Anti Alergi Bersama Al Quran

Perempuan terbiasa dididik untuk produktif di segala ranah. Produktif di dalam maupun di luar rumah. Produktif dengan pekerjaan yang menghasilkan maupun yang tidak menghasilkan secara finansial (misalkan mengelola komunitas, masyarakat, dan lain-lain). Saking passionate-nya, slot waktu untuk Al Quran ‘terpinggirkan’ dengan list to do yang harus segera dicentang. Ketika load kerja mulai turun, istirahat dipakai untuk nonton daripada tilawah. Hati seperti sudah terbiasa alergi bersama Al Quran.

Katanya yakin Al Quran sebagai petunjuk, obat, pengingat, dan mukjizat. Nyatanya banyak yang tidak menepati apa yang diyakini. Sudah berapa lama kita alergi bersama Al Quran? Tilawah Al Quran hanya sekedar menjadi checklist harian. Hafalan Al Quran hanya sekedar menambah jumlah angka untuk dipajang. Janji duduk bersama Al Quran hanya sebatas berupa schedule di jurnal.

Allah akan menguji apa yang kita yakini, termasuk Al Quran. Yuk kasih iman booster-booster di bawah ini agar tidak lagi alergi bersama Al Quran.

1) Get Obsessed with Al Quran

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amal shalih yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.

Al Kahfi 46

Harta yang dimaksud di sini adalah semua hal yang menjadi fokus dan obsesi kita. Segala hal yang di mata kita itu indah, keren, dan mengagumkan. Jadi harta dalam ayat ini tidak melulu tentang aset tapi juga bisinis dan pekerjaan yang menghasilkan maupun tidak menghasilkan secara finansial.

Anak-anak juga menjadi fokus, obsesi, dan keindahan di dunia. Terasa sekali kan bagi para parent. Banyak banget training-training tentang anak muncul. Kelas Promil, Prenatal, PAUD, menyusun kurikulum pendidikan anak, dan banyak lagi.

Harta versi blogger kaya aku gini adalah maintain website dan monetisasi blog. Jelas-jelas memang jadi fokus waktu dan tenaga. Juga obsesi mengingat ada pencapaian-pencapaian yang ingin diraih. Bisa kuat banget tuh utak-atik Page Builder atau bikin artikel berjam-jam tapi mata auto ngantuk ketika bersama Al Quran. Kalau anak, jelas proses pengasuhannya. Bisa kuat banget ikut workshop parenting bersesi-sesi tapi pelit kasih slot waktu untuk bersama Al Quran. Bisa begadang merancang kurikulum dan aktivitas anak tetapi murojaah di sepertiga malam selalu terlewat. Hiks.

Tetapi kata Allah, amal shalih lebih baik di sisi Allah daripada harta dan anak-anak. Kerja, blogging, mengurus rumah, dan mendidik anak memang bisa menjadi amal shalih. Tapi jangan lupa dengan amal shalih yang kita rutinkan. Ibadah bersama Al Quran salah satunya. Tilawah sehari sejuz kah. Murojaah saat shalat di sepertiga malam kah. Tadabbur Al Quran kah. Bersungguh-sungguh ‘menjaga’ Al Quran kah.

DI Al Kahfi 47-49, aslinya kita di dunia ini sedang mempersiapkan kehidupan di akhirat. Tidak ada dari kita yang luput dari pengumpulan manusia. Jangan sampai isi kitab ketika menghadap Allah isinya hanya dunia saja. Dari 24 jam waktu kita sehari, berapa banyak waktu yang kita berikan untuk Al Quran? Jangan-jangan, kita banyak luput dan lalai.

Padahal obsesi kepada Al Quran akan menjadi catatan baik di kita amal nanti. Tentang bagaimana waktu, pikiran dan tenaga dekat dan akrab dengan kalamullah. Interaksi yang intens dengan Al Quran juga menjadi indikator bagusnya iman kita. Dan yang pasti, mengutamakan Al Quran menjadikan agenda-agenda lain menjadi terorganisir. Saat dekat dengan kalam Allah, Allah sendiri yang akan mengatur waktu-waktu kita.

Kerasa banget bedanya menyelesaikan target tilawah dulu sebelum ngeblog dengan ngeblog dulu lalu mengakhirkan tilawah (yang bisanya berakhir skip dan ‘Aaa rapel aja besok’). Rasanya juga kacau banget ketika memulai hari tanpa interaksi dengan Al Quran sama sekali. Anak lebih rewel, bawaannya emosi dan baper terus sama suami, kepikiran list to do seharian.

Obsesi dan dekat dengan Al Quran itu mendatangkan ketenangan hati. Karena Al Quran menurunkan sakinah. Pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang sakinah tentu jadi lebih terarah kan. Begitu memang ketika dekat dengan Al Quran, maka hubungan dengan Allah menjadi bagus. Interaksi dengan Allah bagus, semua jadi menenangkan dan terarah.

2) Compete for Al Quran

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda-gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam harta dan anak.

Al Hadid 20

Menjadi para ibu di era sekarang sangat kompetitif. Kompetisi tentang anak dan pekerjaan tidak ada habisnya. Kompetitif ini memang hakikat dunia seperti di Al Hadid 20. Sedangkan maksud berbangga adalah membanding-bandingkan. Maknanya, kecenderungan manusida di dunia adalah selalu membanding-bandingkan apa yang dipunya dengan yang orang lain punya. Membandingkan tanpa petunjuk. Homeschooling atau sekolah umum kah. Ibu bekerja atau ibu di rumah kah. DBF atau ASIP kah. Mulai MPASI dengan BLW atau disuapin kah. Pospak atau Clodi kah. Blogspot atau WordPress kah. Pakai page builder atau beli tema jadi kah.

Emang gitu cara dunia menggoda kita dengan harta (pekerjaan) dan anak (cara mendidik, metode, pencapaian, dan lain-lain). Berlomba-lomba atau berkompetisi untuk harta dan anak yang hakikatnya adalah kesenangan dunia yang nggak abadi, seperti tanaman. Mengagumkan hanya sejenak lalu kemudian hilang. Hilang maksudnya saat wafat semua itu hilang atau menjadi bosan setelah tercapai yang kita mau. Ketika bosan kemudian ditutupi dengan hiburan, entah nonton atau dengerin musik. Bukan ini yang kita butuhkan.

Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Al Hadid 21

Maka berlombalah untuk mendapat ampunan dan surga. Berkompetisi untuk ampunan dan surga itu hakiki, abadi, selamanya. Berlomba untuk harta dan anak itu sebentar. Selesai ketika kita mati.

Kompetisi di dunia bikin mudah baper dan jealous. Bener kan mak? Beda rasanya dengan kompetisi di jalan Allah, nggak akan bikin dengki dan iri hati. Kompetisi untuk Al Quran salah satunya. Malah saling support dan menenangkan. Karena Allah jadikan kita cinta dengan kebaikan. Dan Al Quran menjadikan kita sebaik-baik manusia. Gimana enggak, 1 huruf aja yang kita baca dari Al Quran auto jadi 10 kebaikan dunia dan aset akhirat.

Sudahkah memperbanyak tilawah di malah hari ketika anak tidur? Adakah menyempatkan tilawah di sela menemani anak belajar? Sudahkah menjaga Al Quran dengan mengaplikasikan yang ada di Al Quran, bukan sekedar hafal saja? Padahal kompetisi menghafalnya saja juga masyaAllah butuh perjuangan ya.

Kata seorang guru, Hafidz itu punya etiket menjaga (terus menghafalkan) Al Quran sampai akhir hayat sekalipun dia tidak punya predikat hafal 30 Juz.

Orang yang tidak beriman, orientalis bisa-bisa saja hafal isi Al Quran. Karena Allah memang jadikan mudah Al Quran untuk dihafalkan.

Hafal Al Quran dengan kesungguhan mengamalkan Al Quran, ini baru sebenar-benar penjaga. Makanya penghafal Al Quran adalah keluarga Allah di dunia. Kebayang sedekat apa dan sehangat apa keluarga sama kita. Apalagi jika keluarga itu adalah Allah, yang nomer satu di dunia. Yang paling bisa kasih fasilitas dan menjamin apa saja. Apalagi yang kita khawatirkan?

3) Hati Cuma Punya Satu Rongga

24 jam waktu kita terlalu banyak untuk urusan anak, keluarga, dan pekerjaan saja. Kalau udah capek, pasti inginnnya istirahat. Istirahatnya malah liat Netflix, VIU, HBO, sekarang muncul Disney +. Apakah itu yang kita pakai untuk mengistirahakan hati yang lelah? Padahal hati itu milik Allah.

Kalau hati lalai, kita malah jadi makin lelah. Semangat kebaikan bersama Al Quran makin tersingkir.

Manusia cuma punya 1 rongga hati. Isinya either kebaikan aja atau keburukan aja. Either Al Quran aja atau musik aja.

Interaksi dengan Al Quran akan mengisi tangki hati kita. Tadabbur Al Quran bisa jadi tempat curhat dan pelepas lelah.

Manusia produktif akan mengisi kesehariannya dengan produktifitas. Sebagaimana tubuh kita sudah berlelah-lelah, maka lelahkan juga hati kita untuk mengingat Allah.

Kenapa? Karena tubuh, raga, dan jiwa ini semua dikendalikan oleh hati.

Kadang kita liat orang kok nggak ada capeknya? Interaksi dengan Al Quran kenceng, ngeblog konsisten, mindful mengasuh anak, pekerjaan rumah beres, sigap melayani suami. Karena hati mereka yang kuat.

Utsman bin Affan crazy rich businessman yang asetnya luar biasa aja tilawah Al Quran sehari khatam 30 juz. Nabi Muhammad SAW yang udah dapat jaminan surga, bacaan Al Quran saat tahajjudnya luar biasa. Itu karena kekuatan hati. Azzam dan tekad yang luar biasa.

Kita yang apalah apalah merasa selalu sibuk. Malah interaksi bersama Al Quran yang dikurangi. Malah ibadah yang dikorbankan. Padahal Al Quran itu amunisi. Udah mah badan lelah, hati lelah dibuat nonton, makin lah lemah bawaannya makin males dan semakin menunda-nunda. Udah babak belur semuanya, seringnya lalu terjebak ke rutinitas yang enggak selesai.

Hati itu milik Allah. Fitrahnya hati itu sehat dan kuat hanya dengan kalamullah. Penuhi hati cukup dengan Al Quran.

4) Ada Bisikan Syaithan

Syaithan yang dateng ke tiap orang beda-beda. Kita yang udah mengusahakan rutin berinteraksi bersama Al Quran ya setan yang datang beda. Godannya juga beda.

Setelah shalat, kepikiran mau mengerjakan ini mau mengerjakan itu. Segera taawudz. Itu cara setan mengurangi ibadah kita dengan Al Quran. Jadi yang menghalangi ibadah bukan perkerjaan dan anak. Jangan jadikan kerjaan numpuk dan momen membersamai anak alasan alergi kasih proporsi waktu lebih banyak untuk Al Quran.

Semakin interaksi dengan Al Quran kita nambah, semakin hubungan emosional dengan Allah dekat. Semakin adem, seamkin matang emosi kita.

Bisikan syaithan itu seringnya buat kita permisif ke emosi negatif yang bukan karena Allah. Makanya beda rasanya kelola emosi secara teori dengan keimanan.

Kita marah lalu kita ingat Allah. Kita ingin bertaqwa. Kita ingin surga.

Ya Allah, aku minta anak ini jadi anak shalih. Terima kesabaranku. Aku nggak ingin marah ini merusak amal shalih.

Marah itu dari setan. Bukan dari trauma masa lalu. Ketika emosi negatif lalu ingat Allah maka mudah untuk tenang menyelesaikan pekerjaan dan menghadapi orang terkasih. Mudah prasangka baik ke suami. Mudah apresiasi suami. Tidak melulu menuntut. Jauh dari Allah, kita auto ngikut bisikan syaithan. Urusan receh jadi prahara.

Makanya, dekat dengan Al Quran menjadikan kita dekat Allah dan tidak semudah itu tergoda mengikuti bisikan syaithan.

5) Quran as Syafaat is Real

Kelak, ada satu sesi di Surga. Orang-orang beriman berkumpul, mengenang kehidupan di dunia. Perjuangan yang telah dilakukan. Sampai muncul pertanyaan: apa yang bikin manusia sampai ada yang hatinya terkunci rapat dari Al Quran, apa yang membuat manusia lalai dengan Al Quran?

Jawabannya adalah hubbuddunnya. Kecintaan pada dunia, pada pekerjaan dan anak, yang sangat mengikat. Al Quran dan ibadah jadi dikorbankan demi mengejar pencapaian dunia itu. Lupa investasi waktu untuk akhirat.

Padahal di Yaumil Akhir, kita akan fokus pada diri sendiri. Saat kita putus asa, nggak ada lagi yang bisa diandalkan. Nggak ada yang bisa bantu kita. Tapi ada bacaan Quran yang menjadi syafaat. Memberikan kesaksian yang memberatkan timbangan amal kebaikan kita. Melindungi kita dari semua proses dari kubur, dibangkitkan, dihisab. Al Quran as syafaat is real.

Melangitkan Doa untuk Al Quran

Orang yang selalu bersama Al Quran, berarti selalu bersama malaikat. Apalagi menjelang malam lailatul qadar. Malaikat memang memenuhi semesta. Tetapi orang yang bersama Al Quran dikasih atensi lebih. Dimintakan ampun, didoakan, dibantu semua urusan dunia akhirat.

Maka ayo sabar berproses. Mencintai proses untuk nggak alergi lagi, untuk dekat dengan Al Quran. Sesederhana memulai dengan tilawah. Memang susah untuk mengamalkan yang namanya mencintai proses ini. Realita dan teori seperti nggak ada titik temu.

Maka ayo melangitkan doa untuk benar-benar menjadi penjaga Al Quran. Karena effort kita ya segini-gini aja. Berdoa agar Allah bisa mudahkan kita mengamalkan Al Quran.

Semoga nggak alergi lagi dengan Al Quran ya. Makin kenceng interaksi dengan Al Quran, hidup akan jadi lebih baik.

Tulisan ini dibuat dari catatan 3 sesi Liqa

Antara Ibadah dan Aktivitas Muslimah. Liqa Gabungan dengan Teh Karina Hakman via Zoom 22 Agustus 2020

Meraih Keindahan Al Quran. Liqa Pekanan dengan Teh Chika Ananda via Google Meet 31 Agustus 2020

Interaksi dengan Al Quran. Liqa Pekanan dengan Teh Chika Ananda via Google Meet 6 September 2020

32 thoughts on “Anti Alergi Bersama Al Quran”

  1. Terima kasih sudah mengingatkan mba, betul sekali saat lelah malah larinya nonton, padahal kita bisa melakukannya dengan membaca al-quran. Sedih sekali dengan dirinya yang semakin bertambahnya usia malah lalai dengan perintah Allah, berbeda sekali saat masih kecil yang rajin baca Al-Quran. Sudah saatnya memperbaiki diri untuk selalu berserah diri pada Allah.

    1. sebenernya mau lingkungan bareng penghafal Quran juga kalau azzam kita nggak kuat ya sama aja sih mba. harus mau ngelawan diri sendiri dan melibatkan Allah teruus. kalau kenceng taqwanya, Allah akan kasih percepatan apapun yang kita mau, dr urusan receh macem traffic blog sampai cita-cita hafal al quran sebelum ajal datang… 🙂

  2. Membaca Al-Qur’an memang butuh konsisten, agar benar-benar menjadi kebiasaan, tapi terkadang kalau sudah futur itu yg sulit, malesnya minta ampun mungkin karena maksiat kita atau dosa-dosa lain, yg penting tetap semangat menyempatkan membaca Al-Qur’an setiap hari.

    Terimakasih Mbak sudah mengingatkan.

  3. Alhamdulillah diingatkan untuk bisa terus membersamai waktu yang dijalani al-quran. Selayaknya membaca al-quran memang perlu ditentukan waktunya, supaya bisa rutin setiap harinya.

    1. Bahasan Al Kahfi di sini dari kajiannya Syaykh Nouman Ali Khan mba Jihaan, bisa cek YouTube channelnya beliau di Bayyinah Institute 🙂

  4. Masya Allah, pengingat banget buat aku 🙁 lagi sibuk-sibuknya ngurus blog, kadang mikir aduh harusnya lebih perdalam ilmu agama lagi. Makasih banget mba, artikelnya jadi renungan bagus

    1. iyaa mbaa, padahal kalau Quran dinomersatuin, Allah bakal kasih petunjuk kita harus gimana.. urusan blog mah tiba-tiba jadi lancaar aja tanpa kita perlu keluar effort susah2..

  5. MasyaAllah mba aku jadi tersentiiil sekali karena belum bisa baca Al Quran dengan rutin dan rajin. Terimakasih sudah diingatkan ya Mba. mulai besok harus meluangkan waktu untuk membaca Al Quran bukan mencari waktu luang.

    1. Ya Allah mbaa, akupun ketika nulis ini juga langsung diuji sama Allah. Tiba-tiba dikasih kemudahan beresin website pakai page builder, terus jadi kegodaaa banget buat nambah fitur ini fitur itu, nggak puas2 buat bikin ini blog seresponsif mungkin, kalau bisa loading 1 detik aja. Kan slot waktu buat Quran jadi terancam lagi. Interaksi buat Quran harus dinomersatuin dulu deh, minimal banget selesai target tilawah. kalau ngga habis waktu larut keasyikan utak atik website..

  6. MasyaAllah, terima kasih sudah diingatkan Mbak.
    sekarang mulai berusaha dekat dengan Al Quran lagi, memang lebih adem ketika kita mengawali hari dengan membaca Al Quran (setelah Shalat Subuh tentunya).
    jadi ingat pesan Alm. Om saya, waktu itu dia bilang kamu jangan jauh ya dari Al Quran, waktu itu saya ngeluh sering sakit kepala.

  7. terima kasih sudah mengingatkan tentang membaca Al-Quran mba, semoga kebaikan menyertai kita, dan jujur saya juga kalau pas baca Al-Quran itu berasa tenang dan sedih jadi hilang, tapi untuk berkomitmen membacanya saya butuh belajar lebih tegas lagi, terima kasih sudah bantu diingatkan mba

  8. Jleb jleb jleb. Merasa banget selama ini kalah terus sama setan. Kalau mau ngaji bawaannya selalu ngantuk. Pol sampek gak tahan. Setiap habis salat juga selalu keingetan pekerjaan yg gak ada habisnya 🙁 Terima kasih sudah diingatkan ya.

  9. Huwaaaah… Ketabok-tabok rasanya. Jujur, setelah punya anak, tilawah itu susaaaaah sekali. Boro-boro 1 juz, 1 lembar aja sudah penuh perjuangan.

    Tapi, gimana pun tetap harus diusahain. Aku sendiri agak ngeri dengan pesan salah satu Ustadz atau Ustadzah, aku lupa.

    Katanya, kalau kita mulai sulit untuk membaca Alquran, itu bukan kita yang meninggalkan Alquran. Tapi justru kita yang ditinggalkan.

    Kemarin banget, aku dapat kajian online yang sekali lagi mayan nabok. Katanya, kalau kebiasaan baik kita mulai berkurang. Misal, dulu bisa lancar tilawah terus sekarang susahnya naudzubilla. Ini tanda dicabutnya hidayah sama Allah.

    1. iyaa nih ujian para mahmud banget. makanya pas baru lahiran itu aku nyesel-nyesel sendu gitu kenapaa ngga prioritas hafal Quran dari dulu. kan enak ya kalau udah hafal mutqin. mau tilawah ngga harus buka Quran baca gitu. bisa sambil nyusuin, nimang-nimang, gantiin popok, dll

  10. Assalamualaikum,
    Salam kenal ya kak 🙂

    Suka banget sama tulisannya.
    Jadi reminder buat saya. 24 jam dikasih Allah dalam sehari, masa mau dihabiskan sebagian besar untuk dunia. Harusnya sudah menabung banyak-banyak untuk akhirat.

    1. Waalaikumsalaam,
      hai haii salam kenal juga Renov 😀

      hehe, ketika kita habiskan waktu untuk ibadah, sebenernya kita saving effort buat dunia. karena ketika Allah jadi prioritas, dunia bakal takluk jatuh ikut ke kitaa. PR kita aja gimana biar ngga menggenggap gemerlap dunia terlalu eraat.

      makasih yaa dah main ke sini 🙂

  11. Dengan membaca quran tanpa kita sadari sebenarnya seperti sedang diberitahu jalan keluar oleh sahabat. Solusi yang membuat pikiran dan hati tenang. Semoga kita istiqomah untuk membaca Al Quran, lalu terbiasa kemudian mengkajinya.

  12. Halo mba salam kenal, sepertinya saya baru berkunjung ke grup ini. Tulisannya insight sekali. Ingin sekali dalam 24 jam lebih banyak menghabiskan waktu dengan Qur’an seperti waktu di pondok dulu. Allahummarhamnaaa….

    1. haloo mba Iffaa, salam kenal juga. Makasih yaa sudah main ke sini. 🙂

      wah mba Iffa anak pondok ternyata, maasyaAllah. saling mendoakan yaa mba biar adem interaksi sama Quran teruus. aamiinn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!