Sebelum Memulai Berbenah

The question of what you want to own is really the question of how you want to live.

Konmari.com

Berbenah, sebuah terminologi yang sering disalahartikan sebagai beberes. Jika beberes adalah merapikan barang-barang yang berserakan, maka berbenah lebih dari itu. Seringnya beberes menjebak kita pada rutinitas yang tidak selesai. Beberes tapi berantakan lagi, lalu dibereskan kemudian kembali berantakan. Bikin stress kan ya. Berbeda dengan berbenah.

Berbenah artinya membenahi diri kita secara keseluruhan sebelum berbenah barang. Hasil dari berbenah adalah kerapihan dan kebersihan bisa terjaga jauh lebih lama, dan prosesnya pun lebih membahagiakan. Gitu sih yang aku pelajarin dari Lecture 1 kelas Gemar Rapi Batch 2.
Kunci agar berbenah menjadi bukan sekadar beberes adalah decluttering yang tuntas. Tuntas adalah kita benar-benar memilah barang apa saja yang benar2 kita butuhkan dan sukai. Kemudian diikuti dengan mindset yang sudah diatur untuk tidak asal membeli barang baru atau bahkan menambah storage. Jadi declutteringnya cukup sekali saja di awal. Enak ya. 

Namun kenyataannya, memilah barang dan mengatur mindset sedemikian rupa tidak semudah itu, Ferguso. Kita perlu menggali-gali lebih dalam lagi alasan kenapa kita berbenah agar decluttering bisa tuntas dan nggak terjebak lagi di rutinitas yang nggak selesai. Mengetahui kenapa kita harus berbenah akan menjadi penguat ke depannya saat kita mengalami krisis semangat atau sedang berada di titik terendah. Tiga poin berikut bisa membantu kita menelisik apa sih sebenarnya alasan personal kita untuk berbenah. 

1 List Clutter dan Dampaknya

Saya membuat list ini bersama suami. Karena terkadang, yang kita anggap clutter belum tentu demikian di mata suami. Begitu pula sebaliknya. Membuat daftar clutter memang sebaiknya kita lakukan bersama orang yang menghuni tempat yang akan kita declutter agar lebih efektif. Tinggal bareng, jaga kerapihan bareng dong. Bukan berarti jadi semacam bagi tugas ya. Lebih ke menyamakan value berbenah agar saya ngga moody jika suami ngga ngembalikan barang ke rumahnya setelah saya rapikan misalkan.  Dan pasangan juga mengerti kalau berbenah ini punya tujuan baik jangka panjang dan pendek yang manfaatnya juga balik ke kita lagi. 

List Clutter

Clutter di rumah saya terbagi menjadi 9 bagian besar (banyak banget ya, belum kalau udah dijabarin haha). Saya kategorikan dari lokasi clutter numpuk biar nggak pusing bikin daftarnya. Bismillaah, coba saya list pelan-pelan ya.

Gudang, rak peralatan dapur, meja dapur, rak printilan, lantai dapur, kamar depan, kamar belakang, ruang utama dan halaman. Astaga, banyak banget ya, hampir seisi rumah. Padahal tinggal di rumah juga cuma bertiga: saya, suami, dan baby M tapi barang udah kaya gimana hehe. Oke mari kita jabarkan para clutter ini agar makin teridentifikasi dengan lebih spesifik.

Clutter gudang adalah tangga, kursi tinggi, kardus-kardus besar (bekas mesin cuci, kipas angin, rak besar, printer, oven, set panci, dan semacamnya), keranjang isi kresek-kresek bekas belanja, boks-boks gemas dari olshop, boks-boks sepatu, ember isinya perintilan home improvement yg ukurannya besar (pipa, kuas cat, gergaji, dll), dan kardus besar isinya sprei banyak banget dari kado nikahan.

Clutter rak peralatan dapur adalah set blender dan set mixer (yang komponennya terpisah semua lokasi penyimpanannya), keranjang telur, kresek-kresek (lagi), loyang, kotak-kotak bekal, wadah-wadah dan ulekan kayu yang jarang dipakai, printilan yang tersebar dari bagian atas sampai bawah rak (baking paper, alumunium foil, plastic wrapper, gulungan sushi, kertas minyak, kotak-kotak plastik wadah brownies, plastik literan), mangkuk besar adonan, wadah cuci sayur, wadah rice cooker yang jarang dipakai, baki, teflon besar yang ngga muat di gantungan panci, botol-botol kaca, dan tudung saji.

Clutter meja dapur ada printilan di atas wadah beras (karet, teh, wadah yang jarang dipakai, roti tawar, tatakan panci) dan bumbu-bumbu botolan.

Clutter rak printilan ada kado bayi yang nggak disukai, boks jahit, stok toiletteries, buku, lilin, keran, pipa, kontainer isi peralatan elektronik, basket isi stationery, tas besar isi goodie bag, boks isi home improvement tools size kecil, basket isi lap, dan dua kontainer yang masing-masing seharusnya beriisi stok makanan dan stok toiletteries.

Clutter lantai dapur ada kaleng-kaleng bekas biskuit, dingklik, kardus isi printilan (stok kitchen towel, plat sepeda motor yang kadaluarsa, berbungkus-bungkus kacang yang kayanya juga udah kadaluarsa, toples-toples kaca yang jarang dipakai, potongan-potongan kardus, kresek-kresek, tutup-tutup ember, dan kantong-kantong kertas), rice cooker, dan motor blender. 

Clutter is caused by a failure to return things to where they belong. Therefore, storage should reduce the effort needed to put things away, not the effort needed to get them out.

― Marie Kondō, The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing

Clutter kamar depan ada kado-kado bayi (ada yang tidak disukai ada juga yang akan dipakai tapi masih nanti), baju-baju bayi yang sudah nggak muat sizenya, tas-tas, ember mandi bayi, tas besar berisi peralatan-peralatan bayi yang sudah tidak dipakai lg (pump, cup feeder, dll), dan rak mini berisi skin care dan make up.

Clutter kamar belakang ada keranjang setrika yang berisi barang-barang yang nggak tahu harus diapakan. Seperti baju-baju tamu yang ketinggalan, earbud baby m yang kegedan, jarik-jarik, dan pouch-pouch kain.

Clutter ruang utama adalah helm-helm, raket tenis, gulungan karpet, ember-ember cuci clodi dan baju kotor baby M, dan printilan di meja TV (kunci motor, mainan baby M, hard disk, dll).

Terakhir, clutter di halaman depan. Yaitu peralatan berkebun dan lap-lap kain yang nggantung terus di jemuran hehe.

Dampak Clutter

Jika saya amati lagi rincian clutter di atas, yang paling bikin saya geleng-geleng adalah rak peralatan dapur, rak printilan, clutter baby stuff di kamar, dan satu barang dari gudang yaitu si keranjang isi kresek yang lumayan bikin mager tiap ganti kresek keranjang sampah, saking amburadulnya. Saya dan suami juga masih suka agak lama menemukan barang yang rumahnya dari rak peralatan dapur dan rak printilan. Sebenernya rak printilan ini semacam tempat menampung kontainer kecil dan boks dari printilan yang sudah saya kategorikan. Tapi kok ya tetap berantakan lagi. Clutter baby stuff yang bikin paling mager karena udah nggak muat masuk kontainer khusus baby stuff. Jadi numpuk dan berserakan gitu di pojok kamar. Bikin geleng-geleng juga akhirnya hehe.

Geleng-geleng dan mager ini  menjadi semacam visual tidak menyenangkan, atmosfer negatif, yang menghambat saya buat produktif dan happy. Saya yang nggak bahagia itu sama aja ngambil hak-hak kebahagiaan anak bayi juga suami. Di titik terendah pernah sampai mager masak, mager cuci clodi, sampai mager makan saking mata sayu melihat pemandangan clutter. Bisa dibilang, dampak terparah clutter di rumah pada saya adalah mendzalimi diri sendiri sampai mendzalimi penghuni rumah. Astaghfirullah. 

Penyebab Clutter

Penyebab clutter ini sebenarnya adalah karena saya vakum beberes sejak melahirkan anak pertama. Saat itu saya berusaha berdamai dengan keadaan, dengan cara menurunkan standar kerapihan dan kebersihan rumah. Karena prioritas saat itu adalah keberhasilan menyusui dan kewarasan jiwa saya dengan memilih me time atau istirahat saat bayi tidur dibandingkan dengan masak, apalagi berbenah. Saya bersyukur suami masih mau berusaha membereskan dan merapikan. Saya tidak membiarkan diri saya protes dengan kondisi rumah yang bagi saya masih berantakan untuk menghargai jerih payah suami, mengambil alih semua urusan domestik agar saya bisa tenang merawat bayi. 

Sekarang, setelah rutinitas baby M mulai terpola, saya sudah bisa mulai menyelesaikan urusan domestik satu demi satu. Saatnya bagi saya untuk kembali berbenah rumah. Kelahiran baby M membuat saya mengusahakan diri untuk benar-benar mindful, lebih sadar, dalam beraktivitas domestik maupun saat bersama bayi dan suami. Makanya saya pun berazzam untuk mindful juga dalam berbenah. Yang berarti juga decluttering secara seharusnya dan semestinya.

2 Tujuan Berbenah 

Tujuan saya sederhana, menjadikan rumah ‘rumah’ untuk penghuninya. Nyaman untuk suami melepas lelah,  menerima tamu, juga beraktivitas dengan bayi dan saya. Bersih, rapi, dan ramah untuk tumbuh kembang baby M. Menyenangkan untuk saya pandang dan saya huni. Membuat saya berbinar-binar untuk produktif menjadi manajer keluarga. 

3 Motivasi Berbenah

Tujuan sederhana dengan clutter yang sebaliknya tentu akan membutuhkan penguatan-penguatan personal, penyemangat, pengingat, atau bahasa mudahnya mungkin adalah motivasi, agar tidak mudah tumbang di tengah jalan. Bagi saya, idhoatul maal dan bekal pengasuhan anak merupakan motivasi paling kuat untuk berbenah.

Idhoatul Maal adalah menyia-nyiakan harta. Uang yang kita punya itu kita pakai untuk beli apa aja. Barang yang udah kita beli akan kepakai atau malah jadi sia-sia?  Sia-sia itu bisa jadi nggak kepakai lalu numpuk, atau bisa juga dipakai tapi bikin berantakan rumah. Idhoatul maal ini erat kaitannya dengan hisabnya harta kita, untuk apa aja dia dibelanjakan. Hisab tidak hanya pada harta aja tapi juga umur dan ilmu kita. Umur ini apakah dihabiskan untuk amanah menjalankan satu aspek dari menjadi manajer keluarga yaitu berbenah. Juga ilmu berbenah dengan ikhtiar mengikuti kelas berbenah ini, apakah hanya digunakan untuk menyombongkan feed demi people appraisal atau benar-benar diamalkan sepenuh hati. Bukankah iman, yakin tidaknya kita dengan janji Tuhan, juga segala ketetapan-ketetaan baikNya, dicerminkan dari kebersihan kita? Dengan mengingat bahwa Allah tidak menyukai idhoatul maal dan kenyataan bahwa hisab masih terasa menegangkan, keterlaluan sekali jika saya masih bermalas-malasan dan menunda-nunda untuk berbenah. 

Saya juga meyakini berbenah erat kaitannya dengan menjadi teladan baik dalam menanamkan value bersih dan rapi pada anak. Anak itu sesungguhnya cerdas dan pembelajar. Mereka dalam alam bawah sadarnya akan selalu meniru apa yang orangtua mereka lakukan. Saya tidak ingin gaya hidup berantakan menjadi dosa jariyah yang saya turunkan ke anak. Wiring atau nurturing value gemar rapi pada anak selain menjadi bentuk mindful parenting, saya harapkan bisa juga menjadi amal jariyah mengajarkan salah satu value dari iman.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara … (diantaranya) idhoatul maal (menyia-nyiakan harta).

SR Bukhari No. 1407 dan Muslim No. 593

Overall, menurut saya clutter erat kaitannya dengan kondisi psikis kita. Semakin cepat kita selesai dengan diri kita, urusan seperti clutter juga akan semakin mudah untuk dibenahi. Harusnya juga, jika mengaku beriman, jika teguh ingin menjadi muslim yang kaaffah, clutter bukanlah hal yang bisa dibiarkan berlama-lama ada. Banyak sekali urusan ummat yang masih harus diselesaikan tanpa diri kita sendiri masih menciptakan clutter dari dalam rumah. 

Kenapa harus berbenah sudah terjawab, dengan menggali lebih dalam clutter kita, tujuan, dan motivasi berbenah. Kini saatnya memulai. Doakan ya agar decluttering tuntas dan selalu bersemangat berbenah. Selamat memulai berbenah dengan bahagia ya, ibunya baby M.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *