Traveling Story to Baitul Maqdis

Janganlah kalian memaksakan (berusaha keras) menempuh perjalanan jauh kecuali menujui ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjid Al Haram, dan Masjid Al Aqsha.

(HR. Bukhari no 1115 dan Muslim no. 1397)

Do you have Palestine as you bucket list for traveling abroad? Ever wondered sebenarnya situasi Baitul Maqdis aka Masjid Al Aqsha kaya gimana? I found myself lucky to have Bu Rahmadiyanti Russdi shared her traveling story to Baitul Maqdis.

Cerita travelling beliau ditayangkan live 26 Oktober kemarin di acara Grand Opening AAW 2020. AAW atau Al Aqsha Awareness Week ini diadakan oleh Smart 171 (bacanya satu tujuan yaa).

Bu Rahmadiyanti Russdi, atau yang akrab disapa Bu Diyan, adalah traveler yang sudah menjejak 40 negara di 4 benua. MasyaAllah yaa. Beliau juga sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Tulisannya banyak dimuat di berbagai media, pernah menjadi redaktur majalah Annida, marketing and communication di Noura Book, dan sekarang menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena.

For your information, perjalan Bu Diyan ke Baitul Maqdis ini adalah sebagai wisatawan ya. Bukan sukarelawan. Acara traveling ini juga sekaligus memenuhi keinginan ibu beliau agar anaknya menjejak tanah suci ketiga, kiblat pertama umat muslim

Rachel Corrie

Baitul Maqdis atau Al Aqsha memang milik muslim. Dan udah seharusnya kita perjuangkan.

But out there, banyak para non-muslim melihat penjajahan Israel di Palestina ini harus dihentikan. Salah satunya adalah Rachel Corrie.

Bu Diyan membuka cerita dengan mengingatkan kita kembali, ada gadis muda yang tewas karena membela Palestina. Rachel dibuldozer oleh tentara Israel karena menghadang eskavasi perusakan rumah warga. Salah satunya ada rumah dokter juga yang akan dibuldozer. Rachel masih sempat dirawat tapi hanya bertahan beberapa hari sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Gimana dengan kita, what we have done so far? Why Palestine is that matter?

Baitul Maqdis, Tanah Para Anbiya

Menjejak Palestina harusnya menjadi impian kita sebagai umat muslim. Karena hampir setengah nabi dan Rasul menjejak di Palestina. Ibrahim, Luth, Ishak, Yakub, Yusuf, Ayub, Musa, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa, dan Muhammad.

This is an epic reason why we must visit Baitul Maqdis. Semoga Allah beri kesempatan  kita juga ya in the future.

Itinerary

Bu Diyan menghabiskan jalan-jalan ke Palestina ini selama 4 hari 3 malam. Berikut kota dan tempat yang beliau kunjungi.

Jericho. Pintu masuk ke Palestina dari border Yordania

Baitul Maqdis/ Al Quds/ Yerussalem. Tujuan utama travelling di Palestina.

Al Khalil/ Hebron. Kota yang dimatikan oleh Israel secara struktur, sistematis, dan massif.

Jaffa. Kota dekat ibukota Israel, Tel Aviv, yang sejak 1948 dijajah Israel. Perebutan wilayah ini membuat 60.000 penduduk asli which is warga Palestina terusir. Dulu ada puluhan hingga ratusan masjid di Jaffa. Sekarang hanya ada 3 – 4 masjid. Masjid-masjid itu kebanyakan dirubah menjadi diskotik. Note that now ibukota Isrel sudah pindah ke Yerussalem karena normalisasi.

Tiberias. Just stopped by. Kata Bu Diyan mampir aja mengingat hadits tentang kiamat yang tidak akan datang sebelum danau di Tiberias airnya menyusut.

Masjid Al Aqsha yang Sepi

Menurut Bu Diyan dari awal ketika sampai di Al Aqsha, langsung terasa kepongahan Israel. Bagaimana para wisatawan harus menunggu ber jam-jam untuk masuk border. Banyak hal yang disuruh guide seperti mematikan media sosial sampai uninstall beberapa app.

And for the important note, kunjungan di Al Aqsha rasanya beda jauh dengan Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Bu Diyam merasakan betapa ramainya Masjidil Haram. Kondisinya ramai sekali sekalipun sedang tawaf dini hari. Seperti tidak ada habisnya.

Berbeda dengan Al Aqsha yang sepi pengunjung. Well, masjid Al Aqsha memang memiliki pengunjung. Tapi kalau dibandingin dengan Makkah Madinah, Baitul Maqdis sangat-sangat sepi.

Masjidil Aqsha sebenarnya merupakan sebutan komplek masjid. Masjidnya sendiri bernama Jami’ Al Aqsaha atau masjid Qibli yang berada di dalam kompleks Masjid Al Aqsha. Di mana Rasulullah memimpin shalat 124.000 Nabi dan Rasul sebelum Mi’raj.

Masjid Qibli memiliki kapasitas 5000. Bu Diyan shalat Dhuhr dan Ashar hanya beberapa kali di sana.Tapi kalau Subuh setiap hari selalu berjamaah. Dari kapasitas 5000, hanya beberapa shaf saja yang terisi. Tidak sampai 100 orang.

antrian masuk masjid yang dikawal tentara bersenjata

Hal ini karena larangan masuk masjidil Aqsha oleh pemerintah Israel, dengan semena-mena sesuka mereka. Yang boleh masuk hanya yang berusia di atas 50 tahun. Pemuda warga Palestina hanya boleh masuk shalat masjid saat hari raya.

Makanya setiap waktu Subuh muslim Palestina yang mengantre biasanya kakek-kakek.  Kata Bu Diyan, mereka memang selalu antre menunggu gerbang masjidil Aqsha dibuka. Jam 4 subuh antre lalu jam 4.30 baru gerbang dibuka. Gerbang masuk antrian masjid selalu dijaga 4 – 6 orang tentara Israel bersenjata lengkap.

Tentara Israel dan Syal Palestina

Bu Diyan juga pernah pakai syal Palestina Indonesia saat antre lalu diusir nggak boleh masuk masjid. Kejadiannya di malam terakhir travelling. Waktu itu Bu Diyan agak terlambat karena harus mengurus ibunya.

Memang terlambat datang mengantre tapi belum masuk waktu shalat subuh. Jamaah sudah banyak yang masuk ke dalam. Bu Diyan berdua saja bersama temannya.

Melihat syal Palestina Indonesia terlilit di leher, mereka berdua langsung dihadang tentara Israel. Langsung ditanya, “ Dari mana, pakai apa?”. Bu Diyan jawab saja, “Dari Indonesia dan ini syal Palestina Indonesia.”

Tentara Israel langsung tidak membolehkan Bu Diyan dan temannya untuk masuk. Bu Diyan coba persisten dan menanyakan kenapa mereka dilarang masuk. Tentara Israel menolak hanya karena Bu dian memakai syal Palestina.

Tadinya Bu Diyan mau coba ngotot dan marah. Tapi khawatir kena imbas ke warga Palestina. Dalam hal ini guide-nya.

Alhamdulilahnya, mereka ditolong seorang kakek warga Palestina. Kakek tersebut menawarkan untuk menyimpan syal Bu Diyan.

Setelah syal aman disimpan kakek itu, Bu Diyan mencoba lagi masuk ke masjid. Bu Diyan dan temannya lalu diperiksa. Tas dibongkar sampai bawah tapi syal udah ngga ada kan. Akhirnya Bu Diyan pun diperbolehkan masuk.

Trivia: Tentara Israel nggak suka dengan simbol eksistensi Palestina.  

Al Aqsha Sepi Tapi Hidup

Walaupun sepi, ada sekitar ratusan jamah dari wisatawan muslim tetap datang mengunjungi Al Aqsha. Di dalam masjid tetap marak majelis ilmu. Masih banyak yang menghidupkan Masjid Al Aqsha.

Ada juga Kakek Muhammad yang datang setiap pagi. Kakek ini selalu membawa teh susu setiap untuk para jamaah. MasyaAllaaah gimana dengan tabungan kebaikan kita (eh aku maksudnya) untuk masjid ya? Huhu.

Tembok Ratapan

Tembok Ratapan adalah tempat ibadah kaum Yahudi yang sangat ramai. Ada masjid Burqa di belakang tembok ini. Tempat rasul menambatkan buroq. Dari paparan guide, sebenarnya kiblat yahudi sama dengan Al Aqsha.

Mengutip dari gazamedia, pemukim Israel sering menyerbu Al Aqsha untuk beribadah. Klaim mereka Al Aqsha juga hak mereka untuk ibadah. Padahal dari tahun status quo 1967 hanya muslim yang boleh. Tapi sekarang ada normalisasi, status ini jadi terancam berubah juga.

Intinya banyak kasus sekelompok Yahudi memaksa masuk Al Aqsha. Padahal warga Palestina banyak yang tidak boleh masuk tapi dengan tuduhan macam-macam yang mengada-nganda.

Masjidil Aqsha Terus Dihancurkan

Israel ingin mebangun kembali klaim mereka terhadap Al Aqsha. Karena meyakini Baitul Maqdis adalah tempat berdirinya Haikal sulaiman.

Banyak data mendukung fakta dari upaya penghacuran AL Aqsha. National Geographic (12/2019) membuat laporan eskavasi Israel di sekitar Al Aqsha dengan dalih penggalian arkeologi. Padahal mereka membangun sinagog di bawah masjid al aqsha. Itu menyebabkan rumah-rumah warga Palestina di atasnya hancur. Dengan segala lini, Yahudi mereka berusaha menguasai masjid Al Aqsha.

Al Khalil, Kota Mati

Al Khalil berlokasi 35 km dari Al Quds, Yerussalem. Merupakan kota kedua terbesar di tepi barat Palestina.

Kondisi kota ini lebih menyedihkan. Hampir semua toko, usaha, rumah warga Palestina yang dekat dengan masjid Ibrahim (masjid yang di dalamnya ada makam Ibrahim, Sarah, Yakub dan Istri, dan Ishak) tidak boleh beroperasi. Jalan Shuhada, pusat perekonomian al Khalil, juga sudah ditutup. Sebagian jalan sengaja dirusak. Pagar berduri dipasang membatasi masjid Ibrahim dan pemukiman.

Sudah 20 tahun kota ini dikunci dan dimarjinalkan palestina. Tujuannya agar warga palestina menyingkir dan Israel menguasai kota tersebut.

Bu Diyan cuman sebentar di sana ngga sampai setengah jam aja saking sepinya. Seperti kota mati. Karena sebentar juga akhirnya ngga foto-foto banyak seperti di Al Aqsha.

Alhamdulillah ada banyak booth donasi. Mungkin karena banyak wisatawan dan muslim yang datang dan ingin menyumbang.

Karena warga dilockdown, mereka nggak bisa kemana-mana. Warga dan anak-anak setiap hari biase antre untuk makanan yang seringnya sup encer saja. Huhuhu.

Al Khalil dijadikan seperti Gaza. Juga sebagai prototype untuk Al Quds. Sangat terbuka kemungkinan nanti Al Aqsha kita juga menjadi seperti ini.

Sekarang saja masjid Ibrahim sudah dibelah dua. Setengahnya menjadi sinagog.

Kalau kita tidak terus berjuang untuk membebaskan Al Aqsha dan Palestina, nasibnya akan sama seperti Al Khalil dan masjid Ibrahim.

Jangan Kasih Kendor

Terus gemakan pembebasan palestina. Al Quds adalah kita.

Banyak yang melakukan disinformasi dan misinformasi tentang Palestina dan Al Aqsha. Tugas kita adalah berusaha meng-counter. Apalagi sekarang, siapa saja bisa jadi influencer. Sudah sejauh mana kontribusi media sosial kita meng-counter informasi yang salah dan membela Al Aqsha?

Lakukan yang kita bisa, sesuai kapasitas. Ada budget dan kesempatan, prioritakan datang ke Al Aqsha menyapa saudara-saudara kita di sana.

Rihlah ke masjid al aqsha adalah kewajiban.

Khatib Masjid Al Aqsha

Baitul Maqdis, Jauh di Mata Dekat di Hati

Gimana, udah pengen aja atau pengen banget rihlah ke Al Aqsha? Semoga cerita traveling ini jadi pengingat walaupun jauh dan sedang pandemi, perjuangan untuk Al Aqsha tidak boleh mati.

Oh and also, semua footage traveling Bu Diyan ke Baitul Maqdis juga bisa dinikmati di sini ya. Selamat travelling virtual ke Palestina!

Allahummanshurnal ikhawnal muslimiina fii filishthiin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Join The List

Sign up and be the first to know about new articles, freebies, giveaways, and more!