Get to Know Social Distancing and Self Quarantine Better

Sekarang Coronavirus telah menginfeksi ratusan orang di Indonesia. Akhirnya, setelah sekian lama, pemerintah menghimbau juga sekolah untuk libur dan para pekerja untuk work from home. Bermunculan kemudian di media sosial istilah-istilah baru seperti social distancing dan self quarantine untuk mengganti ungkapan stay at home alias tinggal di rumah. Apakah stay at home sama dengan social distancing dan self quarantine? Kenapa social distancing dan self quarantine digadang-gadang sebagai langkah paling efektif untuk menekan penyebaran Coronavirus dan melindungi kita dari COVID19? Apa sebenarnya arti dari social distancing dan self quarantine?

Social Distancing

Social distancing adalah membatalkan atau menghindari segala bentuk acara dan kegiatan yang berpotensi mendatangkan kerumunan orang banyak. Bahasa mudah dari social distancing adalah menghindari kerumunan. Salah satunya dengan menjaga jarak sekitar 2 meter dengan orang lain. Menurut Lisa Maragakis, senior director of infection prevention di Johns Hopkins, social distancing dapat mengurangi bahkan menghentikan penyebaran COVID19 secara signifikan.

Premiere League dan UEFA sudah mencontohkan social distancing sebelumnya dengan membatalkan seluruh pertandingan. Barcelona vs Napoli sempat tanding sebenarnya tanpa penonton, tapi akhirnya rugi karena nggak ada income dari tiket pertandingan. Pembatalan pertandingan ini awal-awal kemarin bikin Pak Suami kecewa banget. Hiburan mingguannya hilang sudah hehe. Tapi kita makluminlah demi Coronavirus yang nggak makin menyebar.

Kita juga bisa melakukan social distancing sendiri tanpa harus nunggu pemerintah melakukan lockdown atau penyelenggara membatalkan acara. Ini dia contoh-contoh social distancing versi aku, mamak satu bayi.

1. WFH atau Work from Home

Blogger itu defaultnya emang kerja di rumah. Namun ada beberapa job yang mengharuskan kita untuk datang menghadiri acara, seperti Forest Cuisine Blogger Gathering kemarin. Selama social distancing, bener-bener nahan diri buat nggak ikutan project atau campaign macem product launching dulu (padahal fee-nya suka lumayan kalau event gini hehe).

2. Nggak Mudik

Menahan diri dulu buat nggak ketemu keluarga di kampung halaman. Mengingat rentetan transportasi publik dengan kerumunan orang banyak yang harus dihadapi. Apalagi bawa bayi. Belum ditambah fakta kampung halaman berdekatan dengan kota yang sekarang sudah Zona Merah COVID19. Makanya akhir-akhir ini jadi makin sering dan lebih suka video call aja dulu sama orangtua dan saudara-saudara daripada ketemu langsung.

3. Menunda Imunisasi

Baby M biasa imunisasi di Posyandu yang seringnya lebih ramai dengan ibu-ibu kader. Jadi untuk sementara, pemberian imunisasi aku tunda untuk social distancing-nya baby M. Apalagi dr Arifianto juga merekomendasikan untuk menunda imunisasi semenjak Coronavirus beredar. Alhamdulillahnya masih sempat imunisasi campak seminggu sebelum himbauan stay at home (juga peniadaan sementara Posyandu) beredar. Bersyukur juga beberapa RSIA di Jakarta hanya menerima ibu dan bayi yang sehat. Pemeriksaan pasien sakit masih bisa dilakukan via aplikasi Zoom, seperti di RSIA Bunda Jakarta.

4. Shalat di Rumah

Ini yang paling bikin sedih. Baru sebulanan mulai rutin ajak baby M shalat jamaah di masjid. Progresnya mulai dari dia yang nangis karena belum biasa dengar suara dari speaker sampai yang akhirnya nyaman dan tenang banget nemenin Ummanya shalat di masjid.

5. Nggak ke Kondangan Apalagi ke Mall

Ini adalah bentuk menghindari kerumunan yang urgensinya paling kecil untuk kita harus datang. Ke masjid aja udah enggak, I couldn’t let myself coming to other unnecessary crowds. Sedihnya (sedih terus daritadi), Pemkot Bogor masih enggak melarang masyarakat untuk ke resepsi pernikahan. Social distancing memang punya resiko kerugian dana yang tinggi mengingat acara yang digelar pasti mengundang banyak orang. But public health reason should come first and foremost, economic can come later. Ya kan? (hiks)

“Udah nggak papa, pergi aja yuk. Kan bisa pakai masker biar nggak ketularan”.

Sorry to say, it is not Babe.

Pakai Masker di Kerumunan Bisa Cegah Kita Tertular COVID19?

Sadly (again), it is a myth. Faktanya, hanya masker profesional dengan model respirator yang fit dan ketat seperti N95 aja yang bisa melindungi dari penularan. Masker N95 biasa dipakai oleh tenaga medis saat merawat pasien yang terinfeksi.

Masih menurut Ibu Direktur Infection Prevention di John Hopkins, masker bedah disposable yang sekarang harganya gila-gilaan itu tidak direkomendasikan bagi publik yang sehat untuk mencegah penularan. Soalnya kita sendiri kalau model masker bedah disposable nggak tight. Masih ada celah yang memungkinkan percikan dahak atau air liur orang yang terinfeksi masuk ke hidung, mulut, atau mata kita. Apalagi kalau Coronavirus ternyata sudah ada di tangan, lalu tangan itu ikut menyentuh area wajah di bawah masker. Game over.

Idealnya, hanya orang sakit aja yang harusnya memakai masker. Dengan tujuan utama mengurangi resiko penularan penyakit. Jadi kalau sakit, tolong pakai masker bedah ya. Karena lapisan luar masker ini waterproof sehingga mencegah droplet penyakit dari kita kena ke orang lain. Lapisan bagian dalam masker yang absorber juga ikut menangkap percikan dahak dari kita biar nggak kemana-mana. Makanya orang sakit direkomendasikan pakai masker bedah, bukan masker kain. Masker kain berfungsi baik hanya untuk melindungi dari debu, bukan mencegah keluar masuknya droplet

Sayangnya, masih banyak orang yang belum mengerti etika untuk memakai masker saat mereka sakit. Makanya wajar kalau akhirnya banyak juga orang sehat langsung face mask panic buying demi nggak tertular Coronavirus. Padahal kalau stok di pasaran menipis, yang paling kasihan ya orang sakit dan tenaga medis yang emang butuh pakai masker.

Sebagai orang sehat, lebih make sense untuk social distancing kalau emang nggak pengen ikut terinfeksi. Daripada nimbun masker tapi masih juga main ke kerumunan. Udah dzalim ke yang beneran butuh, ditambah fakta memakai masker disposable tidak bisa mencegah kita tertular COVID19.

Self Quarantine

Orang-orang dengan riwayat pernah terpapar Coronavirus, sebaiknya melakukan self-quarantine. Seperti Ibu Menkeu Sri Mulyani, beliau melakukan self-quarantine setelah sebelumnya ada kontak dengan Pak Menhub Budi Karya Sumadi yang positif terinfeksi Coronavirus. Atau seperti orang yang baru pulang dari luar negeri. Atau seperti kita sekarang. Orang yang terinfeksi Coronavirus bukan cerita dari jauh lagi, mereka sudah ada di tengah-tengah kita. Kita sudah termasuk dari bagian orang yang seharusnya melakukan self quarantine.

Self quarantine sebaiknya berlangsung selama 14 hari. Jeda dua minggu ini memberikan kita waktu untuk memastikan apakah kita benar-benar sehat atau menuju sakit yang punya potensi menginfeksi orang lain.

Jadi, self quarantine itu ngapain aja?

1. Stay at Home

Literally diam di rumah aja. Alhamdulillah pemerintah sudah menghimbau untuk stay at home selama 14 hari per Senin 16 Maret 2020 kemarin. Ini akan memutus rantai penularan if only everyone really stay. Nggak akan ada gunanya misal di hari ke 10 kita memutuskan untuk jalan-jalan ke mall. Di akhir masa self quarantine, kita mungkin tidak sakit tapi kita bisa menjadi carrier alias pembawa virus yang menularkan COVID19 kepada orang lain yang rentan. Nau’udzubillah.

2. Cuci Tangan, Cuci Tangan, Cuci Tangan

Lakukan selalu sanitasi sesuai standar higienitas. Cuci tangan itu wajib saat baru masuk rumah, selesai buang air, dan sebelum makan.

Aku lebih suka cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir karena emang lagi di rumah aja. Sabun juga bisa dipakai berkali-kali. Tidak seperti Hand Sanitizer yang apabila sudah dipakai 5 kali kita harus cuci tangan lagi dengan sabun untuk mencegah resistensi antiseptik. Residu kuman juga bisa larut dalam air yang mengalir saat kita mencuci tangan. Jadi tidak akan ada kuman mati tertinggal di tangan kita. Kandungan antiseptik sabun juga cenderung ‘selalu ada’. Berbeda dengam alkohol yang mudah menguap sehingga kandungan antiseptiknya bisa rusak. Sebaiknya memang gunakan Hand Sanitizer hanya jika nggak ada tempat cuci tangan, sabun juga nggak ada, dan sedang bepergian.

Oiya pastikan juga kita mencuci tangan selama 20 detik ya. Langkah-langkah cuci tangan yang benar agar bisa 20 detik bisa cek di sini.

3. Tidak Sharing Handuk dan Alat Makan

Gunakan handuk dan alat makan masing-masing. Ingat kalau handuk dan alat makan mengandung air dari mulut, hidung, dan mata kita. Kalau sharing, kebayang kan ada kontak langsung yang bisa jadi menularkan virus

4. Tidak Menerima Tamu

It is clear that in term of language, self quarantine berarti mengkarantina diri sendiri. Please do not have visitors then. Tegaslah untuk self quarantine. Bisa kok dibicarakan baik-baik saat menolak orang yang mengabarkan akan mengunjungi kita. Not having visitors is the least we can do to protect you and your family from COVID19.

5. Jaga Etika Batuk dan Bersin

Walaupun sudah stay di rumah dan rajin mencuci tangan, melakukan etika bersin batuk dengan benar tetap wajib kita lakukan jika sedang sakit. Seperti menutup mulut dan hidung saat bersin di lipatan lengan dekat siku atau dengan tisu yang lalu dibuang ke tempat sampah tertutup.

Well, Jadi Self Quarantine adalah Isolasi Kan?

Beda. Isolasi dilakukan oleh orang yang positif telah terinfeksi. Self quarantine masih bisa kita lakukan di rumah sendiri bersama keluarga. Sedangkan isolasi means you are all alone by yourself.

Conclusion

So yes, stay at home adalah bentuk self quarantine dalam upaya kita juga untuk disiplin social distancing. Make sure you do stay at home unless it is for grocery or other urgent matters. Bear in mind, apakah urusan di luar rumah itu lebih urgen daripada keselamatan kita sekeluarga? COVID19 is pandemic and spreads rapidly day by day. Now we know we can help by social distancing and self quarantine, why don’t just do those practices?

COVID19 memang pandemik. Berita baiknya, setiap kita punya kesempatan mengurangi laju penularan dan flattening the curve, dengan serius melakukan social distancing dan self quarantine.

Semoga Allah melindungi kita semua.

References:

https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/coronavirus-social-distancing-and-self-quarantine

https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/2019-novel-coronavirus-myth-versus-fact

https://m.tribunnews.com/superskor/2020/03/10/breaking-news-barcelona-vs-napoli-liga-champions-digelar-tanpa-penonton

https://kaltim.tribunnews.com/2020/03/12/resmi-liga-europa-ditunda-akibat-virus-corona-inter-milan-dan-as-roma-batal-hadapi-wakil-spanyol

https://www.liputan6.com/bola/read/4202503/3-solusi-jika-liga-inggris-kembali-berlanjut-liverpool-batal-juara

https://www.kompas.tv/article/71457/begini-kebijakan-kementerian-keuangan-hadapi-wabah-virus-corona

https://nasional.tempo.co/read/1320412/3-fatwa-mui-jika-pandemi-corona-tak-terkendali/full?view=ok

