Baru Menikah? Ini Dia Cara Cerdas Kelola Keuangan untuk Keluarga Muda

Sebaik-baik perempuan (istri) adalah yang menyenangkanmu bila engkau memandangnya, mematuhimu bila engkau perintah, serta menjaga dirinya dan hartamu ketika engkau sedang tidak di rumah.


HR. Thayalisi 2444 dan al-Bazzar 8537

Masalah financial planning atau kelola keuangan ini adalah isu yang paling menarik perhatian aku dan sudah lumayan aku ubek-ubek sejak jaman kuliah dulu sebelum menikah. Baca buku ini itu, nge-follow akun instagram seperti Jouska (sebut merk nggak papa lah yaa) dan sejenisnya untuk insight money literacy, diskusi dengan banyak teman dari bidang finansial dan akuntansi, tanya banyak hal tentang fiqh muamalah sama murobbi, dan lain lain. Saya sampai pada kesimpulan bahwa gaya mengelola keuangan ini sebenernya ada macem-macem banget. Yang kita pilih adalah yang paling sesuai dengan value yang kita pegang. Kala itu sebagai perempuan muda bekerja, aku ngerasa cocok banget sama gaya kelola keuangannya mba Prita Ghozie, seorang financial consultant yang fokus mengedukasi perempuan dan ibu dalam mengelola keuangan. Apalagi tagline di bukunya itu yang bertema bisa tetep cantik (perawatan), gaya (belanja-belanja baju), tapi tetap kaya. Gimana nggak menggiurkan, hehe.

Setelah menikah, value aku tentang uang mulai bergeser. Suami banyak ngajak diskusi tentang gimana sebisa mungkin keluarga kecil kami menjauhi riba. Yang berarti harus mau hijrah provider penyimpan uang (ganti rekening dari bank konvensional ke bank syariah), lebih selektif dan hati-hati melakukan investasi, perubahan skala prioritas kebutuhan (misal nabung beli rumah atau nabung haji dulu), penggunaan kartu kredit, dan banyak hal lainnya. Dari sini, aku merasa gaya mba Prita udah ngga cocok di aku.

Sampai akhirnya aku ikutan kuliah di WhatsApp bareng mba Aji Nur Afifah, buibu influencer yang juga lulusan akuntansi, tentang menjadi manajer keuangan keluarga yang handal. Aku langsung cocok, karena Mba Apik banyak menggarisbawahi definisi harta dalam islam, juga kaitan erat harta dengan perempuan. Intinya, masalah finansial adalah salah satu hal yang penting dalam berbagai aspek kehidupan. Bukan pada perkara uangnya, tapi bagaimana kita menyikapi adanya uang dan harta. Uang itu hanya alat, bukan tujuan. Tujuan utama kita tetap beribadah kepada Allah. Begitu pula dengan pengelolaannya. Tujuan dari mengelola keuangan keluarga ini adalah

  1. Menunaikan kewajiban kepada Allah untuk bermuamalah dengan baik
  2. Mengelola harta dengan baik
  3. Menjaga harta suami
  4. Berjihad dengan harta di jalanNya

Dari value yang udah kepegang ini, niat karena Allah nya jadi makin bisa dilurusin. Setelah niat kita sudah karenaNya, eksekusi selanjutnya akan lebih mudah. Seperti gaya hidup kita. Gaya hidup sebagaimana yang Allah cintai, yaitu sederhana, bersahaja, selalu merasa cukup, dan haus akan memudahkan orang lain (sedekah). Ingat bahwa segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Termasuk bagaimana kita mengelola harta sehari-hari.

Tips Bijak Mengelola Keuangan Keluarga Muda

  1. Memeriksa kembali sumber pendapatan. Dari mana saja? Apakah ada sumber penghasilan tetap? Apa saja pendapatan lain yang bisa dicapai?
  2. Lakukan tracking hutang dan cicilan. Hutang ini jadi prioritas yang harus segera dibayarkan. Agar nggak missed, harus dicatat. Masalah pencatatan hutang ini saja menjadi salah satu ayat terpanjang dalam Al Quran. Bisa dicek di Surah Al Baqarah Ayat 282.
  3. Jauhi Riba. Kita tidak mungkin terlepas sepenuhnya dari riba, tapi kita bisa mengusahakan untuk menjauhinya. Agar hati menjadi tenteram dan rizqi menjadi berkah. Caranya bisa menggunakan KPR Syariah, investasi dengan akad yang jelas tanpa bunga, hijrah ke bank syariah, hati-hati terhadap segala bentuk hutang (misal kredit, cicilan, dll), belajar berbagai macam akad muamalah syariah, dan lain lain.
  4. Melek zakat, infaq, dan shadaqah. Ingat bahwa di harta kita ada hak kebutuhan orang lain yang harus ditunaikan. Bisa dialokasikan tapi juga tetap dikeluarkan terus untuk melemaskan otot sedekah. Sedangkan zakat tidak bisa dialokasikan tapi ada perhitungannya. Keluarkan zakat sesuai pehitungannya.
  5. Menabung Haji. Konkretkan niat memenuhi rukun islam dengan membuka rekening tabungan haji, lalu bayar per bulannya.
  6. Konsekuen dengan Skala Prioritas. Evaluasi kembali apakah pengeluaran utama keluarga kita sudah sesuai skala prioritas atau belum. Dimulai dari kebutuhan primer seperti pangan, sandang (ini bisa kita cukupkan sebenarnya untuk tidak dianggarkan untuk dibeli setiap bulan), dan papan (misalkan ada cicilan atau tabungan rumah). Dilanjutkan dengan membayar hutang atau cicilan lain, dan iuran wajib jika ada. Baru urusan lain bisa menunggu, misalkan buku cerita anak, furniture, skin care atau make up, dan lain lain.
  7. Mencatat Keuangan Keluarga. Karena ini baru menikah dan masih keluarga muda, maka diimulai dengan percobaan di bulan-bulan pertama. Kemudian evaluasi, baru akan terlihat trend grafik di setiap pos. Saat itu sudah bisa melakukan budgeting yang real.

Tips Mencatat Keuangan Keluarga

Menyusun Pos-pos Pengeluaran.

Pos-pos pengeluaran ini baru bisa ketemu setelah kita melakukan percobaan di bulan-bulan pertama tadi ya. Aku sendiri masih dalam bulan-bulan melakukan percobaan untuk mendapatkan trend grafik di setiap pos pengeluaran. Berikut adalah pos-pos pengeluaran keluarga muda nya mba Apik setelah dilakukan evaluasi.

  • Tabungan Kecil 10%
  • Sedekah 10%
  • Kebutuhan 40%
  • Dana Sosial 10%
  • Hiburan 20%
  • Jaga-jaga 10%
  • Tabungan Besar (Dana Darurat dan Tabungan Haji) dikelola oleh suami

Pos Dana Sosial untuk Silaturahmi dan Menuntut Ilmu. Pos Jaga-jaga dialokasikan untuk berobat. Untuk tabungan pendidikan anak, mba Apik saving Rp. 200.000 setiap bulannya. Cicilan rumah masuk ke prioritas pos kebutuhan yang dikeluarkan duluan karena masuknya hutang. Untuk investasi, pada dasarnya beliau bukan tipe yang mewajibkan kudu wajib invest. Namun bila ada uang yang mengendap lama, maka sebaiknya diputar, salah satunya adalah dengan investasi. Karena sudah rizqi kita, kalau mengendap harta itu belum dikatakan menjadi rizki kita. Investasi paling mudah sejauh ini adalah dengan fintech-fintech yang baru-baru ini menjamur seperti tanijoy, vestifarm, igrow, dan lain-lain. Jadi boleh aja investasi asalkan kita dalam kondisi terbebas hutang dan sedekah jalan terus.

Memisah Rekening

Agar uang tidak tercampur antar pos, kita haru memiliki rekening yang berbeda untuk masing-masing kebutuhan. Idealnya dalam keluarga, rekening yang harus dibuka adalah sebagai berikut

  1. Rekening Tabungan yang tidak bisa bebas ditarik (Dana Darurat, dll)
  2. Rekening Belanja segala kebutuhan rumah
  3. Rekening Bisnis kalau ada
  4. Rekening Tabungan Haji

Mencatat Arus Keuangan dengan Google Form

Ini memudahkan bila suami dan istri sama-sama ingin mencatat keuangan di media yang sama. Tapi oke juga buat yang pencatatan keuangannya oleh istri saja. Nanti data yang masuk langsung ke Excel jadi lebih memudahkan untuk direkap.

Aku udah nyobain macem-macem gaya mencatat keuangan, mulai dari bikin Excel sendiri terus keteteran nggak kecatet karena setelah transaksi mager buka laptop. Lalu hijrah dengan mencatat di Note hp lalu memindahkan ke Excel setiap bulan. Penat juga hehe. Lalu nyoba cara manual pakai buku kas, lebih nggak tercover lagi. Menurutku, pencatatan keuangan dengan google form ini efektif karena kita bisa langsung buka link dan input data transaksi yang kita lakukan. Rekap setiap bulan untuk evaluasi jadi lebih mudah karena data sudah ready di Excel, tinggal kopas kopas aja. Ini dia penampakan si google form aku yang terinspirasi dari mba Apik untuk input data arus keuangan harian.

Jenis Pengeluaran diisi Sesuai Pos

Ambil cash setiap minggu

Niatkan uang cash yang diambil ini cukup untuk kebutuhan selama satu minggu. Selain memudahkan pencatatan, juga bisa sekaligus konsisten dengan pos pengeluarkan karena mengingatkan kita untuk berpikir dua kali saat akan membelanjakan uang tunai tersebut. Kita pun mengandalkan debit yang tinggal gesek. Jadinya lebih hemat.

Bijak finansial artinya tahu kapan menahan dan kapan melepas

Aji Nur Afifah

Semoga tips-tips di atas bisa menjadikan kita perempuan yang ngademin. Mensyukuri segala bentuk jerih kerja suami. Dan menjadi perempuan yang cerdas finansial. Cerdas artinya bijak. Tahu kapan menahan dan kapan melepas.

Kata mba Apik, masalah dunia jangan digenggam terlalu erat. Ingat bahwa barangsiapa menolong agama Allah akan ditolong oleh Allah. Sebagai perempuan, kita bisa menolong agama Allah dengan menjadi perempuan shalihah yang selalu bersyukur dan merasa cukup. Sehingga keluarga kita jauh dari riba, jauh dari keserakahan, dan ingat untuk selalu menunaikan hak orang lain yang ada di harta kita.

Semoga dengan pengelolaan keuangan yang baik, kita bisa menjadi manajer keuangan kesayangan suami, orang tua, dan keluarga. Terlebih menjadi kesayangan Allah.

Aamiin yaa mujiibassaailiin

Sumber: Kulwap LiterArtcy – Menjadi Manajer Keuangan Keluarga yang Handal oleh Aji Nur Afifah – 7 Desember 2018

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!