Persiapan Persalinan: Membuat Birth Plan

Melahirkan adalah peristiwa alami, tentang bagaimana mempercayai (yakin) desain Allah dan meminimalisasi intervensi medis

AMANI Birth

Setelah belajar dan mengikuti Prenatal Class bareng Amani Birth selama sebulan bareng suami, aku jadi punya gambaran di kepala mau seperti apa kelahiran nanti. Cita-citanya sama seperti yang udah dipelajari di kelas, yaitu ingin persalinan yang semelibatkan Allah dan sealami mungkin. Ketika itu mikirnya kalau mau gampang, langsung aja minta ditangani oleh Bu Maya, bidan yang menyelenggarakan kelas Amani, toh sudah sevisi misi dan mengerti maunya kita. Rumah persalinan Bu Maya ada di Citayam, sedangkan rumah aku ada di Bogor Timur, jarak terpaut sekitar 28 km. Pertimbangan jarak yang jauh tersebut membuat aku dan suami memutuskan untuk shopping bidan dekat rumah dulu.

Ternyata, shopping ini masyaAllah sekali ya perjuangannya mencari yang cocok di hati (pro alami minim intervensi medis). Tiga tempat bersalin yang aku kunjungi semuanya walaupun pro normal tapi masih sangat pro episiotomi. Episiotomi ini salah satu intervensi medis, yaitu pemotongan perineum untuk memperluas pembukaan vagina dan mempercepat kelahiran, dengan cara digunting. Inginnya kalau bisa ngga robek, dan kalau memang harus robek, robek alami aja ngga usah pakai digunting. Ada yang berarguman apalagi di aku ini adalah kelahiran anak pertama makanya perineumnya masih kaku, jadi persalinan anak pertama biasanya selalu dipotong. Ada yang menenangkan dulu tapi di akhirnya menjelaskan kalau udah terlalu lama nggak keluar kan kasihan anaknya jadi tetep harus dipotong. Ada juga yang bilang kalau panggul sempit harus digunting. Sedih aku tu…

Dengarkan insting saat kunjungan pra lahir (shopping bidan atau dokter). Perhatikan perasaan kita saat berinteraksi dengan mereka dan jangan takut untuk mencari yang lain kalau kita ngga nyaman. Namun ingat juga bahwa beberapa tenaga medis profesional masih belum familiar dengan natural birth, dengan proses kelahiran alami. Jadi akan selalu ada isu kelahiran yang tidak disetujui dan masih jadi kontroversi. Maka selalu perlakukan mereka dengan hormat, meski kita mungkin mempertanyakan atau enggak setuju dengan cara mereka.

AMANI Birth

Alami ini pun bukan berarti aku nggak mau melapangkan hati jika yang terjadi tidak sesuai rencana. Kata Mba Apik, selama tetap berikhtiar, persiapan ibu maksimal, ibu tenang dalam persalinan, bayi aman, Ibu sudah melahirkan secara gentle, baik SC maupun normal. Persiapan ibu salah satunya adalah belajar, ikut Prenatal Class. Setelah belajar, aku jadi mengerti bahwa indikasi bahaya darurat untuk operasi hanya ada dua: ibu pendarahan hebat dan detak jantung bayi melemah. Tidak ada panggul sempit, pengapuran, terlilit tali pusar, dan minus mata tinggi yang bikin bayi ngga bisa keluar secara alami. Ketuban pecah dini pun masih bisa diobservasi berjam-jam lamanya, jika tenaga medisnya mau bersabar. Waktu aku baru nanya, indikasi apa aja di tempat bersalin tersebut yang mengharuskan untuk operasi, aku malah disuruh untuk jangan mikirin itu dulu. Nanti saja ketika udah mendekati hari H persalinan. Padahal ku hanya pingin bilang aku ngga masalah operasi asal hanya ada dua indikasi tadi. Banyak juga (hampir semua) yang bilang bahwa minus mata aku yang tinggi rentan buat lahiran normal. Jadi aku harus minta rekomendasi dari dokter mata dulu. Rasanya ku jadi lelah mencari tenaga medis yang mau mendukung aku buat lahiran alami.

Aku pun melakukan evaluasi hehe, kenapa jadi semelelahkan ini. Padahal harusnya kan aku menikmati segala ups and downs, berikhtiar melahirkan anak shalih pejuang ummat ini dengan bahagia.

