Reducing Food Waste: 4 Strategi Policy untuk Melawan Perubahan Iklim

Dunia punya waktu sampai 2030 untuk mengurangi emisi secara ekstrim. Sudah sampai mana komitmen pemerintah mengatasi perubahan iklim di Indonesia?

Let’s Protect The Planet

Rumusan laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada 2018 lalu menuntut perubahan drastis semua elemen termasuk energi, infrasutruktur, dan industri untuk menekan kenaikan suhu Bumi agar tidak lebih dari 2 derajat Celcius pada 2030.

Bumi dalam bahaya. Tantangan yang pemerintah hadapi jelas tidak mudah dan terasa overwhelming. It’s hard to know where to start.

Thankfully, di United Nations Climate Change Conference ke-25 Desember tahun lalu, pengurangan emisi karbon menjadi prioritas dalam menjaga suhu Bumi. Negara-negara di dunia diajak merumuskan strategi pengurangan emisi karbon sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing negara.

Seneng sih dengan bahasan terbaru konferensi perubahan iklim oleh PBB ini. By setting local emission goals, harapannya pemerintah dapat menyesuaikan solusi yang sebenarnya dibutuhkan dari permasalahan perubahan iklim di Indonesia.

Pemerintah Indonesia kemudian mendeklarasikan komitmen untuk mengurasi emisi gas yang berasal dari sampah sebesar 6%. Sayangnya, sampai sekarang belum ada update perkembangan terbaru dari inisiatif ini.

If I were a leader of this country, I will offer the following radical change for climate policy ideas: reducing food waste.

Food Waste dan Perubahan Iklim di Indonesia

Indonesia mempunyai target bebas sampah sebelum 2035, termasuk sampah makanan (food waste) dari rumah (Wikimedia Commons, CC BY)

Food waste adalah sampah dari sisa makanan. Sedihnya, Indonesia adalah kotributor food waste terbesar kedua di dunia setelah Saudi Arabia.

Penumpukan food waste yang tidak terbendung ini memicu pemanasan global, yang berimbas langsung pada perubahan iklim di Indonesia.

Kok bisa?

Jadi, food waste yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana. Gas metana ini 25 kali lebih berbahaya dari karbon dioksida. Gas metana dan karbondioksida sama-sama merupakan gas rumah kaca yang berbahaya bagi bumi.

Greenhouse gas ini dapat terbawa ke atmosfer lalu merusak lapisan ozon. Padahal fungsi utama lapisan ozon adalah menjaga kestabilan suhu bumi. Bila lapisan ozon rusak, maka terjadilah pemanasan global.

Gas-gas ini juga efektif menjebak panas dari sinar matahari di dekat permukaan bumi. Seperti dinding greenhouse atau rumah kaca yang menyimpan panas di dalamnya. Efek gas rumah kaca inilah yang meningkatkan suhu bumi secara drastis. Akibatnya, es mencair di bumi, air permukaan lau naik, sistem iklim juga berubah.

Perubahan iklim berdampak sangat buruk bagi Indonesia. Salah satu dampaknya adalah banjir di kota-kota besar yang masih kerap terjadi.

Asal muara bencana ini ternyata tak lain dan tak bukan adalah food waste. Sampah dari makanan yang kita makan sendiri.

The climate change evidence piles up. So does the denial.

(Roni Neff, program director at the Johns Hopkins Center for a Livable Future)

Isu Food Waste yang Serius

Riset dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian menunjukkan orang Indonesia hasilkan food waste hingga 300 kg per tahun! That’s literally sounds terrible.  

Jumlah food waste terus meningkat selama bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri melebihi 10%. Tragisnya, jumlah food waste tersebut ternyata bisa untuk menghidupi 28 juta penduduk yang kekurangan gizi. We waste up to 30 percent of our food supply, enough nutritional value to feed millions.

Dari 80 solusi perubahan iklim paling berdampak yang dibuat oleh Project Drawdown, reducing food waste masuk ke urutan no. 3.

Policy Ideas to Reducing Food Waste

So far, dari banyak strategi mitigasi food waste, yang paling berdampak baik untuk iklim adalah menghindari produksi makanan yang tidak perlu. Berikut tiga strategi yang akan aku terapkan untuk mengurangi food waste di Indonesia jika aku menjadi pemimpin di negeri ini.

1) Revitalisasi Pasar Tradisional

Sebenarnya masyarakat Indonesia sudah terbiasa untuk tidak membuang-buang makanan. Bahkan sampai ada istilah, “Jangan dibuang nasinya ya, nanti nasinya nangis”.

Namun, perkembangan industri, urbanisasi, dan pertumbuhan masyarkat menengah ke atas merubah pola konsumsi makanan. Ketika membeli makanan, konsumen sering tergoda dengan marketing dan promosi seperti “buy one get one free”. Sehingga tanpa sadar, konsumen melakukan impulse buying. Atau impulsif membeli makanan yang sebenarnya tidak perlu.

Solusi untuk mengurangi over-purchasing habit ini adalah berbelanja di pasar tradisional. Tipe retailer seperti ini menyediakan bahan makanan yang sifatnya musiman, opsi untuk membeli makanan dalam jumlah kecil, dan cash-based jadi membantu konsumen untuk on budget.

Sayangnya, aktivitas belanja di pasar tradisional terus menurun sebanyak 2% setiap tahunnya. Kalah bersaing dengan supermarket modern.

Makanya, pemerintah di semua level harus fokus pada revitalisasi pasar tradisional di setiap daerah di seluruh Indonesia. Tujuan revitalisasi ini adalah menyediakan storage yang proper dan sanitasi yang baik untuk meningkatkan kenyamanan konsumen.

2) Edukasi Food Waste

Pentingnya edukasi untuk tidak menyia-nyiakan makanan seharusnya masuk ke dalam kurikulum pendidikan.

Di Amerika Utara, banyak sekolah dan organisasi seperti Commission for Environmental Cooperation telah mengembangkan aktivitas kelas untuk membangun awareness para siswa tentang food waste. Contohnya seperti menghitung jumlah food waste dengan audit sampah. Pengurangan food waste juga dapat diterapkan dalam kelas Matematika atau pelajaran memasak.

Edukasi food waste juga bisa digalakkan melalui social media dan mobile application. Harapannya ketika pemerintah ambil andil dan jadi garda terdepan pergerakan, value zero waste dapat reach dan engage ke semua lapisan masyarakat di seluruh Indonesia.

3) Food Waste Ban

Kota Austin di Texas sudah mengeluarkan food waste ban sejak 2018. Food waste ban ini melarang seluruh restoran membuang sisa makanan secara berlebihan.

Implikasinya adalah setiap restoran dituntut untuk memanfaatkan sisa makanan semaksimal mungkin. Muncullah kemudian inovasi dan ide kreatif seperti donasi makanan, membuat kompos, donasi sisa makanan ke peternakan setempat, pebisnis yang memberikan pelatihan pengolahan sampah organik kepada karyawan, sampai pengembangan berbagai aplikasi yang dapat membuat restoran memberikan informasi mengenai sisa makanan berlebih sehingga dapat dikonsumsi user lain yang membutuhkan.

Food waste ban bisa jadi langkah besar untuk mengurangi food waste juga di Indonesia. Kalau aku pemimpin yang bisa dengan smooth merangkul government dan pebisnis bersama, kebijakan food waste ban ini bakal mutakhir menyelamatkan perubahan iklim di Indonesia.

4) Inovasi dan Kolaborasi

Thankfully, value zero waste sudah banyak tertanam di beberapa komunitas dan perusahaan di Indonesia. Banyak start up yang kemudian memunculkan ide kreatif dan inovasi untuk merubah food waste menjadi produk baru yang bermanfaat. Seperti Magalarva, perusahaan yang mentransformasi food waste menjadi makanan ikan.

Pemerintah, dengan andaian aku pemimpinnya, bisa mendukung penuh peran generasi muda dan perusahaan-perusahaan ini dengan mengembangkan koalisi dengan berbagai pemegang saham: pebisnis, akademisi, dan sktor public. Para stakeholders ini dapat bersinergi mencari jalan mengatasi isu food waste di Indonesia.

We Don’t Have a Moment to Waste

Indonesia sudah punya komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang bersumber dari waste. Komitmen mengatasi krisis perubahan iklim ini membutuhkan massive government action untuk mengurangi food waste.

Memang, mengurangi food waste jelas tidak mudah. Perubahan kebiasaan belanja orang Indonesia dan meledaknya supermarket modern membuat over consumption menjadi hal wajar. Padahal kebiasaan ini berakibat fatal terhadap kecenderungan untuk lebih banyak menghasilkan food waste.

Seandainya aku pemimpin negeri ini, pemerintah akan bekerja bersama dengan semua lini: masyarakat sipil, industri, dan pendidik. Agar muncul solusi efektif yang dapat membantu orang-orang berhenti membuang makanan.

Makain banyak orang mindful dengan makanan, makin baik kondisi iklim dan bumi kita.

Generasi muda kita punya hak tinggal di planet yang punya masa depan. Bukan planet yang ada di ambang kehancuran.

So, yeah. Reducing food waste is definitely a winning policy to combat climate change in our country.


Disclaimer

Artikel ini diikutsertakan dalam I Love Indonesia Blog Competition

Copyright

Artikel: Marati Husna

Picture: Pixabay

1 thought on “Reducing Food Waste: 4 Strategi Policy untuk Melawan Perubahan Iklim”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!