Strategi Efektif Berbenah Rumah Bersama Pasangan

Pernah nggak ngalamin stress gara-gara kita udah berbenah rumah terus diberantakin lagi sama pasangan kita? Atau malah jadi mager berbenah gara-gara hopeless, toh pasangan nggak mau ikut jaga kerapian. Atau ada juga nggak yang pasangannya merasa udah berbenah tetapi dengan standar kerapian rumah yang berbeda dengan kita?

Aku ngacung deh, hehe.

Rumah dengan status kepemilikan bersama memang mau nggak mau memaksa kita untuk berbenah bersama pasangan. Stress akan muncul kalau gaya berbenah kita go with the flow, nggak pakai strategi apa-apa. Padahal berbenah sendirian aja ada tekniknya. Apalagi yang melibatkan dua individu yang jelas-jelas berbeda. Udah beda jenis kelamin pasti ngaruh juga ke beda pendekatan penyelesaian masalah di rumah. Kita dan pasangan yang datang dari lingkungan yang berbeda juga ngefek ke beda pola pikir, beda kebiasaan berbenah, dan beda prinsip buat decluttering.

Yang sama adalah kita satu rumah. Berbenah rumah otomatis menjadi kegiatan bersama pasangan, yang butuh strategi biar efektif jadi nggak bikin stress. Tanpa strategi, mau sebagus apapun metode berbenah kita, percuma saja tanpa mempersiapkannya dengan strategi untuk melakukannya bersama pasangan.

Strategi-strategi ini aku rangkum dari beragam diskusi panjang pagi siang malam bersama para ibu dengan concern sama di kelas Gemar Rapi. Dasar teorinya juga aku ambil dari materi Lecture 2 kelas berbenah itu. Materinya sih tentang Pilar-pilar dari Metode Gemar Rapi, yang aku relate (dan ternyata memang nyambung) dengan berbenah bersama pasangan. Setelah aku coba sendiri, strategi-strategi ini efektif banget buat nggandeng pasangan berbenah rumah bersama.

1) Membuat Kesepakatan Bahwa Berbenah Dilakukan Pemilik Barang

Sebelum membuat kesepakatan, pastikan dahulu kita tahu kenapa kita harus bertanggung jawab pada barang masing-masing meskipun judulnya istri yang jadi mandor berbenah. Karena yang tahu barang itu masih mau dipakai atau nggak, masih disukai atau udah nggak layak pakai kan dari pemiliknya. Yang tahu alat pertukangan mana yang masih berfungsi kan suami, misalkan. Jadi penting untuk sounding pada pasangan bahwa barang ya dibenahi pemilik barang itu.

Pasangan Sepakat Nggak?

Suamiku sepakat dengan aturan berbenah barang dilakukan pemiliknya. Tapi beliau bilang Yes nya nggak instan ya hehe. Aku pakai pendekatan spiritual dan argumen bekal pengasuhan anak.

Kaya gimana tuh?

Jadi aku ngobrol santai gitu sama suami, ngebahas hisab dan idhoatul maal. Tentang idhoatul maal udah aku bahas di postingan tentang motivasi sebelum berbenah. Kalau hisab adalah perhitungan pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang kita punya dan lakukan. Termasuk barang yang kita miliki. Berbenah barang di rumah adalah salah satu bentuk ikhtiar kita untuk mengurangi beban hisab di akhirat nanti. Membuat kesepakatan barang dibenahi pemiliknya serta bertanggung jawab terhadap barang masing-masing juga bisa jadi upaya istri meringankan hisab suami, dan suami yang meringankan hisab istri. Sebuah long term goals yang penting, bukan?

Tanggung jawab terhadap barang milik kita sendiri adalah bentuk moral positif yang aku dan pasangan sudah sepakati untuk diajarkan ke anak. Ketika suami awalnya menunjukkan (sedikit) keengganan untuk ikut berbenah, aku mengingatkan bahwa pengajaran moral terbaik pada anak adalah memberikan teladan. Udah gitu aja. Suami jadi back on track lagi dan mendukung kesepakatan berbenah barang dilakukan pemiliknya.