Jadi setiap melakukan shopping, aku dateng aja membawa isi pikiran dan maunya hati. Ngga ditulis, abstrak aja di kepala haha. Tiap kunjungan kan ada diskusinya, dan qadarullah emang sama tempat yang belum nyaman dan cocok, jadi habislah energi buat bersabar, buat bertahan berprasangka baik sama Allah, buat tetep tersenyum manis walaupun banyak banget yang nggak cocok di hati. Jadilah di kunjugan berikutnya yang membekas adalah gimana aku harus bertahan untuk berdiskusi agar tempat bersalin tersebut mau mendukung mau aku, hanya dengan persiapan isi kepala yang abstrak wkwkwk. Maunya alami, minim intervensi medis, padahal intervensi medis itu sendiri muacem macem dan perlu didiskusiin satu-satu dengan santai. Pun definisi melahirkan alami aja masih belum familiar di kalangan tenaga medis, bahkan bidan sekalipun.

Akhirnya aku memutuskan untuk menuangkan segala keinginanku itu dalam bentuk Birth Plan. Padahal di kelas Amani udah lama banget di PR in buat bikin Birth Plan, tapi aku nya ngga bikin-bikin yang rapi hehe. Waktu itu udah dapet format nya juga, terdiri dari check list sebanyak 4 halama. Aku merasa aku butuh ngebikin yang versiku sendiri, yang lebih simpel tapi mewakili semua keinginan dan rencana aku.

Birth Plan yang aku bikin ini sifatnya lebih ke rencana teknis saat melahirkan dan sesaat setelah melahirkan. Jadi ngga ada detil kaya HPL, mau lahiran di mana, sama bidan atau dokter siapa. Karena tujuan utama bikin Birth Plan ini adalah untuk memudahkan aku shopping tenaga medis yang mau mendukung aku buat lahiran hehe. Yang jelas isi Birth Plan ini ngecover semua keinginan teknis untuk melahirkan sealami mungkin dengan intervensi medis seminim mungkin.

VT adalah pemeriksaan vagina dengan memasukkan jari bersarung untuk mengukur bukaan. Pemeriksaan ini meningkatkan resiko infeksi dan hanya mengukur kemajuan fisik berupa bukaan. Padahal banyak faktor lain yang terlibat dalam kemajuan persalinan, meskipun tidak terukur (Amani Birth: Buku Kerja Siswa, hal 81 – 82). Jadinya aku ingin VT dua kali aja buat ngurangin resiko infeksi. Harapannya bikin kalem juga dengan ngga fokus ke ‘udah bukaan berapa ya, kapan dia keluar ya’ hehe. Jadi saat kontraksi nanti ingin fokus ke pernafasan perut dan milih posisi yang nyaman bareng suami buat ngurangin rasa sakit.

Fokus pada kontraksi, bukan pembukaan

AMANI Birth

Menurut cerita teman-teman yang sudah melahirkan, akan ada dorongan kuat banget buat mengejan padahal belum waktunya. Pernafasan perut kabarnya bisa membantu mengontrol keinginan ini. Aku inginnya, masih inginnya ya hehe, saat fase transisi atau saat bayi sudah siap untuk keluar dan biasanya kita disuruh mengejan untuk mengeluarkan bayi, aku inginnya mendorong lembut aja pakai pernafasan. Minimal, aku dapat mengontrol diri saat mengejan jadi tidak akan berlebihan sehingga kecil kemungkinan vagina akan robek. Rabbi yassir wa la tuassir, rabbi tamim bilkhaiir. Ya Allah mudahkanlah, dan jangan menjadikannya sulit. Ya Allah, berikan akhir yang baik. Amin

Untuk IMD (inisiasi menyusui dini) sendiri, inginnya yang adalah langsung, segera setelah bayi lahir. Sehingga bayi cukup diselimuti saja lalu ditempelkan ke Ibu. Tidak perlu dibersihkan berlebihan dulu, tidak perlu ditimbang dulu. Ditempelkannya juga jangan yang sekilas aja, yang lama, biarkan si bayi berinisiatif untuk menyusu. IMD seperti ini bisa jadi langkah psikis untuk healing ibu yang baru berjibaku melahirkan dan untuk rasa aman pertama bayi di pelukan ibunya.

Karena aku ngga mau episiotomi, aku pun harus berikhitiar gimana caranya agar perineum elastis. Berikut tips dari Amani untuk menghindari episiotomi:

  1. Jongkok atau Squatting dan Latihan Kegel selama hamil
  2. Tidur tanpa celana dalam untuk sirkulasi udara ke daerah vagina
  3. Hindari pakai sabun mandi di area vagina karena bikin kering
  4. Asupan lemak cukup agar perineum elastis
  5. Pijat perineal dengan minyak alami (olive oil, vitamin E, dll)

Jadi utamanya saat hamil adalah olahraga dan asupan nutrisi. Bismillaah semoga istiqomah.

Induksi dan pemecahan ketuban dengan disengaja ini adalah protokol rumah sakit jika dirasa ibu tidak mengalami kemajuan yang cukup cepat. Menurut kurva Friedman, lama persalinan ibu yang pertama kali melahirkan adalah sekitar 14 – 30 jam, sedangkan untuk ibu yang bukan pertama kali melahirkan adalah sekitar 8 – 10 jam. Sedangkan protokol di bidan, hanya 7 jam. Alamak gimana saya ngga ngeri sendiri hehe. Induksi dan pemecahan ketuban dengan disengaja ini memang untuk mempercepat proses meskipun ibu dan bayi sebenernya baik-baik aja.

Maka untuk persalinan yang lebih mudah, terhindar dari induksi dan intervensi medis lainnya, kita harus belajar untuk bekerjasama dengan badan kita sendiri. Beberapa temen dan saudara, juga influencer yang aku follow (haha), dan ibuku sendiri memberikan banyak nasihat baik yang sifatnya sama, yaitu agar kita berperan aktif saat melahirkan. Jadi kita yang ambil kendali atas badan kita sendiri. Belajar bekerja sama dengan badan kita ini insyaAllah akan sangat menguatkan saat persalinan nanti. Ini dia tips untuk persalinan yang lebih mudah yang udah dirangkum dengan apik oleh Amani Birth:

  1. Jalan-jalan terus di awal persalinan dan tetap aktif selama mungkin
  2. Putar pinggul pakai gym ball atau birth ball (ini yang paling seru hehe)
  3. Minum air yang banyak agar terhidrasi
  4. Jangan nahan pipis, jaga kandung kemih agar tetap kosong (caranya pipis yaa bukan terus ngga minum hehe)
  5. Rileks saat kontraksi makin kuat (pakai nafas kuda dan lebah, mengendurkan otot, mata terpejam) untuk mengurangi rasa sakit
  6. Jongkok untuk ngebuka panggul
  7. Jangan tidur telentang , tidur telentang melawan kerja rahim yang bergerak maju seiring kontraksi
  8. Pernafasan perut yang mendalam, perlahan, dan tenang untuk relaksasi dan oksigenasi bayi

Alhamdulillah, berbekal Birth Plan yang sudah disusun rapi ini akhirnya ketemu juga sama tempat bersalin yang cocok. Namanya Bidan Sri Dodie di Gunung Batu. Ngga sejauh Citayam, ngga episiotomi, mendukung lahiran normal untuk minus tinggi, tempatnya nyaman, budget cocok, bidannya mengedukasi dan mendukung untuk melahrikan secara alami, dan ownernya muslim jadi ibadah dan kondisi terfasilitasi dengan baik. Aku tetap disuruh ke dokter mata untuk memeriksakan retina aja sebelum lahiran, tapi ngga ditolak untuk lahiran normal di tempat bersalin ini. Aku malah diberi saran untuk ngasih asupan yang menguatkan retina seperti vitamin A dan ekstra food nya HPAI (ini bukan promo yaa). Dari awal diskusi dan fiks di tempat bersalin ini ngga episiotomi aja aku sampai yang bergetar bersyukur sekali rasanya. Alhamdulillahi ala kulli haal.

Birth Plan yang aku buat ini memang juga sebagai ikhtiar untuk mengurangi rasa sakit. Namun perlu diingat bahwa melahirkan adalah tahap baru berserah diri, level tawakal kita mau dinaikin sama Allah. Jika ada sakit, insya Allah itu akan menggugurkan dosa-dosa kita. Ku berusaha memurnikan niat selalu bahwa melahirkan ini termasuk jihad, yang kita harus bermujahadah saat melakukannya, mau bersakit-sakit, dengan keyakinan bahwa Allah menghadiahkan jihad ini sebagai ladang pahala yang luaaaaas, bekal investasi besar-besaran buat memberatkan amal timbangan kebaikan kita. Ini adalah waktunya, momen khusus bagi kita untuk bertawakal, berserah diri dalam rasa syukur terhadap rahmat dan kendali Nya.

Terakhir, Birh Plan ini adalah ikhtiar yang dilakukan dengan keyakinan bahwa ketetapan Allah selalu baik. Selalu berbaik sangka kepada Allah merupakan kunci buat ngademin diri agar ridha dengan Allah sebaik-baik perencana dan pelindung. Semoga kita nggak lepas-lepas untuk selalu berdoa dan memohon petunjuk ke Allah agar diberi jalan saat mengambil keputusan, terutama dalam proses persalinan ini nantinya.

Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya, dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut

Bukhari 5210, Muslim 4670

Sumber: Al Hajjar, Aisha. 2016. Amani Birth: Buku Kerja Siswa. Delaware. AMANI Inc.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *