Sebuah Cerita: Lahirnya Maryam Maghfira

Menceritakan lahirnya Maryam sudah menjadi impian sejak anak bayi masih dalam kandungan. Harusnya menjadi target nulis yang membahagiakan. Tapi kehidupan post-partum ternyata lebih jungkir balik melebihi ekspektasi.

Padahal awalnya udah confident karena merasa udah belajar, udah ikut kelas melahirkan, dan kelas menyusui. Jadilah merasa cukup. Mungkin ini salah satu bentuk kasih sayang Allah biar kepala hambaNya yang besar ini kempes, biar nggak sombong, biar kembali menggantungkan segala sesuatu hanya kepadaNya.

Sekarang Maryam udah hampir 6 bulan. Rutinitasnya sudah mulai terpola. Jadi kandang waktu ibunya udah bisa diisi slot buat nulis lagi. Bukan sekedar menulis. Ini istimewa. Mencoba menceritakan kembali persalinan pertama. Menuliskan cerita lahirnya Maryam.

Jumat

“Mas, aku bloody show!”
Waktu itu subuh. Beberapa saat sebelum Mas berangkat kerja ke Jakarta. Mas yang tahu persis kalau itu adalah tanda awal melahirkan, menimbang-nimbang sejenak jadi ngantor atau stay di rumah.

“Sekarang rasanya mules, nggak?”, tanya Mas.
“Belum sih”.
“Coba kabarin Faqi sama mba Tia dulu ya”, kata Mas. Faqi adalah adik perempuan yang masih kuliah di jurusan Pendidikan Bidan. Sedangkan mba Tia adalah sahabat dari kelas matrikulasi yang juga seorang doula. Mas akhirnya memutuskan untuk tetap berangkat kerja tetapi izin pulang cepat.

Seharian itu aku bersiap mengadapi kontraksi, sambil menerka-nerka seperti apa rasanya. Mulas yang diharapkan tak kunjung datang, jadilah kembali beraktifitas seperti biasa. Sempat galau ke mba Tia, kok aku masih bisa sih domestikan dan buka laptop. Menurut beliau bisa jadi ambang batas sakitku besar. Tapi beliau tetap merekomendasikan agar aku bersiap, juga memastikan bahwa aku tidak sendirian dan sudah didampingi.

Nina, adik perempuanku yang tinggal di Ciampea, datang siang itu juga bersama bayi dan suaminya. Nina mengkhawatirkan aku yang belum juga mengabarkan Ibu kami soal kondisiku yang mau melahirkan ini. Sesuai Birth Plan, aku memang merencanakan untuk memberitahu Ibu sesaat sebelum berangkat ke Bidan. Kalau pakai bahasa mba Tia sampai kondisi aku benar-benar nggak bisa ngapa-ngapain lagi.

Nina mau mengerti pilihanku, tapi sepertinya yang membuat dia cemas adalah seharian setelah aku bloody show, rembesan air terus menerus keluar. Aku menenangkan Nina bahwa itu mungkin si chorionnya ketuban, kalaupun amnion bisa aku isi ulang lagi dengan banyak-banyak minum.

Kontraksi, Bukan Ya?

Photo by freestocks.org from Pexels

Sesungguhnya yang paling mengganggu pikiranku adalah aku ini udah kontraksi atau belum. Ini menyebabkan aku mengasosiasikan segala rasa tidak nyaman di perut sebagai kontraksi, dan mulai menghitung dengan contraction timer. Hasilnya randoooom banget. Aku makin enggan mengabarkan Ibu, apalagi buru-buru berangkat ke bidan.

Bada maghrib aku minta tolong Mas untuk usap-usap tulang ekor. Sudah jadi kebiasaan kita di trimester akhir buat ngurangin sakit di badan. Rasa-rasanya saat itu lebih sakit dari biasanya.

Dari lubuk hati terdalam aku sudah mulai tidak sabar, ingin segera kontraksi, ingin segera menikmati gelombang cinta pertanda makin dekatnya pertemuan dengan anak bayi. “Menurutku kamu udah bukaan tiga mbak Ran”, kata Nina ceria, yang membuatku makin yakin bahwa aku sudah kontraksi dan ambang batas sakitku memang tinggi. Yang membuatku akhirnya menelfon Ibu.

Di ujung telfon, Ibu yang baru saja memarkir mobil di garasi mengabarkan bahwa sejam lagi akan berangkat ke Surabaya naik penerbangan terakhir hari itu juga.

Sabtu

Pagi-pagi kita berangkat ke Bidan di Gunung Batu, sekaligus membawa tas perlengkapan lahiran. Di taksi, aku masih fokus dengan contraction timerku. Beberapa kali aku klik start dan stop saat aku merasa ada rasa sakit, lebih sering kuamati intervalnya. Masih terasa aneh. Tapi aku mengabaikan karena bahagia dengan atmosfer bahwa aku akan segera melahirkan.

Bidan sepakat dengan hasil contraction timerku yang random. Tetapi mendengar bahwa ada rembesan yang terus menerus, VT pun dilakukan.

Sakit. Dan ternyata belum ada bukaan.

Bidan menyarankan agar kami berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kandungan untuk USG, memeriksa apakah cairan ketuban masih aman. Jika dokter menilai ketuban masih baik, baru Bidan mau mendampingi kami menjelang proses persalinan. Karena booking yang mendadak, kami baru berangkat ke RS di ujung hari menjelang maghrib.

Akhirnya Kontraksi Juga!

Di pintu RS, langkahku terhenti dan aku membungkuk, berusaha menekan perut yang sakit mendadak. Aku berusaha jalan lagi tapi susah. Mas sampai harus memapahku. Aku berpikir, jangan-jangan aku sudah mau lahiran.

Aku menghabiskan waktu mengantri untuk konsultasi dengan menahan sakit di perut. Seperti apa sakitnya? Mulas yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Apalagi saat shalat maghrib, aku merasa sakitnya makin menjadi-jadi. Aku terus mencengkeram tangan Mas, menahan sakit, saat kami turun lift dari mushola menuju ruang dokter. Kursi ruang tunggu sangat tidak nyaman kududuki. Aku memilih ke ujung koridor, berjongkok di depan ruang laktasi untuk meredakan rasa sakit, sembari Mas mengusap-usap punggungku.

Perawat datang menghampiri kami, mempersilahkan untuk masuk mendahului nomer antrian lain. Saking melihat aku meringis-ringis tak karuan sepertinya. Dokter segera melakukan USG. Display menunjukkan BB bayi mencapai 3.5 kg, yang mengejutkan karena BB bayi saat terakhir kontrol adalah 2.8 kg. Dokter juga menjelaskan bahwa air ketuban masih ada tapi keruh.

“Saya cek bukaannya ya”, kata Dokter sambil mulai memakai sarung tangan.

God, VT lagi di hari yang sama?, batinku ngeri. Ini jelas-jelas menyimpang dari rencanaku di Birth Plan untuk VT hanya dua kali: pertama saat sampai di tempat persalinan dan kedua saat menjelang persalinan. Akupun menegang.

“Ibu, salah posisi kaya gitu! Rileks aja jangan tegang. Nah iya kaya gitu. Gak pernah diajarin posisi ngeden ya”.

Begitulah kira-kira proses VT berlangsung oleh dokter, tetapi dikomandoi oleh bidan asisten. Aku yang ingin VT cepat-cepat selesai, berusaha keras menyesuaikan maunya si bidan, mengabaikan segala bentuk shaming dan labeling barusan. VTpun selesai.

Berapakah bukaannya? Ternyata baru satu.

Seketika aku berhenti meringis menahan sakit. Owalah baru satu toh. Jalan masih panjaaaang. Daritadi masih icip-icip kontraksi rupanya. Fakta bukaan masih satu tidak membuatku sedih. Malah energi positif seperti terpompa masuk banyak. Aku sudah bukaan, dan aku siap menikmati gelombang-gelombang cinta selanjutnya.

Second Opinion

Photo by Gabriela Palai from Pexels

Dokter merekomendasikan agar aku segera mempersiapkan diri untuk lahiran di RS. Katanya, beliau akan mengusahakan agar aku lahiran normal malam itu juga atau besok pagi.

Aku dan suami bertukar pandang. Kami paham sekali bahwa rekomendasi itu berarti induksi sedang menantiku. Mas berusaha mengembalikan fokus kami ke RS, yaitu memeriksa apakah aku masih bisa bersalin normal di Bidan dengan kondisi ketubanku.

“Air ketuban masih ada tapi keruh. Tadi juga kelihatan kalau BB bayinya termasuk besar ya, Pak. Ibunya baru bukaan satu aja udah kesakitan gitu. Takutnya nggak kuat buat melahirkan normal di bidan, apalagi fasilitas di bidan terbatas. Malam ini masuk ruang bersalin saja, Pak. Nanti saya usahakan dan bantu untuk melahirkan normal”. Mas hanya mengambil satu poin dari pernyataan panjang (yang menurutku juga mengintimidasi) tersebut: ketubanku baik-baik saja. Kami undur diri dari ruang dokter, menemui Ibu di ruang tunggu.

Ibuku cemas dengan cerita kami. Ditambah aku masih meringis-ringis, walaupun tidak sehopeless sebelum masuk ruang dokter. Beliau ingin aku segera masuk ruang bersalin, sedangkan aku ingin pulang ke rumah saja. Mas menengahi dengan menghubungi mba Tia untuk second opinion.

Mba Tia dengan positif menyemangati bahwa kondisiku aman dengan BB bayiku sedemikan rupa dan rembesan yang normal terjadi sebagai tanda awal persalinan. Ibuku yang juga mendengar penjelasan mba Tia melalui loud speaker akhirnya setuju untuk tidak masuk ke ruang bersalin di RS. Namun beliau menghendaki aku untuk stay di Bidan tempat aku ingin melakukan persalinan.

Dan Mas setuju. “Aku lebih tenang kita ke bidan, nginap di sana. Dari rumah kita ke Gunung Batu itu nggak dekat, riskan buat emergency case”.

“Aku juga lega kamu nggak jadi lahiran di RS. Kasihan kamu tadi dibentak-bentak di dalem, padahal baru buat VT aja”, tambahnya. Aku berkaca-kaca. Kami berpegangan tangan erat di dalam taksi menuju Gunung Batu.

Ahad

Momen yang aku tunggu-tunggu sejak hamil tiba juga: menjajal semua aktivitas yang dapat membuatku nyaman saat kontraksi. Relaksasi, duduk berputar di gym ball, menungging dengan tulang ekor diusap Mas, sampai jalan-jalan.

Yang paling ampuh menghilangkan sakitnya adalah rebozzo. Mba Tia berkunjung ke Gunung Batu memantau kondisiku dan menawarkan diri untuk me-rebozzo aku. Rasanya nyamaaaan banget. Mulas seolah hilang. Mas mempelajari rebozzo yang dilakukan mba Tia, mencoba mempraktikkannya sendiri nanti.

Menjelang sore, aku semakin tidak nyaman. Mau duduk nggak enak, mau berbaring apalagi. Lebih enak berdiri dan jalan-jalan tapi badan rasanya sudah lelah, ingin istirahat dan lepas dari serangan mulas.

“Sebentar lagi itu, Nduk”, begitu terus kata Ibuku penuh harap, yang selalu aku respon dengan menggeleng. Aku merasa keadaanku saat itu masih sanggup beraktifitas walapun mulas hebat. Tapi Ibuku terus menerus memberondongku dengan pertanyaan sejenis, berharap saat melahirkan sudah dekat.

Aku mengerti Ibu tidak bisa tinggal lama-lama di Bogor karena pekerjaan. Tetapi sumbu sabarku saat itu seperti makiiin pendek ditanyakan terus gimana rasanya. Aku tidak suka didesak, biarkan saja anak bayiku keluar pada waktunya. Aku pun meninggalkan ruang depan, menghindari Ibu untuk menetralkan beragam emosi yang hinggap.

Doula Terkasih

Photo by Abdel Rahman Abu Baker from Pexels

Mas ikut menyusulku ke teras. Aku mencoba duduk. Mulas yang menyakitkan rasanya merayap di seluruh tubuhku. Aku berusaha keras menahan sakit sambil menenangkan diri. “Mas, aku mau murojaah aja ya”. Maka aku duduk berdampingan dengan Mas, Quran di tengah kami. Aku mulai mengatur nafas. Satu halaman, dua halaman, setengah juz.

Air mataku menitik. Makin lama makin deras. Semua emosi rasanya berkumpul, lalu melebur menjadi syukur yang tiba-tiba menguncup.

Ada doulaku di sini, pendamping persalinanku terkasih. Yang seharian sudah sabar meladeni segala macam mauku saat kontraksi datang, yang tetap tenang dan tak jarang melucu saat drama queen mode lagi on. Sebuah anugerah luar biasa. Yang hampir-hampir saja kukufuri. Sebuah nikmat yang hampir saja tidak terlihat oleh mata hati. Kupeluk Mas erat.

Sore itu, semua terasa indah, dan menenangkan.

Senin

Shalat Subuh kulaksanakan dengan gemetar hebat. Ditambah bloody show lagi beberapa saat setelahnya. Kontraksi makin menjadi-menjadi. Aku masih memilih berjalan-jalan daripada duduk atau berbaring untuk menghilangkan rasa sakit.

Aku makin tidak mau jauh-jauh dari Mas. Setiap kontraksi datang, aku selalu memegang tangannya, atau meremas keras lengannya, memeluk kemudian mendorongnya lagi karena terasa sakit, menariknya lagi mendekat untuk minta dielus, apa saja. Mas juga membersamaiku melafalkan dzikir, yang awalnya kubisikkan, kemudian kuucapkan keras-keras, lama-lama berubah menjadi teriakan kencang.

“Laa hawlaa wa laa quwaata illa billah!”, teriakku. “Rabbii yassir wa laa tuaasir, rabii tamiim bikhaair”, begitu jeritku terus menerus. Aku tidak peduli lagi dengan manner menjaga volume suara. Bidan tiba-tiba masuk ke kamar dan melakukan VT. Sensasi kasar saat VT tidak terasa sama sekali saking hebatnya rasa kontraksi. Waktunya tiba ternyata. Bukaanku sudah lengkap!

Masuk Ruang Bersalin

Aku sudah setengah jalan menuju ruang bersalin bersama Mas. Tepat saat itu juga, adzan Dhuhr berkumandang. Mas pamit untuk shalat di masjid, yang jaraknya jauh dari rumah bidan. Aku memohon agar beliau shalat saja di mushalla. Aku ingin didampingi oleh suamiku. Mas yang awalnya tetap mau berangkat luluh melihatku mulai berlinangan air mata lagi. Akhirnya Mas shalat Dhuhr di mushalla, dan aku masuk ke ruang bersalin ditemani ibuku untuk sementara.

Di dalam sudah ada ibu lain yang akan bersalin juga rupanya. Aku dibaringkan, dan disuruh mengejan sambil miring ke kiri saat kontaksi datang. Bidan kembali fokus pada ibu yang sudah masuk ruang bersalin lebih dulu daripada aku. Aku mempraktikkan teori nafas dari kelas bersalin saat mengejan. Nyaman sekali rasanya, menggunakan pernafasan, juga mengejan lembut. Sambil mempersiapkan diri mengikuti instruksi mengejan versi bidan, yang aku ketahui dari kelas senam hamil yang diadakan beliau.

Walaupun Bidan bukan praktisi gentle birth dan sejenisnya, aku memutuskan untuk melahirkan di sini karena tidak kontra mata minus tinggi juga tidak episiotomi. Ini pilihan terbaik yang kami punya setelah shopping tenaga kesehatan. Tentunya ditambah pertimbangan lain seperti jarak, biaya persalinan, juga atmosfer tempat bersalin.

Saat aku sedang berkonsentrasi mengejan sendiri, ibu di sebelahku mulai mengejan keras dengan dikomandoi Bidan. Aku mengelus perut, anak bayi yang sabar ya, begitu terus kataku. Nanti keluarnya yang mudah ya, barengan sama ibu nanti ya nak, waktu ibu kasih aba-aba nanti keluar plung gitu ya, nak. Afirmasi positif terus aku bisikkan sambil mengelus perut saat jeda kontraksi.

Setelah ibu di sebelahku beberapa kali mengejan (yang berarti setelah aku beberapa kali miring ke kiri juga mengejan sendiri), suara tangis bayi terdengar membahana di ruang bersalin. MaasyaAllah, aku ikut terharu mendengarnya. Membahagiakan sekali. Sambil menanti-nanti momenku sendiri.

Momenku Datang

Di saat yang sama kontraksi dahsyat datang makin bertubi-tubi. Aku ingin segera dibimbing Bidan untuk melahiran bayiku. Ternyata Bidan masih sibuk merawat bayi ibu di sebelahku. Dalam hati aku mulai mengeluh, aku harus bertahan sampai berapa lama lagi ya Rabb.

Kulihat air muka Ibuku tampak mengkhawatirkan hal yang sama. Gurat-gurat cemas dan kerutan di wajahnya membuatku berusaha menenangkan beliau. Aku tidak ingin suasana menjelang persalinanku menjadi tidak menyenangkan. Ceria, bahagia, positif, itu yang aku mau.

Setelah berabad-abad rasanya Bidan akhirnya menghampiriku. Di saat yang sama Mas masuk ruang bersalin, nyengir. Aku menyambut senyumnya, lega sekali. Mas bertukar tempat dengan Ibu. Perasaanku jadi terasa jauh lebih ringan.

Posisi diatur, dengan Mas juga ikut menopang kakiku. Mulailah saat mengejan, dengan sekuat tenaga. Sekali, dua kali, tiga kali. Pendek sekali nafasku! Mengejan tanpa nafas sungguh melelahkan, ditambah tidak ada tanda-tanda bayiku akan segera keluar.

Bidan memintaku untuk mengejan lebih lama. Aku mengangguk seraya berdoa keras-keras dalam hatiku agar aku dimampukan, agar persalinan ini dimudahkan. Kontraksi datang dan aku mulai mengejan lagi. Bidan menyemangati dengan berkata, “Kepala bayinya sudah kelihatan, Bu. Ayo sedikit lagi”.

Luar biasa sekali kalimat barusan. Aku seolah mendapat kekuatan untuk mengejan lebih lama agar bayi bisa segera keluar. Aku berkata dalam hati, yuk nak kita selesaikan ini. Akupun mengejan sekuat tenaga tanpa ragu tanpa berhenti. Lalu seperti balon yang menggelembung, bayiku lahir. Tidak terasa sakit sama sekali. Allahu rabbii. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin.

Maryam Lahir

Bahagia kupeluk bayiku. Maryam, sapaku setengah berbisik. Mas merapat, ikut terpesona, meniruku menyapa Maryam. Lalu melantunkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Maryam mulai mencari-cari ASI. Kolostrum yang keluar aku usapkan di bibirnya. Mengharukan sekali rasanya. Getaran cinta yang hebat seolah menyeruak saat kulitku dan Maryam bersentuhan.

Tak henti-henti aku dan Mas mengucap syukur kepada sang Maha Pemberi Kebahagiaan ini. Bahagia yang kami rasakan ini sungguh tidak dapat kami gambarkan. Semua ungkapan kebahagian dari seluruh dunia seolah tidak dapat mewakili bahagianya kami bertemu Maryam.

Perkenalkan, Buah Hati Kami

Maryam Maghfira
yang terjaga kehormatannya, ahlul jannah, dan penuh ampunan
8 April 2019 – 2 Sya’ban 1440 H
Weight 3600 g – Length 49 cm
Spontaneous Vaginal Delivery

Selamat datang, Maryam. Selamat datang di dunia, sayangnya Umma.

Doakan Maryam jadi anak shalihah ya, qurrata a’yun, ahlul Quran, mujahidah di jalanNya, bermanfaat untuk umat, rahmatnya luas, dan beruntung.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!