24 thoughts on “Get to Know Social Distancing and Self Quarantine Better”

  1. OMG Mbak.. Not having visitors ini kok dilema yahh,, kami kemarin sore baruu aja nerima tamu. Si tamu ini bosnya suami di kantor, mau ditolak gak enak, hadewwww

    1. Kondisi ideal itu emang beda sama realita lapangan ya mbaa. Kalau bos yang dateng, suami aja yang interaksi. Kita sama anak jaga jarak. Do what we can do aja dulu. InsyaAllah jadi ikhtiar yang baik 🙂

    1. Keluarga malah bisa dibicarain baik-baik, kan saling jaga judulnya. Kalau menurut aku mau siapa aja yang berkunjung, lihat urgensitasnya. Misal mau main aja, kan bisa diagendakan kapan-kapan lagi 🙂

  2. Dengar di berita katanya pemberlakuan social distancing sudah dihapuskan,tapi apa benar begitu, ya ?.

    Meski begitu, tetap saja ketakutan masih ada karena penyebaran virus covid-18 sangat cepat.
    Dan ada baiknya, kita semua kurangi dululah hobi jalan-jalan.

  3. Semoga musibah ini cepat berlalu. Ingatkan untuk terus bersosialisasi pentingnya melakukan pekerjaan di rumah dan menikmati kebersamaan bersama keluarga

  4. Awalnya sulit melakukan social distancing seperti tidak bersalaman bila bertemu orang, menjaga jarak dan sampai tidak terima tamu di rumah? Wah, kesannya wabah ini bikin kita jadi seperti anti sosial ya? Semoga segera bisa teratasi dan semua berjalan dengan normal.

  5. Berhubung keluarga dekat rumah, tamunya paling keluarga aja. Aku ke luar rumah untuk urusan urgent, cari bahan makanan, tapi mereka yang saya temui di luar masih banyak yang cuek aja ke mana-mana, anak-anak masih bebas berkeliaran di luar. Anakku pengen main bentar pun ke rumah neneknya, kuajak pulang lagi. Banyak yang ke luar rumah enggak pakai masker pula. Berpikirnya kalau sakit baru pakai masker, duh apa lagi ini.

  6. Tidak menerima tamu nih yang masih beraaat. Karena tidak ada pengertian dari si tamu. Tetiba saja ada sedulur yang datang. Bingung ngusirnya.

  7. Di kampung halamanku, Magetan, udah banyak banget yang mudik. Padahal di sana sendiri sudah zona merah. gak tahu lagi aku kudu marah atau prihatin. Kebayang ortu di sana dan gak bisa pulang. Sedih, khawatir dan marah sama orang2 yang nggak mikirin keselamatan orangtua di kampung halaman.

  8. Kalau lihat di sekitar rumah saya di depok, sudah sepi. Sedih tapi di saat yang sama itu bentuk kepedulian ke diri dan sesama juga. Semoga wabah ini cepat berakhir ya mba

  9. Semakin hari jumlah kasus virus Corona semakin meningkat, sepertinya gaung social distancing awalnya banyak yang belum paham sehingga diluaran banyak yang masih menganggap biasa.
    Semoga kondisi ini segera teratasi dengan baik dan kita terlindung dari penyakit ini. Aamiin.

  10. Hingga saat ini masih banyak jg yg abai. Contohnya di kotaku. Masih ada yg curi2 buat keluar bhkan utk hal yg gak terlalu penting. makanya tidak heran, angkanya selalu naik. bahkan sekarang sdh sampai 1000an lebih

  11. Ulasannya lengkap banget mba. Penting buat edukasi masyarakat nih..
    Btw, aku juga menunda imunisasi buat anakku. Tapi belum Konsul dengan bidan nih… Semoga kita semua senantiasa sehat ya mba

  12. yang masih saya takutkan mbak, orang-orang di tempat saya masih santai, bahkan ngajakin besuk ke rumah sakit famili yang baru melahirkan. duuh gimana ya nolak nanti dikira gak mau bermasyarakat dan bahkan cenderung di ejek karena takur corona, pergi kok ya takut. Udah dikasih tahupun masih menyepelekan hiks

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!