Cash Holding vs Kebaikan Berbagi: Agar Survive Bersama di Masa Krisis

Selama pandemi COVID-19 ini, saya merasakan sekali beberapa orang berseliweran di media sosial memberikan nasihat untuk menahan cash sebanyak-banyaknya. Tujuan cash holding ini dalam rangka survival mode agar tentu saja tetap sehat finansial sekalipun di masa krisis. Tujuan pribadi iya. Namun untuk survive bersama, kebaikan yang kita lakukan harus lebih daripada menahan cash saja. Kebaikan itu sebaiknya naik kelas dari tujuan pribadi menuju kebaikan berbagi demi survive bersama di masa krisis.

Opini Cash Holding

Saya sungguh mengakui menahan cash agar bisa survive ini benar dan nggak keliru. Sudah saatnya untuk menahan diri agar dana tidak keluar untuk hal yang tidak perlu. Apalagi kita harus stay at home dalam waktu panjang di rumah. Sumber dana bisa saja habis. Siapa yang bisa menjamin beberapa bulan ke depan income suami masih tetap sama untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari? Siapa yang tahu kapan COVID-19 ini benar-benar akan berakhir?

Menahan cash bisa menjadi berbahaya secara ekonomi makro jika dilakukan dengan berlebihan

Lain cerita bila menahan cash kita lakukan dengan sangat berlebihan. Menurut Akhirulsyah, Business Intelligence and Growth dari OY!, secara ekonomi makro cash holding bisa berbahaya karena dapat memperdalam jurang krisis jika krisis itu benar-benar terjadi. Berlebihan yang dimaksud di sini adalah dalam konteks Tragedy of The Commons.

Tragedy of The Commons

Analogi mudah Tragedy of The Commons adalah sebagai berikut. Dalam sudut pandang pribadi yang ingin punya kemampuan mobilitas tinggi, memiliki kendaraan daripada berjalan kaki tentu lebih baik. Karena kendaraan seperti mobil misalnya, mempunyai mesin. Jadi menggunakan mobil jelas lebih cepat untuk menempuh jarak jauh maupun dekat dibandingkan dengan berjalan kaki.

Namun, apabila banyak orang atau bahkan semua orang memikirkan hal yang sama, bisa terbayang apa yang terjadi? Yes, semuanya akan berlomba-lomba untuk menggunakan mobil daripada berjalan kaki. Even sampai rela memaksakan diri, dengan kredit atau cicilan riba misalnya. Naudzubillah.

Maka kemudian yang terjadi adalah Tragedy of The Commons. Masalah baru bernama kemacetan menjadi tercipta. Karena semua orang memiliki pikiran yang sama yaitu harus memiliki mobil. Justru malah mubadzir kan akhirnya mengingat laju mobilitas yang awalnya kita inginkan cepat menjadi terhambat. Bahkan dalam kasus tertentu, bisa jadi berjalan kaki lebih cepat untuk sampai tujuan daripada naik mobil yang terjebak macet.

Menahan Cash Jadi Trigger Resesi?

Tragedy of The Commons juga berlaku dalam bisnis. Di mana konsep paling dasar bisnis adalah manajemen cash flow. Sederhananya ya tentang pengelolaaan pemasukan dan pengeluaran. Ingat bahwa pemasukan bagi satu pihak menjadi pengeluaran bagi pihak lain.

Nah dalam skala individu, menahan cash dan expenses di masa krisis seperti sekarang ini jelas merupakan sebuah common sense yang dilakukan oleh pihak pemegang dana. Tetapi dalam skala masyarakat, menahan cash justru bisa jadi trigger atau pemicu terjadinya krisis ekonomi.

Dana yang tidak lancar mengalir menjadi pemicu kenaikan harga, kesenjangan sosial, sampai moral hazard

Kenapa bisa begitu?

Bila semua orang menahan cash, yang namanya velocity harta menjadi terhambat. Dana tidak lancar mengalir untuk menghasilkan produk barang dan jasa. This is getting worse kalau produk barang dan jasa ini vital untuk dikonsumsi masyarakat. Yang terjadi adalah kenaikan harga akibat supply yang kurang mengingat orang-orang kesulitan memproduksi barang dan jasa itu. Jumlah permintaan tidak seimbang dengan ketersediaan supply.

Atau sebaliknya.

Ketika konsumsi barang dan jasa ini lesu karena cash holding, barang dan jasa ini pun menjadi tidak laku. Pengusaha pun mengalami krisis likuiditas. Efek selanjutnya adalah banyak masyarakat akhirnya kehilangan pekerjaan. Kemudian yang terjadi adalah disparity atau kesenjangan. Ya jelas karena semua orang kaya menahan cash dan yang miskin kehilangan pendapatan. Kerasa banget kan ya ini sekarang?

Mau diterusin lagi?

Efek buruk cash holding jangka panjang berikutnya adalah terjadi moral hazard. Penjarahahan, pencurian, kriminalitas meningkat, dan seterusnya. Subhaanallah huhu. Chaos nantinya karena krisis semakin dalam akibat efek buruk spiral tadi yang terus berulang.

Kelihatan bahwa intinya adalah velocity atau perputaran harta. Pemasukan dan pengeluaran harta yang tidak terhambat alias terus berputar menjamin harga beli yang tidak mencekik juga ketersedian barang dan jasa itu.

Let’s Survive Together

Kita sudah ngeh kalau dana itu harus terus mengalir demi kemaslahatan bersama. Maka tetap penting untuk melakukan aktivitas konsumsi dan produksi secara wajar juga tidak ekstrim menahan cash bahkan dalam kondisi pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Agar tidak terjadi kelangkaan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. Agar kita semua tidak terhempas, terlibas habis ombak krisis yang bergulung semakin besar.

I’m not saying that cash holding is a terrible idea. It’s just to share some alternatives insight for us all to survive together. Sudah ada banyak nasihat menahan cash oleh para financial planner. Dan memang udah fitrahnya kita juga untuk menahan cash di kondisi tak menentu begini.

I’m writing this sebagai upaya agar kita semua suvive, selamat dan terhindar dari krisis ekonomi. Karena krisis ekonomi biasanya diawali oleh ketakutan-ketakutan yang berlebihan. Dan krisis akan menjadi nyata bahkan semakin dalam jurangnya jika sikap masyarakat mendukung terjadinya krisis ekonomi itu sendiri.

Ayo kita survive bersama di masa krisis ini. Terhindar dari krisis ekonomi bersama-sama. Salah satu ikhtiarnya adalah dengan memperlancar velocity atau perputaran harta. Jangan sampai harta bertumpuk-tumpuk di kalangan orang-orang kaya saja.

… agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.

Al Hasyr Ayat 7

Kebaikan Berbagi dengan Sedekah

Menebar kebaikan dengan sedekah menjadi menguntungkan dan wasilah kita dari bencana COVID-19 ini. Karena bersedekah dapat memperlancar perputaran harta. Sehingga harapannya kita terhindar dari badai krisis ekonomi tadi. Moreover, kebaikan berbagi dengan sedekah itu tidak mengurangi harta. Tetapi malah jadi berlipat ganda pahala kita, menjamin bisnis bebas maksiat, menghapus dosa (dihapus ya gaaess dihapus lohh privilege banget ini), menjaga tiket surga kita utuh, dan menjamin kita nggak kepanasan di Padang Mahsyar nanti. MaasyaaAllah banget kan.

Kebaikan Berbagi dengan Sedekah

Dompet Dhuafa mengajak kita untuk bisa ikut merasakan kebaikan berbagi dalam masa pandemi ini. Bersama-sama keluar dari bencana dan terhindar dari krisis ekonomi. Nah, ikhtiar sedekah kita untuk memperlancar perputaran harta bisa kita salurkan melalui program Bersama Lawan Corona.

