Wahana Diving: Menyelami Diri

Akhirnya, wahana terakhir di kelas Pra Bunda Sayang: Diving. Dari nama wahanyanya aja udah ketebak ya. Kita diajak menyelami diri sendiri. Diri ini itu orang yang seperti apa sebelum dan sesudah belajar di Institut Ibu Profesional. Apa yang sebebenarnya diri ini perjuangkan. Dan apa saja value-value pribadi yang sejalan dengan value Ibu Profesional.

Diri Ini Sebelumnya

Well, I am like the other general people. Mengikuti arus. Kuliah jurusan apa, apply kerjaan sesuai jurusan, kerja sesuai jurusan.

The good thing is, visi untuk stay di rumah fokus mengasuh anak dan me-manage rumah sudah aku pegang di awal. Jadi kondisi aku setelah menikah adalah sudah resign dan beneran fokus di rumah.

Masalahnya, aku tetap ingin self-upgrading dan berdampak di luar tapi kepengennya macem-macem. Buka kelas tahsin tahfidz lah, kerja remote lah, mau mulai bisnis lah, pengen punya blog cakep, pengen bisa nerbitin buku, pengen jago hand lettering dan ilustrasi, pengen ikut kelas masak ini itu, banyak deh hahaha. Endingnya semua nggak ada yang aku mulai lakukan karena merasa rutinintas kerjaan rumah nggak selesai-selesai.

Diri Ini Sesudahnya

Qadarullah, aku berhasil masuk kelas Matrikulasi Ibu Profesional saat hamil anak pertama. Ekspektasi saat ikut kelas adalah biar makin jago manajemen waktu, mendapat insight baru tentang parenting dan skill domestik, dan punya temen-temen baru yang sama-sama mau belajar bareng.

Ternyata, di kelas Matrikulasi ada yang namanya Talents Mapping untuk mencari tahu apa sebenarnya potensi kekuatan kita. Hal yang nggak pernah aku benar-benar serius untuk pikirkan. Yang aku tahu, kalau mau melanjutkan karir ya apply job sesuai jurusan. Kalau mau yang lain kita harus cari-cari lagi mau ngapain ya enaknya. Se-mengambang itu.

Semua langsung terasa bedanya setelah aku tahu pasti potensi kekuatanku apa. Visi misi hidup jadi jelas dan aku jadi tahu apa peran spesifikku di muka bumi. Dari sini baru berangkat ke urusan teknis seperti yang aku ekspektasikan di awal tadi.

Setelah tahu potensi kekuatanku, hidup jadi lebih tenang dan terarah. Aku fokus mau ngapain dan nggak gampang lagi kepengen macem-macem di luar fokus.

Apa yang Diri Ini Perjuangkan

Banyak hal yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh untuk menjalani peran spesifik di muka bumi. Tentunya ini menguras energi, fisik, pikiran, dan materi. Bisa menjadi babak belur ketika perjuangan mengerjakan peran ini semata-mata untuk obsesi dan kompetisi belaka. Obsesi berhasil mewujudkan peran sifatnya cuma kesenangan dan rasa puas sesaat. Dan kompetisi hanya melahirkan sifat membanding-bandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Di era media sosial ini, kompetisi antar moms terutama terasa banget. Cara mendidik, metode yang dipakai, pencapaian milestone anak, kondisi furniture rumah, pospak versus clodi, lahiran normal verus Caesar, WordPress vs Blogspot, sampai pencapaian-pencapain personal seperti si dia DA PA nya gede banget, si itu udah terbit buku solo laris pula jadi speaker sana sini, si ini sukses menghasilkan milyaran dari menulis. Menjalani peran untuk memperjuangkan obsesi dan kompetisi seperti ini seringnya bikin crangky dan melalaikan dari Allah.

Dan berlomba-lombalah kamu dalam meraih ampunan Allah dan surganya…

Al Hadid 21

Padahal Allah nyuruh kita untuk berkompetisi memperjuangkan kedua hal ini: ampunan dan surgaNya. Perjuangan menjalani peran untuk untuk obsesi kompetisi karena Allah nggak akan bikin mudah baper, nggak cepat jealous, dan nggak bikin dengki. Malah jadinya bikin kita saling support dan hati menjadi tenang. Prioritas kualitas dan kuantitas ibadah juga jelas jadi kunci hati tenang karena ibadah itu yang mendekatkan kita dengan Allah.

Ketika hubungan emosional kita intens dengan Allah lalu cinta Allah sudah kita raih, apalagi yang kita takutkan di dunia?

So, what I fight for is His forgiveness and Jannah. Demi hidup dunia akhirat yang tenang dan terarah.

Value yang Sama

Kenapa bisa sampai sekarang bertahan belajar di Institut Ibu Profesional adalah value personal aku sama dengan kerangka berpikir Ibu Profesional. Yang paling plek ketiplek dari kerangka berpikir itu adalah mampu mendidik dan mengembangkan anak dan hebat mengelola keluarga. Output dari kedua hal ini adalah akhlak mulia si ibu.

Sama dengan value aku selama ini. Aku percaya kalau ibu itu Al Madrastul Ula wa Rabbatul Bayt. Indikator keberhasilnya adalah aku menjadi ibu dan istri yang ngademin anak dan suami. Semoga bisa lahir sungguhan ibu dan istri berakhlak mulia bernama Marati Husna ya Allah.

Naik ke Permukaan

Sudah dulu menyelamnya. Saatnya kembali bersemangat bersungguh-sungguh menjalani peran dan belajar bersama ibu-ibu pembelajar kesayanganku. Semoga Allah ridhai dan mudahkan belajar di kelas Bunda Sayang. Aamiin allahumma aamiin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!