Kalau Nggak Sepakat, how?

Nggak sepakat ini aku korelasiin juga dengan worst case saat berbenah di masa depan ya. Misal suami sibuk sedangkan yang stay full di rumah kan aku. Anakku sekarang juga masih bayi, tapi aku harus siap juga dong nanti dengan kondisi anak-anak yang masih belajar untuk memahami status kepemilikan barang. Jadi penting buat bikin list prevention juga biar berbenah tetap jalan dan kitanya juga tetap waras

Pasangan kita itu simpel sebenernya. Mereka butuh bukti nyata. Jika dari awal tidak sepakat, bisa jadi karena kita seolah berbagi beban instead of kebahagiaan. Maka menunjukkan bahwa kita happy berbenah, suami juga pasti ingin ikut terlibat. It takes time. Tapi percayalah bahwa kebahagiaan itu menular. Dan suami biasanya akan lebih cepat mendukung jika yang kita ajak lakukan tampak seperti kebahagiaan, bukan beban.

Balik lagi ke worst case. Misalkan suamiku dari awal sepakat berbenah dilakukan oleh pemilik, lalu di tengah jadwal berbenah ada kondisi di mana beliau nggak bisa hadir karena pekerjaan atau sibuk. Maka aku akan memperbolehkan suami untuk mendelegasikan berbenah barangnya ke aku, dengan kategori barang sesuai yang beliau inginkan. Dengan kemauan suami berbagi kategori barang yang harusnya dia benahi menunjukkan bahwa beliau masih peduli walaupun tidak bisa ikut eksekusi. Apalagi kondisi worst case kan harusnya nggak muncul setiap pekan. Tetapi misalkan suamiku berhalangan sampai dua pekan berturut-turut, ada yang harus aku evaluasi berarti dari jadwal berbenah. Menyusun lagi bersama pasangan, jadwal yang memungkinkan beliau berbenah rumah bersamaku. Jadi kepikiran juga buat merubah tagline Jadwal Berbenah Rumah menjadi Jadwal Romantis di Rumah. Biar jadi afirmasi positif hehe.

2) Menyamakan Mindset Berbenah

Berbicara mindset yang sejatinya mengatur (set) pikiran (mind) kita, membuat kita dengan mudah menyeleksi mana yang satu frekuensi dengan kita dan mana yang tidak. Biasanya kalau udah satu frekuensi, ngobrol bisa sampai berlama-lama saking nyamannya bahkan bisa sampai mendukung secara nyata gagasan satu sama lain. Bahasa gampangnya, begitu mindset udah sama maka eksekusi bersama menjadi urusan mudah. Kalau mindset berbenah kita dan pasangan beda, berarti harus disamakan dulu.

Fixed Mindset vs Growth Mindset

Kita biasanya suka men-judge duluan mindset berbenah pasangan dengan label fixed mindset. Fixed mindset adalah pola pikir tetap yang sudah mengakar dalam dan cenderung susah untuk diupgrade. Padahal bisa jadi pasangan juga tidak berkenan tetapi masih mau tetap bersabar pada beberapa sikap kita, produk dari mindset kita yang nggak cocok dengan value pasangan. Jangan sampai kita terlalu fokus merubah mindset pasangan sampai kitanya yang malah keras kepala dan keras hati, merasa cara berbenah paling benar dan jadilah fixed mindset. Melabeli suami tidak mau berubah atau nggak mau diajak kerja sama.

Sifat dasar manusia sebenarnya kan fitrah untuk jadi baik. Meyakini hal ini, kita akan auto prasangka baik ke suami. Percaya bahwa semua bisa berproses, semua bisa bertumbuh. Entah perlahan atau cepat, termasuk mindset. Tinggal kitanya aja yang jangan lupa menyirami prasangka baik ini dengan sabar yang penuh cinta dan kebahagiaan. Ingat lagi bahwa pasangan pasti ingin melakukan yang terbaik untuk kita. Hargai niatnya ini (walaupun mungkin awalnya masih terselubung keengganan ikut berbenah hehe) dengan terus sounding dengan lembut dan ceria tentang mindset yang kita mau. Dengan percaya bahwa mindset pasangan juga bisa bertumbuh. Bahwa kita sama-sama punya growth mindset. Gitu sih yang harus kita renungkan dulu sebelum menyamakan mindset.

Ngobrol, yuk!

Menurutku pendekatan paling pas untuk mengeksekusi misi menyamakan mindset ini adalah dengan ngobrol, ngobrol, dan ngobrol. Sempatkan, selipkan, nggak usah ngegas, pantang patah semangat, dan kemas seringan mungkin. Kemarin pas mau mulai ngobrolin mindset, langsung ada counter attack gitu dari pasangan. Aku langsung ngegas juga akhirnya, nerjang balik. Akhirnya aku pundung dan pasangan pun jadi bingung hehe. Lain kesempatan aku coba lagi dengan berusaha enggak sengegas itu, caranya dengan pasang mode manjaaah. “Mas aku tuh pengen sharing aja, ceritaaa”. Pernah juga pakai jurus baper, bercucur air mata sambil sesenggukan bilang, “Aku kan pengennya berbenah rumah bareng Mas, nggak sendirian”. Haha. Ternyata yang paling efektif adalah malah saat aku nggak rencanain waktunya buat diskusi.

Timingnya pas kita berdua lagi sama-sama santai. Aku nggak ngegas, nggak baper, nggak manja-manja. Biasa aja. Percakapan akhirnya bisa ngalir. Aku bisa ngungkapin mindset yang aku pengen apa, mindset yang aku lihat dari suami gimana. Suami juga akhirnya terbuka mengomentari mindset aku, dan maunya dia gimana sebenernya. Jadi pantang menyerah buat diskusi adalah kunci.

Mindset Kami Sebelum Berbenah Bersama

Ternyata aku dan pasangan sama-sama punya mindset lama yang beda satu sama lain. Aku yang konsumtif dan generasi instan serta suami dengan keyakinan bahwa metode berbenah klasik sudah cukup untuk menjaga kerapian rumah dan bahwa urusan domestik adalah tugas ibu saja.

Mindset Lama

In short, we used to believe that:

  • Konsumtif dan Instan adalah Hal Wajar untuk Menyelesaikan Permasalahan Berbenah
  • Berbenah Rumah Cukup dengan Metode Klasik
  • Urusan Domestik Hanya Tugas Ibu

Sebuah Curhat tentang Mindset Lama

Aku tuh suka menyelesaikan permasalahan berbenah di rumah dengan impulsif belanja barang baru dengan modus demi kerapian rumah. Kaya beli tempat sampah baru buat milah sampah padahal ember juga masih banyak. Beli kontainer baru padahal kontainer-kontainer yang udah ada nggak jelas apa aja isinya. Beli rak keranjang tiga tingkat dengan dalih keranjang setrikaan udah nggak muat nampung baju kering yang habis dijemur. Tetep aja akhirnya numpuk di rak keranjang baru bahkan sampai tumpah-tumpah. Semacam itu.

Aku juga nggak suka banget ngelap dapur berminyak pakai lap kain. Atau melap permukaan rumah lainnya dengan lap. Lap kainku cenderung berminyak juga dan bau walaupun udah dicuci. Aku akhirnya give up dan dengan antusias menggunakan kitchen towel untuk bersih-bersih nggak cuma dapur tapi juga seisi rumah. Mas suka ngeri sama jumlah gulungan tisu kitchen towel yang aku habiskan dalam sebulan.

Suami juga nggak setuju aku pakai plastic wrap buat ngebungkus potongan buah yang besar. Aku baru tahu ini belakangan, makanya dulu waktu aku ambil plastic wrap di rak swalayan kok mukanya nggak happy hehe. Dan suami cenderung lebih suka aku belanja di kios sayur yang agak jauh dari rumah daripada nyetop mamang tukang sayur yang lewat. Karena sayur di kios belum diplastikin, dikemas dalam jumlah kecil gitu kaya di mamang tukang sayur. Padahal kan lebih gampang nyetop mamang tukang sayur, dan siapa peduli plastiknya banyak?

Cara aku nyimpen sayur dan protein hewani di kulkas juga jadi concern Mas. Karena aku suka asal simpen aja gitu seplastiknya di dalem kulkas. Biasanya Mas nanti yang ganti bungkusin sayur pakai goodie bag dan ganti plastik bungkus protein hewani pakai wadah. Setelah kupikir-pikir, pasanganku udah sangat bersabar banget ya menghadapi mindsetku yang serba mau instan ini huhu.

Pendekatan penyelesaian masalah secara konsumtif dan instan ini menandakan aku yang merasa cukup berbenah dengan metode klasik. Nah kalau metode berbenah klasik sepertinya memang udah jadi kultur orang Indonesia pada umumnya ya. Berbenah yang cuma di permukaanya aja. Yang penting barang yang berantakan dirapikan, lap, sapu, pel, beres. Tapi terus suka berantakan lagi, yang bikin sumbu sabar jadi makin pendek karena menjadi rutinitas yang tidak selesai. Makanya aku mengikhtiarkan untuk ikut kelas berbenah.

Jadi inget waktu awal ngajuin proposal buat ikut kelas, Mas dulu mikirnya ngapain sih harus ikut kelas dulu baru mau beres-beres? Kalau mau bersih yaudah tinggal diberesin aja. Dan segala argumentasi metode berbenah klasik lainnya. Aku dan Mas akhirnya banyakin ngobrol tentang maunya aku yang pengen bikin rumah jadi bersih dan rapi dengan cara yang benar, nggak gampang berantakan lagi, pengen sama-sama jaga kerapian bareng suami, dan semua perkara berbenah rumah yang butuh guide dari praktisi berbenah yang sesuai sama kultur spiritual kami. Aku menekankan bahwa aku nggak mau sekedar berbenah, aku ingin jaga kerapian jadi gaya hidup keluarga kami.

Dah kehadiran pihak ketiga seperti kelas berbenah akan menjadi penengah yang yang fair. Mas pun mengizinkan aku ikut, dan setuju untuk mendukung segala bentuk perubahan berbenah rumah nantinya.

Berbenah juga dalam nilai keluarga kami masuk ke kategori ranah domestik yang dilakukan istri. Sejak gadis aku memang mengazzamkan bahwa urusan rumah menjadi tanggungjawabku sebagai istri. Tetapi seiring prioritasku yang mulai mendahulukan menjadi madrastul ula sebelum rabbatul bayt, aku merasa mindset lamaku harus berubah juga agar urusan domestik selesai tanpa mengambil hak anak bayi untuk dibersamai. Agar perkara berbenah tidak menguras energi dan waktu demi prioritasku itu.

Berbagi peran domestik menjadi isu yang aku angkat kemudian untuk didiskusikan. Aku harus bersyukur bahwa sejak melahirkan, suami mengambil alih tugas mencuci baju. Latar belakang keluarga suami memang begitu. Ayah mencuci baju, ibu mencuci piring. Yang aku juga terima awalnya.

Sampai keluarga Mas datang, lalu aku yang baru saja mencuci semua piring kotor kemudian melanjutkan memandikan baby M, kesal melihat ada satu piring kotor dan sendok kotor teronggok di situ. Gosh, wastafel udah bersih ya. Bisa-bisanya nggak mau nyuci piring bekas makan sendiri padahal satu doang. Tega banget nggak ngehargain aku yang lagi maintain dapur biar nggak ada piring kotor numpuk. Nggak lihat apa yang punya rumah juga sambil ngurusin bayi. Emangnya aku nggak punya agenda dan amanah lain yang harus diselesaikan apa. Gituu terus ngedumel seharian haha astaghfirullahh, sampai akhirnya curhat panjang ke suami. Tentang aku yang nggak habis pikir kok bisa-bisanya nggak dicuci padahal tinggal cuci aja, nggak sungkan apa sama nggak adanya tumpukan piring kotor. Lalu berlanjut ke aku yang menyerang mindset keluarga pasangan, dimana berbenah termasuk cuci piring adalah tugas ibu. Mertuaku memang mencuci semua piring kotor. Padahal anak-anaknya sudah dalam usia bisa mencuci piring sendiri.

Diserang begitu Mas spontan langsung defense, bertanya balik memang Ayahku juga mencuci piring sendiri? Yang jawabannya adalah tidak. Aku menyadari kalau sudah terlalu ngegas sehingga tanpa sadar hanya blaming, keluar jalur dari tujuan diskusi. Tujuanku kan mendiskusikan berbagi peran untuk memprioritaskan pengasuhan anak, seperti yang udah aku jelasin panjang lebar di postingan tentang motivasi sebelum berbenah. Pengasuhan yang termasuk memberikan teladan tanggungjawab. Jika ayah tidak mencuci piring sendiri bagaimana anak mencuci piring sendiri juga?

Mas pun akhirnya ikut cooling down dan kami pun mengatur pembagian peran domestik dengan batasan-batasan tertentu. Misalkan ya tadi itu, aku mencuci semua piring tapi Mas juga mengusahakan mencuci piringnya sendiri. Aku yang mengatur agar barang-barang masuk ke dalam rumahnya dan Mas mau untuk mengembalikan barang ke rumahnya setelah dipakai. Berbagi peran domestik, tidak memandang ayah atau ibu, dengan rasa kerja sama pun kami jadikan mindset baru keluarga kami.

Upgrade Ke Mindset Baru

Ketika kami ngobrolin tentang gimana menyamakan mindset lama kami, kami menyadari bahwa mindset tersebut nggak cuman beda tapi juga rasanya nggak ideal untuk terus kami jalani. Maka kami mengikuti saran dari kelas berbenah untuk meg-upgrade mindset lama kami ke mindset baru.

Mindset Baru

  • Mindful Belanja dan Ramah Lingkungan sebagai pertimbangan penyelesaian masalah berbenah di rumah
  • Berbenah dengan Ilmunya bersama Gemar Rapi (rumah akhirnya rapi dengan individu yang auto jaga kerapian, seperti kultur negera maju, dibantu dengan belajar bersama Gemar Rapi)
  • Domestik Tanggungjawab Bersama

3) Menyusun Kebiasaan Baru

Produk dari mindset adalah habit, kebiasaan. Mindset baru kami yang ingin seperti orang dari negara maju yang auto jaga kebersihan dan kerapihan, tentu harus kami mulai dengan melakoni kebiasaan baru. Ibarat halaman rumah, yang kalau tidak ditanami bunga-bunga, maka yang terus tumbuh rumput liar. Kebiasaan baik juga begitu. Harus kami lakukan, kalau tidak sama saja kami kembali ke kebiasaan lama. Berikut kebiasaan baru yang aku dan suami susun dalam rangka mendukung kegiatan berbenah bersama.

Mindful Belanja

Mempertimbangkan kembali sebelum membeli barang, apakah itu kebutuhan atau keinginan. Juga tidak menyelesaikan permasalahan clutter dengan membeli barang baru, storage misalnya atau tempat sampah, dan lain-lain. Memeriksa isi kulkas sebelum belanja stok sayuran baru juga aku jadikan kebiasaan baru agar nggak ada kasus lagi kalap nyetok padahal udah ada sayur kelamaan di kulkas karena nggak segera diolah.

Ramah Lingkungan

Untuk secara drastis berubah jadi zero waste mungkin akan mengagetkan di awal berbenah. Biar nggak cepat patah semangatnya, aku mulai dengan less waste dulu. Minimal sudah menerapkan green living agar kebiasaan sesuai mindset baru, Gemar Rapi yang valuenya ramah lingkungan.

Aku mulai menyimpan sayur di kulkas dalam tas kain. Aku meneladani Mas dengan memakai goodie bag. Belanja atau membeli makanan dengan wadah yang kubawa sendiri. Segera mematikan kipas dan lampu yang tidak dipakai. Mengurangi beli makanan atau minuman yang dikemas botol plastik atau sachet kecil. Oiya alhamdulillah aku udah konsisten menggunakan clodi (cloth diaper) untuk baby M, sepanjang hari bahkan saat keluar rumah. Kami juga memasukkan memilah sampah serta perlahan mengganti tisu dan kitchen towel dengan lap kain dalam daftar kebiasaan baru kami agar ramah lingkungan saat berbenah rumah nanti.

Berbenah dengan Ilmunya

Belajar dengan Gemar Rapi memang upaya agar aku dan pasangan dapat berbenah rumah secara semestinya. Namun bila nggak dibarengi dengan serius mengerjakan Task dan mempraktikkannya di rumah, sama saja akan menjadi ilmu yang tidak diamalkan. Maka aku harus makin komitmen dengan kandang waktuku. Agar kegiatan belajar berbenah ini efektif membawa perbaikan kultur menjaga kerapian bersama di rumah tetapi juga tidak mengganggu quality time bersama pasangan dan anak bayi. Caranya dengan disiplin mengikuti diskusi, mempelajari materi dengan sungguh-sungguh, dan tidak menunda-nudan mengerjakan Task. Hamasaaaaah!

Bekerjasama Menjaga Kerapihan

Ini lanjutan dari upgrade mindset domestik hanya tugas ibu menjadi domestik tanggung jawab bersama. Bekerjasama menjaga kerapihan adalah kebiasaan baik yang aku yakini akan sangat membawa pengaruh positif jangka panjang di keluarga kami. Misal dengan mencuci piring kotormu sendiri. Mengembalikan barang ke rumahnya setelah dipakai, termasuk sisa barang konsumsi (read: sampah). Meletakkan sandal dan sepatu dengan rapi. Semua hal-hal kecil yang bila dibiasakan akan berefek besaaaar sekali terhadap kerapihan rumah.

4) Mendesain Lagom Versi Kita Sendiri

Lagom is not too little, not too much, and just right.

Swedish

Pertama mendengar kata lagom, yang muncul pertama kali di kepala aku dan pasangan adalah desain interior ala Skandinavia gitu. Pernah dengan juga tipis-tipis bahwa model desainnya punya prinsip menghadirkan keseimbangan hidup penghuninya. Intinya prinsip Lagom ini jadi ide hunian minimalis yang sedang kekinian sekarang. Sempat pesimistis awalnya karena menduga apakah berbenah berarti kami harus mendekor ulang seluruh rumah menjadi minimalis ala Skandinavia?

Jawabannya jelas enggak, hehe.

Minimalis dan Lagom mungkin senada, yaitu tidak berlebihan. Namun menurutku dan Mas, pada penerapannya minimalis lebih sering menggunakan tagline less is more. Terlalu sedikit berarti melanggar salah satu indikator lagom yaitu not too little. Lagom mengutamakan cukup dan moderasi atau prinsip keseimbangan. Tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu kekurangan.

Gaya Hidup Islami

Jalan pertengahan ini sebenarnya merupakan gaya hidup islami. Tidak berlebih-lebihan dalam ketaatan dan ibadah agar tidak mudah lelah, misalkan, termasuk sunnah Rasulullah SAW. Tetapi juga tidak meremehkan agar tidak kehilangan pahala kebaikan yang banyak. Adapula ishraf atau berlebihan dalam konsumsi. Bisa dari jumlah yang berlebihan atau konsumsi hasil riba atau suap. Ishraf ini masuk tabzir juga karena masuknya jadi menghambur-hamburkan harta (sehingga mubazir) untuk konsumsi yang berlebihan.

Amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus walaupun sedikit

HR. Ahmad (VI/165), Muslim (no. 783 (218))

Terminologi cukup juga dikenal dalam Islam sebagai Qana’ah. Menyadari luasnya rahmat Allah serta tidak meremehkan nikmatNya. Sehingga kita tidak akan terjebak f.o.m.o (fear of missing out) terhadap nikmat orang lain, juga akan tenang dan nyaman menjalani hidup karena yakin bahwa ketetapan rizki Allah pada diri kita itu yang terbaik.

Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.

HR. Ibnu Majah no. 4138,

Produktivitas dengan Lagom

Produktivitas dan aktifitas sosial kita pun idealnya seperti lagom ini. Seimbang dengan agenda-agenda baik. Ada agenda domestik, membersamai bayi, waktu berkualitas dengan suami. memberdayakan diri sendiri, kontributif pada lingkungan sekitar, bahkan me time!

Prinsip Lagom Saat Decluttering

Lagom akan sangat powerful bila sudah menjadi gaya hidup saat berbenah. Bukan dengan mendekor ulang rumah menjadi gaya Skandinavia. Lagom justru membuat kita berhemat. Karena kita akan berpikir ulang untuk membelanjakan harta kita. Kita akan aware untuk tidak berlebihan, apakah belanjanya nanti akan sesuai kebutuhan atau hanya menuruti keinginan. Jadi tema dekor rumah yang minimalis dan bersih tidak perlu sampai kita beli perabot baru. Lagom yang berarti sederhana dan seimbang itu auto mengajak kita untuk mempertahankan barang lama yang masih kita sukai. Makanya, lagom ibarat pertanyaan pamungkas juga saat kita memulai decluttering. Atau bisa dibilang lagom adalah kunci awal decluttering. Sehingga berbenah akan lebih terorganisir dengan lagom.

Lagom dengan Lingkungan

Lagom yang sifatnya seimbang tidak hanya ke diri sendiri dan kelompok tetapi juga lingkungan, mempunyai semangat sustainable. Berkelanjutan, yang berarti bisa dipakai terus menerus. Di kelas Gemar Rapi, sustainable ini direlasikan dengan ramah lingkungan. Kembali ke gaya konsumsi kita juga sebenarnya. Dengan mengkontrol konsumsi, maka secara otomatis kita pun menjaga lingkungan dari waste yang sia-sia. Dari lagom pada diri sendiri, nantinya akan lagom juga akhirnya terhadap lingkungan.

Disclosure

Berbenah rumah sesungguhnya merupakan sebuah mega project. Adanya pasangan untuk membersamai kita berbenah rumah merupakan anugerah besar yang harusnya disyukuri. Yaitu dengan menjaga pikiran agar selalu yakin bahwa pasangan sebenarnya juga mau mendukung kita berbenah.

Strategi-strategi di atas sebenarnya adalah bentuk lain pembelajaran komunikasi efektif serta alasan hadirnya intimate quality talk bersama pasangan. Berikut dua fruit pengingat agar berbenah rumah bersama pasangan menjadi proses yang ringan dan juga ngademin.

Siapa yang menginginkan khusnul khatimah di penghujung umurnya, hendaknya ia berprasangka baik kepada manusia

Imam Syafi’i

Tidak ada balasan kebaikan selain kebaikan pula

QS Ar Rahmaan Ayat 60

Selamat menjaga prasangka. Selamat berlimpah kebaikan. Selamat berbenah bersama pasangan!

Related posts

2 Comments

  1. Baca ini auto ngaca.
    Kami hanya berpedoman pada rule ‘candak cekel’ yang artinya siapa saja yang sempat beberes ya dia bantu beberes.
    Sepertinya tips-tips di atas perlu mulai saya terapkan 🙂

    1. Iya mba kalau candak cekel, bebersih rumah suka jadi rutinitas yang nggak selesai. Makanya harus ada plan. Selamat nyobain strateginya ya mba 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *