom Ragout. “Kita ganti dagingnya dengan jamur. Saus tomatnya juga kita subtitusi dengan butter, cream, dan kaldu. Kaldu yang kita pakai bukan stock, tapi kaldu sayur dari daun bawang daun kucai. Presentasi akhirnya mirip carbonara nanti.”

Chef William mengajak blogger mengolah hasil hutan yaitu jamur, daun bawang, kucai, dan bawang putih menjadi forest cuisine lezat dengan nama Fettucine Mushroom Ragout

Cooking class berlangsung riuh dan seru. Blogger berusaha untuk keeping up mengikuti instruksi Chef di tengah-tengah jokes yang sering dilempar oleh Chef dan MC. Setiap masuk step baru, Chef juga mendatangi setiap station dan mengomentari progress hidangan tiap kelompak. Berasa ikutan MasterChef banget deh. Bedanya di acara ini gerudukan aja masaknya hehe. Jadi challenge teamwork juga buat kita yang baru aja ketemu hari itu. What I’m saying is di kelompok aku kita sibuk menyamakan persepsi step cooking. “Garlic-nya dimasukin sekarang ya? Eh apa nanti?”. “Eh kaya gini udah cokelat belum ya?”. “Waduh kejunya harusnya terakhir.” Heboh dan hectic, tapi seru banget deh haha.

The Final Look of Fettuchine Mushroom Ragout

Ini dia Fettucine Mushroom Ragout yang sudah selesai dieksekusi Chef Wilgoz. Chef mempersilahkan kami untuk mencicipi Forest Cuisine buatannya itu. Enak banget! Dan aromanya wangi semerbak. Super yummmm.

My Team Forest Cuisine Result

Chef kembali berkeliling station untuk menentukan kelompok mana yang berhasil membuat hidangan terbaik. Ternyata bukan kelompokku haha. But he praised our team cuisine tho. “Sukses nih dapetin rasa creamy dan nggak too oily. Cuma kurang seasoning dikit aja.”

Udah penasaran banget kan gimana step by step how to cook Fettucine Mushroom Ragout. Ini dia resepnya!

Fettucine Mushroom Ragout

Fettuchine Mushroom Ragout, Pretty with Sprinkle of Parmesan Cheese

Bahan

  • 5 roll fettucine
  • 5 jamur champignon
  • 5 jamur shitake
  • 2 daun bawang
  • 1 kucai
  • 3 bawang putih
  • 1 cup cooking cream
  • butter
  • parmesan cheese
  • garam dan lada hitam

Cara Membuat

Menumis daun bawang dan kucai

1. Potong daun bawang dan kucai lalu cincang sampai jadi potongan kecil. Tumis sampai pan berasap dan warnanya agak gosong. Sisihkan.

Tumis Sampai Segosong Ini

Chef Trivia: Menumis daun bawang dan kucai sampai hampir gosong bertujuan agar wangi dan rasanya ter-develope maksimal

2. Cincang jamur sampai jadi potongan kecil. Geprek bawang putih lalu potong tipis-tipis.

Butter Inside The Pan

3. Masukkan butter ke pan bekas menumis daun bawang. Saat butter sudah cair, masukkan jamur dan tumis sampai kecokelatan dan agak gosong. Lalu masukkan bawang putih, garam, dan lada

Mushroom Dulu Baru Garlic. Typical of Western Dish

Chef Trivia: Butuh waktu agak lama untuk menumis jamur sampai kecokelatan karena kandungan 2/3 jamur adalah air. Bawang putih dimasukkan terakhir untuk mendapatkan cita rasa manis.

4. Sembari menunggu jamurnya menjadi kecokelatan, rebus fettucine dalam air yang sudah mendidih dan diberi garam. Pastikan fettucine tidak overcooked.

Chef Trivia: Tidak perlu minyak untuk merebus pasta. Aduk-aduk saja terus agar pasta tidak lengket.

Aduk-aduk Saus Jamur di Api Besar

5. Saat jamur sudah kecokelatan, masukkan air rebusan pasta sedikit ke dalam pan. Lalu masukkan juga daun bawang. Aduk-aduk. Masukkan cooking cream. Masak dengan api kecil sampai makin cokelat. Matikan api. Masukkan air rebusan pasta lagi 1 laddle. Saus jamur ready.

Finally The Pasta!
Matikan Api Saat Memasukkan Pasta

6. Saring pasta yang sudah matang dan masukkan ke pan berisi saus jamur. Aduk-aduk. Taburi parmesan cheese. Sajikan.

Rasanya gampang (((gampang))) ya bikinnya. Triknya adalah mengatur api besar dan kecil agar saus jamur menjadi cokelat tanpa harus kegosongan. Jadi deh Forest Cuisine-nya, hidangan yang elegan nan sophosticated dengan bahan-bahan hasil hutan. Bon Appétit!

Thank You, Next

Our Team with Chef, Got Some Cool Pose
It’s a Wrap!

Thank you banget WALHI dan Blogger Perempuan untuk Forest Cuisine Blogger Gathering-nya yang super seru dan membuka awareness baru untuk ikut aktif menjaga hutan. Terimakasih sudah berjuang menjaga hutan negeri kita, juga mengingatkan bahwa pangan hutan lebih menyehatkan dan bisa jadi hidangan yang sangat lezat. Semoga kampanye Wilayah Kelola Rakyat makin menggaung sehingga pemerintah mendukung penuh perlindungan hutan dari segala macam gangguan. Salam adil dan lestari 🙂

More like this

34 Comments

  1. Teh bunga rosella memang enak sepet asem gitu.

    Banyak hasil hutan yang belum didayagunakan dan di promosikan dengan maksimal. Forest cuisine mengenal produksi hasil hutan yang enak di komsumsi

    1. Memang maksudnya ‘bukan isu lama’, jadi bumi rusak itu bukan masalah lama yang udah basi. Masih ada dan terus terjadi bahkan di detik ini.

  2. Cerita yang panjang tapi seru…serasa dapet pencerahan untuk lebih peduli pada lingkungan. Setuju banget sama poin bijak mengkonsumsi. Jangan berlebihan dan gunakan sesuai kebutuhan. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang sederhana dan mulai dari sekarang,

    1. Jadi inget jaman kecil dibuatin manisan pala sama embah, asli enak dan bikin tidur lelap..cuma sekarang tanaman ini jadi langka di tempat kami. Di pasar, yang dijajakan hanya bijinya saja sebagai bumbu masakan. Pangan dari hutan perlu dilestarikan nih

      1. Wah aku malah baru tahu pala bisa bantu buat tidur nyenyak.

        Iya mba, prihatin sekali semua serba beli di pasar sekarang. Rasanya udah ngga ada lagi orang yang bebas ambil kebutuhan dapur di hutan atau kebun sendiri.

  3. itu resepnya kayknya enak di coba di rumah. hehe..

    klo Walhi, aku tahu. Mereka NGO2 yg memang konsen terhadap lingkungan. Sama seperti wwf dan greenpeace jg.

    1. Ayoo di-recook mba 🙂

      Yess. NGO-NGO malah yang lebih kereng buat jaga bumi. Selalu salut sama mereka yang kaya nggak ada capeknya teriak ke government buat jaga lingkungan.

  4. Menjaga kelestarian hutan memang sangat penting, tidak hanya untuk kepentingan kita saat ini saja, tetapi untuk keberlangsungan generasi selanjutnya.

    Kita membutuhkan alam dan alam membutuhkan kepedulian juga perhatian kita.

    1. Bener banget mba. Pokoknya kalau ada niat hati mau ngawur dikit, inget-inget langsung masa depan anak cucu kita nanti.

    1. Saya lolos berkat Allah menggerakkan hati juri buat milih tulisan saya mba. Semoga kesempatan lain mba juga bisa menang ya. Semangat 🙂

  5. Wah keren banget kayanya event nya ya. Menarik banget. Kalau bisa juga aku mau beli langsung dari petani dan menikmati hasil hutan langsung. Semoga kita kaum urban makin sadar masalah lingkungan ini

    1. Bisa ke Toko Walhi di Jalan Tegal Parang Utara No. 14, Jakarta Selatan. Atau bisa menghubungi Lilo (0882-1330-9737).

  6. Selamat Mbak sudah termasuk 30 orang terpilih untuk ikutan acara ini. Seru banget talkshow dan acara masaknya, masalah hutan ini memang butuh penanganan serius biar hutan kita tetep lestari.

    Hasil pangan dari hutan pun banyak tapi belum dimanfaatkan maksimal. Duh, saya ngiler lihat Fettuccine Mushroom. Pasti ini enak banget

    1. Terimakasih banyak mba 🙂

      Aku juga waktu bikin postingan ini ngiler-ngiler gitu mba hehe. Hayu direcook 🙂

  7. Kita say hello enggak ya di acara ini, Mbak..mohon maaf kalau aku belum kenal. Salam kenal ya. Senang berada di acara ini dan aku banyak dapat ilmu dan wawasan baru, kagum juga sama pejuang lingkungan dan WALHI

    1. Hehe iya kita belum kenalan mba. Aku dateng telat dan selesai demo masak langsung nyusuin anak bayi. Belum sempat mingle deh akhirnya. Salam kenal juga mba Dian 🙂

    1. Iya aku juga sampai sekarang masih amaze sama dapurnya mba hehe. Dream pantry banget deh. Makasih dah baca sampai akhir. Ayoo recook 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *