Tentang Menerima

Currently, I was struggling to communicate difficult feeling toward my husband. I let my prejudice blind me. Sedikit-sedikit suami salah dan aku mudah sekali menjadi emosional (read: menangis, meledak marah, menghindar, sampai diam membatu). It did not happen for one or two days, but almost the entire week.

Semua perasaan senewen, gelisah, dan resah ini aku salahkan ke suami. Bukan keresahan untuk urusan agama dan akhirat. Tidak termasuk gelisah yang dirahmati lah. Aku  di titik yang nggak sadar kalau akar permasalahan adalah hati aku yang tidak mudah menerima dengan ragam kondisi yang terjadi.

Padahal kata seorang guru, fitrah hati seharusnya tenang, lapang, dan ridha. Ridha menerima ketetapan. Jika sudah skillful menata hati untuk menerima, hati akan lapang apapun kondisinya. Jika sempit pun hanya sebentar.

Pengaturan dan KetetapanNya

Ketika aku selalu berkata ketus dan bersikap menyebalkan sembari terus merapalkan mantra ‘betapa menyebalkannya suami’, aku tahu hati ini sedang bermasalah. Ini adalah buah dari hati yang belum skillful untuk menerima. Menerima dengan rela bahwa apapun yang menimpa kita (termasuk segala sikap dan kondisi yang melibatkan suami) adalah bagian dari pengaturan dan ketatapan Allah.

Tiada suatu musibahpun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Al Hadid : 22

Musibah itu kalau kata ustadz Adi Hidayat adalah apapun yang menimpa kita. Di Al Hadid 22, apa saja yang menimpa kita itu telah tertulis dalam Lauhul Mahfudz sebelum semua itu terwujud, jauh sebelum semua kondisi ini terjadi live di kita. Mudah sekali bagi Allah untuk mengatur dan menetapkan. Allah melanjutkan gimana kita harusnya menyikapi ketetapan ini di ayat selanjutnya.

How to Bravely Deal with His Arrangement?

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Al Hadid: 23

Agar kita nggak usah sedih atas apa yang luput terjadi. Tidak berlarut dalam kesedihan karena yang luput ini bukan rejeki kita. Tapi juga tidak terlalu gembira dengan ketetapab baikNya. Sekedar syukur aja. Bukan terlalu gembira yang ‘Ah ini karena ikhtiar-ku yang all out’ kemudian merasa hebat.

It’s Him, from The Smallest to The Greatest

Betapa banyak kondisi yang kita rencanakan matang tidak berakhir smooth. Mau ngeblog dan menyelesaikan naskah kemudian anak terbangun atau suami yang tidak kooperatif saat kita sedang ingin sekali dibantu.

Let’s go futher.Di dunia ini, betapa takdir dan nasib manusia bermacam-macam. Ada yang baik ada yang nestapa. Ada yang ditakdirkan miskin. Ada yang ditakdirkan sakit keras. Ada yang ditakdirkan ditinggalkan dan meninggalkan.

Berkaca dari Al Hadid 23, kita harus bisa menerima kondisi apapun yang kita hadapi. Kondisi yang merupakan ketetapan Allah. Kalau kita nggak sabar menerima, ke mana kita harus mengadu? Orang yang Allah takdirkan miskin lalu tidak menerima, kemana dia akan menuntut? Orang yang Allah takdirkan sakit keras lalu dia tidak menerima, ke mana dia akan mengadukan nasibnya? Orang yang Allah takdirkan pasangan hidupnya menjemput ajal terlebih dahulu lalu dia tidak menerima, ke mana dia akan menggugat?

Katakanlah Muhammad, “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Allah Pelindung kami dan kepada Allah orang-orang beriman bertawakkal.”

At Taubah: 51

Jadi tawakal pada Allah dan menerima takdir adalah bagian dari iman kita.

Yang berkuasa, paling punya power, mengatur nasib manusia hanyalah Allah semata. Kematian seseorang hanya Allah yang tetapkan. Juga hal-hal kecil yang kita hadapi sehari-hari Allah yang tetapkan. Apa saja yang kita terima sekarang dan yang kita jalani sudah ditetapkan demikian oleh Allah.

Menerima ini semua adalah urusan hati. Rela itu di hati.

Misalkan aja anak-anak lagi berantem berebut gadget saat kita sedang live mengisi conference call. Sebelum kita masuk jadi wasit, kita menerima dulu. “Ya Allah, hamba terima anak-anak lagi berebut gadget sekarang”.

Biar hati cepat terkendali menjadi lebih tenang. Jadi pas masuk ke anak itu kondisi kita tidak dengan sumbu menyala siap meledak. Kita mungkin takut dan khawatir suara ribut anak-anak ini mengganggu input suara dari kita. Then first thing first, kita harus terima dulu, “Saya terima ya Allah, saya terima”. Hati akan menjadi lebih tenang dan semua menjadi lebih mudah untuk dikendalikan.

Jadi menerima itu, untuk hal terkecil sampai terbesar.

Bagaimana Cara Menerima?

Indikator kita belum bisa menerima bagian dari takdir ataupun ketetapannya adalah ketika mengingat peristiwa atau seseorang kita akan langsung senewen dan langsung sedih. Misalkan teringat orangtua yang sudah meninggal. Wajar kalau ingat orangtua pasti sedih. Tetapi sedih yang menerima itu berbeda. Sedihnya sedih rindu dan langsung produktif mendoakan orangtua. Misalkan kita sedang marah mangkel senewen dengan perlakuan suami lalu anak kita lewat langsung kita bentak, itu berarti kita belum menerima perlakuan suami.

So, bagaimana caranya agar kita mampu menerima takdir?

1) Menyadari bahwa kita cuma hambaNya

Kita sangat lemah di hadapanNya. Semua keinginan dan kemauan kita hanya bisa diwujudkan oleh Allah, oleh Dia yang Maha Berkehendak.

2) Mengakui bahwa Allah-lah pengatur takdir terbaik.

Apakah mungkin manusia, seorang hamba, bisa mengatur takdir lebih baik dari Rabb-nya? Sedang kita hanya ciptaan.

Siapa yang lebih berhak atas kita? Allah, yang menciptakan kita.

Siapa yang lebih mengetahui yang terbaik untuk kita? Allah, yang tidak akan pernah sekalipun mendzalimi kita.

Dan sekali kali tidaklah Rabb mu menganiaya hamba hamba Nya

Fushshilat : 46

3) Meyakini SEKALI bahwa sifat Allah yang utama adalah Ar Rahmaan

Kita harus yakin sekali bahwa Allah itu Maha Penyayang. Di balik segala sesuatu, itu semua kasih sayangNya untuk kita. RahmatNya meliputi segala sesuatu, baik itu takdir kita maupun musibah kita.

Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu

Al A’raf : 156

4) Orientasi Akhirat

Hikmah belum tentu terbaca di dunia. Hakikat dunia hanya mengumpulkan bekal untuk akhirat, tempat pulang kita.

Sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu

HR. Tirmidzi

Apa yang bisa kita kerjakan, selain menerima dengan rela?

Membaca Hati untuk Menerima

Kadang-kadang kita marah sama mertua padahal kita lagi kesel sama anaknya. Belum ridha, belum menerima dengan perlakuan anaknya. Kadang kita kesel sama anak kita padahal kita sedang kesel sama bapaknya.

Kerasa banget gitu nggak sih ketika kita belum skillful mengelola rasa menerima hati, imbasnya bisa ke mana-mana. Lain bila sudah bisa menerima. Hati kita lapang. Hati kita lebih mudah membaca. Ini aku kesel kenapa ya? Ini kenapa ya, kok hati gelisah ya? Jadi kita bisa menuju state tenang lebih cepat dibanding saat kita belum menerima.

Menerima itu skill membaca dan menata kondisi hati, utamanya dengan jujur pada diri sendiri. Apakah kita sudah menerima apa yang Allah berikan? Menerima karena semua yang terjadi sudah pasti karena Allah izinkan. Hormati izinNya.

Bandingkan kita kita tidak menerima, lalu menggugat. Whe Me? Kenapa? Salah aku apa? Nggak bakal bisa membaca hikmah kalau start-nya kaya gini.

Terima aja. Semuaa diterima. Rela menerima. Laailaaha illaa anta, subhaanaka inni kuntu minadzdzaalimiin.

Kasih tahu hamba kalau salah Ya Allah. Kasih tahu Ya Allah, maaf ya Allah, hamba yang salah, hamba yang salah. Laailaaha illaa anta, subhaanaka inni kuntu minadzdzaalimiin.

Hamba terima ya Allah, hambar rela, hamba ikhlas ya Rabb. Laailaaha illaa anta, subhaanaka inni kuntu minadzdzaalimiin.

Menerima Diatur Rabb Kita

Tidak ada yang namanya kebetulan. Dia Maha Mengatur. Tidak ada yang tidak sengaja terjadi. Allah Rabb kita yang mengatur semua itu untuk kita.

Sesungguhnya milik Allah segala yg Dia berikan, dan milikNya lah semua yg Dia ambil, dan segala sesuatu di sisiNya sesuai dg ketetapanNya..

Enak kan ya kalau udah diaturin semuanya? J

Dari Abu Bakroh Radhiyallahu A bahwasanya Nabi Shallalahu Alaihi Wasallam bersabda,“Doa orang yang dirundung duka: Allahumma rahmataka arjuu fa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin wa ash-lihlii sya’nii kullahu laa ilaha illa anta. (Ya Allah, dengan rahmat-Mu, aku berharap, janganlah Engkau sandarkan urusanku pada diriku walau sekejap mata, perbaikilah segala urusanku seluruhnya, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau).”

HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad 5: 42

Doa ini kan justru meminta semua urusan kita Allah yang aturkan. Urusan suami, urusan anak, urusan apapun. Tetapi kita harus komitmen. Jangan pakai selera scandinavian home selalu rapi bersih minimalis dengan perabot produksi swedia harga fantastis kita. Jangan pakai nafsu kita lagi. Hehehe.

Memulai Menerima

Sekarang kita cek dulu. Diinget-inget banget. Masihkah ketika teringat orang atau peristiwa yang kita tidak suka, hati kita langsung goncang. Emosi naik. Kita langsung nangis. Berarti, kita belum menerima itu.

Kalau sudah menemukan hal-hal yang masih membuat hati kita goncang, segera akadkan untuk menerima. Hamba terima ya Allah. Hamba rela. Hamba ikhlas karena Engkau semata. Hamba maafkan peristiwanya. Hamba maafkan orangnya. Mereka bagian terbaik dari takdirMu. Takdir TERBAIK yang Engkau berikan untuk hamba.

Memaafkan karena makhluk itu susah. Tapi kalau memaafkan karena Allah, insyaAllah mudah.

Menerima suami kita dengan segala kekurangannya. Menerima orangtua kita. Menerima mertua kita. Menerima ipar kita. Menerima anak kita.

Menerimanya itu hanya di hati kok. Menerima kondisi sekarang aja. Ikhtiar fisik (tenaga dan pikiran) mah tetap harus jalan terus untuk upaya perbaikan.

Menerima Untuk Terlatih Tenang

Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai nabi dan rasulnya.

HR Muslim

Iman itu mestinya lezat. Takdinya nikmat.

Mereka yang ridha kepada Allah maka Allah pun meridhai mereka

al-Mujadalah: 22

Ketika pulang nanti, Allah akan memanggil hamba-hamba yang Dia cintai dengan panggilan jiwa yang tenang.

Hayu latihan tenang mulai dari sekarang. Hati akan tenang karena sudah bisa menerima dengan rela. Menerima dengan ikhlas karena Allah.

Sepertinya sulit membayangkan jiwa yang tenang kalau dari sekarang kita nggak ikhtiar latihan. Latihan menerima. Hehe.

Radhiitu billahi rabbaa. Wa bil islaami diina. Wa bi Muhammadin shallallahu Alaihi wa sallam. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Hayu upgrade, tingkatkan penerimaan dan pasrahnya kita pada Allah. Yakin pada Allah. Yakin pada kebaikanNya. Yakin pada pengaturanNya. Berserah pada Allah. Menerima yang sudah Allah atur.

Walaupun rasanyaaa hati belum mampu. Huhuhu. Mari kita niatkan dulu. Tekadkan dulu.

Jangan dulu tanya cara bersabar. Kalau belum lulus episode menerima.

Ambu Galuh Chrisanty

Allah Sayang Kita

Kita aja kalau memberikan anak sesuatu pasti senang kan kalau mereka terima? Ada saat ketika kita memberikan anak hadiah malah protes. Kita belikan atau siapkan dia makan dengan sepenuh hati malah nggak dimakan. Mirip siapa ya? (Saya). Dikasih takdir terbaik malah nggak mau menerima. Hayo  lho.

Rabb kita itu, Penyayang dari yang penyayang. Pengasih dari yang Pengasih. Yang menamakan diriNya Ar Rahmaan.

Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hati kamu akan meleleh karena cinta kepadaNya

Ibnul Qoyyim Al Jauziyah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.

Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami,

“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”

Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Apa pun takdir yang kita jalani, percayalah kalau Allaaah Maha Sayang. Sayang ke kita semua 🙂

Dear Allah,

inilah hamba ya Allah datang padamu. Hamba serahkan ya Allah tangan hamba kaki hamba pikiran hamba. Kuserahkan padaMu ya Allah. Gunakan ya Allah untuk sebaik-baik maslahat dunia akhirat. Gunakan untuk kebaikan ya Allah, hamba rela ya Allah. Kuserahkan padamu ya Allah. Tunjuki jalan yang lurus ya Allah. Gunakan untuk apa2 yg Engkau ridahi. Atur hamba ya Allah. Hamba terima ya Allah.

Laa haula wa laaquwwata illa billahi.

Aku titipkan anak padamu ya Allah. Bimbing hati mereka ya Allah. Tuntun langkah mereka menuju Jannah ya Allah. Aamiin.

Nggak papa ya Allah hidup capek dan hectic. Dunia memang tempat bekerja keras.

Nggak papa ya Allah banyak ujian. Ini kesempatan mendapat pahala sabar.

Nggak papa ya Allah. Tapi kasih rizqi yang banyaaak yaa Allah. Asal berkaaah dan melimpaah.

Hehehe. It’s okay buat bermesaraan dengan Allah. Selalu berprasangka baik. Berdoa yang baik. Berpikir yang baik. Berbicara yang baik. InsyaAllah Allah yang Maha Baik akan memberikan kita yang terbaik.

Tentang Menerima

Menerima itu demi ketenangan hati kita. Hati lapang menerima. Fisik tetap jalan terus, ikhtiar maksimal melakukan perbaikan karena Allah. Ikhtiar menjadi amal shalih dan hati menjadi tenang. Bisa menerima bahwa di hasil ikhtiar adalah ketetapanNya yang terbaik. Dengan menerima, kita akan ditolong Allah, selamat menjalani ketetapan apapun itu. Tenang menghadapi siapapun dan menyikapi apapun. Seperti hati calon penghuni surga saat berpulang nanti. Bukankah itu yang paling kita damba-damba?

Mari menerima, tenang, dan bahagia 🙂

All pictures credit by StockSnap from Pixabay

Tulisan ini adalah kontemplasi dari Majelis Bunda Hajar: Ridha Itu Menentramkan Jumat 14 Agustus 2020 oleh Ambu Galuh Chrisanti (Fasilitator HeBat Bogor Raya, Founder Saung Tahfidz Bintang Al Quran, dan Founder Sekolah Alam Balikpapan)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!