Program Bersama Lawan Corona

Melalui program kemanusiaan Bersama Lawan Corona ini, saya lebih tenang menyalurkan cash dalam bentuk sedekah. Karena tepat sasaran dan terpercaya. Kita bisa tahu dari website Dompet Dhuafa bahwa harta yang kita donasikan memang dialirkan untuk beragam kebaikan berbagi di masa krisis. Seperti pembagian sembako bagi warga terdampak COVID-19, pembagian APD untuk tenaga medis, pembagian hygiene kit dan sosialisasi COVID-19 untuk kelompok rentan, pemasangan disinfection chamber di tempat umum, sampai penyemprotan cairan disinfectan di fasilitas umum. Masya Allah kan ya, sedekah jadi makin menenangkan dan menentramkan.

Ikhtiarkan harta kita untuk terus mengalir dengan sedekah di Dompet Dhuafa. Tepat sasaran, terpercaya, dan menentramkan.

Selain itu, donasi di Dompet Dhuafa sangat mudah. Cukup buka link donasi COVID-19 lewat HP, langsung deh kita bisa berdonasi. Bisa transfer ataupun pakai dompet online. Desain portal donasinya juga UX friendly banget hehe. Jadi semua orang, nggak harus kaum millenial, insyaAllah akan merasa mudah bersedekah di Dompet Dhuafa. Semudah sentuhan ibu jari lho ikhtiar kita menunaikan hak-hak harta ini.

Hak Zakat dalam Harta

Ingat juga ada hak harta yaitu zakat yang harus diprioritaskan bahkan sebelum mengalokasikan dana darurat dan sedekah. Zakat ini yang memegang peranan terpenting agar harta tetap bersih, terus berputar, dan tidak mengendap terlalu lama. Bila sedekah bisa kita alokasikan budget-nya mau berapa, zakat ada perhitungannya sediri.

Sudah tahu belum nominal harta yang harus dizakatkan?

Kalau belum, kita bisa gunakan fitur Kalkulator Zakat dari Dompet Dhuafa. Kalkulator Zakat ini dapat menghitung zakat penghasilan dan harta (segala bentuk tabungan dan investasi) yang kita punya.

Saya sendiri belum ada kewajiban zakat maal (zakat harta) karena belum mencapai nishab (jumlah minimum harta wajib zakat). Sedih ya hehe. Makanya segala ikhtiar monetisasi saya niatkan agar seenggaknya selama hidup punya kesempatan untuk zakat harta. Semoga Allah segera amanahkan nikmatnya kebaikan berbagi dengan zakat.

Nishab zakat maal adalah 85 gr emas atau sekitar Rp. 58.000.000 (dengan asumsi harga emas per gram Rp 686.000). Nishab zakat penghasilan di luar kebutuhan pokok adalah 653 kg gabah kering giling atau setara 533 kg beras atau sekitar Rp. 3.390.000 (dengan asumsi harga beras per kg Rp 6.500).

Beda lagi ceritanya dengan zakat fitrah.

Kebaikan berbagi dengan zakat fitrah bisa kita lakukan sekarang ini juga di bulan Ramadhan. Sifatnya wajib dan insyaAllah jelas kita mampu. Tarif zakat fitrah di Dompet Dhuafa sendiri adalah Rp. 50.000 per kepala. Misalkan tanggungan suami adalah istri dan satu anak perempuan. Maka jumlah zakat fitrah yang wajib ditunaikan suami untuk dirinya sekeluarga melalui Dompet Dhuafa adalah Rp. 50.000 x 3 kepala = Rp. 150.000. Gimana, nggak wadidaw kan angkanya?

Menunaikan zakat fitrah di Dompet Dhuafa lebih dari sekedar menggugurkan kewajiban kita berzakat dan hak harta kita untuk terus mengalir. Tetapi juga memberikan yang terbaik dari ibadah zakat fitrah kita. Beras yang dipilih Dompet Dhuafa untuk zakat fitrah adalah beras premium. Beras-beras amanah dari kita ini disalurkan ke seluruh Indonesia bahkan sampai pelosok yang tidak terjangkau. Kontribusi zakat fitrah kita juga turut memberdayakan petani lokal mitra binaan Dompet Dhuafa. Maasyaa Allah banget ya. Just like what I claim before: tepat sasaran, terpercaya, dan menentramkan. Yuk ikut juga tunaikan zakat fitrah tahun ini di Dompet Dhuafa 🙂

Penutup

Harta itu tidak untuk ditumpuk, fitrahnya adalah terus berputar dan mengalir. Pun ketika di masa krisis seperti sekarang. Kekep dompet seperlunya saja. Pastikan ada cash yang masih mengalir dalam bentuk zakat dan sedekah. Agar kita semua dapat bersama-sama survive di masa krisis ini. Bukankah itu esensi sebenarnya dari kebaikan berbagi? 🙂

Sumber Referensi:

Bersama Lawan Corona. Dompet Dhuafa. https://donasi.dompetdhuafa.org/covid-19/ (diakses 26 April 2020)

Kalkulator Zakat. Dompet Dhuafa. https://zakat.or.id/layanan-zakat/kalkulator-zakat (diakses 28 April 2020)

Sedekah. Dompet Dhuafa. https://donasi.dompetdhuafa.org/sedekah/ (diakses 26 April 2020)

Zakat Fitrah. Dompet Dhuafa. https://donasi.dompetdhuafa.org/zakatfitrah (diakses 28 April 2020)

Disclaimer:

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa

More like this

33 Comments

  1. MasyaAllah, memang selalu ada hak anak yatim dan fakir miskin dalam harta, makanya perlu banget untuk dizakatkan. Apalagi di zakatkan dengan lembaga terpercaya seperti dompet duafa, insyaAllah amanah dan tepat sasaran.

  2. Wah ternyara sangat berbahaya ya klo terjadi cash holding, semoga ekonomi di tengan pandemi ini cepat membaik dan roda perputaran khususnya di kalangan bawah dan menengah cepat stabil agar ada ketenangan di tengah Masyarakat 🙂

  3. Dompet Dhuafa telah lama dikenal sebagai sebuah lembaga zakat yang terpercaya. Semoga semakin banyak yang sadar akan kewajibannya berzakat. Apalagi, DD semakin aplikatif sehingga semakin mudah digunakan.

  4. Betul ya Mbak, sejatinya harta itu bukan untuk ditimbun, tapi harus berputar dan mengalir, terlebih di masa krisis seperti sekarang ini. Agak sebel juga dengan kejadian panic buying dimana-mana. Harusnya wabah jadi momen yg tepat untuk mengasah kepekaan sosial kita, agar harta kita “mengalir” dengan semestinya supaya semua orang bisa tetap survive di masa sulit seperti ini.

  5. Bener juga ya mbak harta itu bukan untuk ditumpuk. Fitrahnya mengalir dan berputar. Seperti air. Bisa bermanfaat buat banyak orang

  6. Aku suka DD karena ada kalkulator zakatnya, hehehe.
    Oh ya, udah Bulan Ramadhan nih. Jangan lupa tunaikan zakatnya.
    Dewasa ini banyaak lembaga amil zakat terpercaya yang menyalurkan zakat kita. Pilih aja yang sreg di hati

  7. Memang seharusnya harta jangan dipendam sendiri tapi biarkan berputar agar perekonomian tetap stabil. Soal sedekah lebih baik dsalurkan lewat lembaga terpercaya seperti Dompet Dhuafa ini ya. Lebih mudah, aman dan sampai ke tangan yang tepat.

  8. Kalau menurut aku uang tunai dimasa sekarang sangat penting. Tentu saja setelah kewajiban berbwgi ditunaikan. Tapi sebenaenya berbagi tuh jadi tidak wajib kalau kita sendiri sedang sempit. Cmiiw

    1. makanya ya Allah kasih keutamaan lebih buat yang mau berbagi di saat sempit, karena emang nggak segampang itu 🙂

  9. Saya punya ilmu barusetelah membaca artikel ini. Cash holding. Tulisan ini terasa banget kalau ditulis dengan ilmu yang mumpuni.

    Semoga masih banyak orang yang memikirkan kemasalhatan umat lainnya ya, mbak. dan semoga covid19 tidak sampai membuat krisi ekonomi yang parah, meski sekarang terasa sudah agak sulit. Tapi alhamdulillah Allah masih memebrikan kita kemudahan untuk bertahan hidup.

    1. saya juga masih harus belajar terus dengan sedikit ilmu yang Allah amanahkan 🙂

      aamiin allahumma aamiin

  10. Benar sekali Mba. Harta itu bukan untuk ditumpuk. Tapi dialirkan. Bukankah kita diberi rezeki berlebih karena kita dipilih sebagai perantara oleh-Nya?

  11. Sedekah memang luar biasa manfaatnya. Harta enggak akan dibawa mati kalau disedekahkan malah bertambah berlipat ganda. Tempat sedekah yg tepat memang di dompet dhuafa. TERPERCAYA sejak dulu sampai kini.

  12. Betul. Harta tak baik dikekep sendiri karena adalah kepunyaan-Nya. Memang lebih baik di masa ini bersedekah, tentunya ke lembaga terpercaya seperti Dompet Dhuafa

  13. Benar sekali kalau harta itu perlu disalurkan pada lembaga terpercaya. Di masa sulit kayak pandemi ini, sedekah berupa harta atau barang berharga banget. Semoga banyak yang senantiasa tergerak untuk berbagi

  14. Kalau aku sih nahan cash bukan buat disimpen selamanya. Tapi emang mau diinvestasikan. Jadi, ekonomi masih tetep bisa muter.

    Kalau zakat dan sedekah, ini juga sudah pasti harus dilakukan. Gimana-gimana harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita kan.

    1. nahh financial planner malah sekarang pada kasih sarannya cash jangan buat investasi dulu. mungkin kalo saham iya, nunggu kondisi stabil.

      tapi kan investasi itu macem-macem ya. ada yang masih lanjutin investasi bangun gedungnya (walaupun misal ngurangi gaji atau jumlah tukang) buat asrama tahfidz kan jatuhnya jadi investasi akhirat juga.

  15. Harta kita gak sepenuhnya milik kita, ada sebagian yang wajib kita bagikan ke yang berhakkkkk. Makasih mbaa remindernya, penting banget ini, apalagi di masa pandemi sekarang, saling berbagi dan peduli makin makin dibutuhkan satu sama lain

  16. wah mba bahasannya mendalam banget mengenai cash holding dan bener sih kalo arus pendanaan ga lancar, malah kenaikan harga dimana-mana sehingga kesulitan buat transaksi ya. Semoga kita semua kuat melewati ini semua

    1. iyaa biar orang yang baca nggak ngejudge duluan hehe, jadi bahas dulu pelan-pelan satu-satu. orang suka sensitif biasanya bahas cash holding 😀

  17. Suka dengan pemaparannya. Memang benar ternyata menahan itu tidak selalu baik. Menahan nafsu tentu baik. Menahan harta hingga menahan uang yang menyebabkan transaksi tidak lancar malam menimbulkan masalah baru. Saya jadi belajar dari artikel ini. Nice Mbak. Good luck!

  18. Kl utk Ziswaf mestinya malah dikeluarin cepet² ya Mba….soalnya cash ygg udah dialokasi utk utk pos yg 1 itu insyaallah lebih cepet baliknya

    1. kalau zakat firah biasanya dianjurkan mendekati lebaran mba. tapi baru dengar kemarin keluar fatwa mui zakat fitrah boleh segera ditunaikan. mengingat banyak orang literally susah buat makan dan minum setelah buka puasa huhu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *